Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
37. The past in the past, let it go



“Jadi pengaracara itu pacarnya Anggi? Tapi kenapa Anggi tidak pernah posting foto bareng pacarnya ya? Hmmm … jangan-jangan ini hanya untuk menepis issue hubungan Anggi sama BS?”


“Pantesan akhir-akhir ini postingan Anggi beda banget sama yang dulu-dulu, pacarnya sekarang sepertinya dari kalangan biasa makanya Anggi jadi terlihat lebih sederhana.”


“Foto itu dua tahun lalu, artinya BS mantannya Anggi? Terus BS korupsi sekarang karena mau balikan lagi sama Anggi gitu? Aduuh, gagal paham deh.”


“Sudah curiga dari awal kalau ini hanya pengalihan issue dari kasus korupsinya BS, biasanya kan seperti itu. Bahkan katanya sampai ada artis yang dibayar untuk membuat sensasi demi pengalihan issue yang menjerat para pejabat. Pokoknya semangat Anggi!!!”


Bentari menghela napas membaca komentar para netizen setelah beberapa hari setelah konferensi pers itu pro dan kontra masih terus terjadi, tapi untungnya sebagian besar sudah mulai percaya kalau berita-berita yang tersebar tentangnya tidak benar.


“Tidak usah dipikirkan.” Bentari menoleh ke samping dimana Oka duduk dengan toples berisi keripik pisang di pangkuannya, matanya fokus manatap series CSI di televisi. “Nanti juga mereka berhenti sendiri.”


Bentari menghela napas berat.


“Apa salah aku sama mereka yang menghujatku? Mereka tak mengenalku, tapi kenapa mereka dengan mudahnya menghujatku hanya karena sebuah kebohongan? Dan apa salahku terhadap mereka yang menyebar kebohongan tentangku itu?”


“Tidak perlu dipikirkan mereka yang menghujat kita, hanya membuang-buang waktu saja. Biarkan saja mereka menghujat kita tanpa sebab, lumayankan dosa kita ditransfer ke mereka. Nah, kalau yang menyebarkan hoax itu kan ayah sama beruang kutub bilang kalau ternyata mereka adalah buzzer yang dibayar untuk pengalihan issue kasus korupsi.”


Andi Santoso memberitahu mereka kalau Birendra telah menemukan indikasi adanya buzzer bayaran untuk menggiring opini publik dalam pengalihan issue kemarin.


“Tapi kenapa aku? Aku buka siapa-siapa? Aku bukan selebritis? Kenapa aku?”


Sering kali Bentari mendengar tentang pengalihan issue ini dan beberapa teman artisnya penah menjadi korbannya, bahkan memang ada artis yang biasa menebar sensasi dibayar untuk melakukan itu. Namun dia tak pernah membayangkan sekalipun dalam hidupnya kalau dia akan menjadi salah satu korbannya.


“Karena kebetulan Kakak ada di waktu dan tempat yang salah. Di foto itu hanya Kakak yang dianggap publik figure, yang dikenal banyak orang, yang kebetulan adalah anak pengusaha juga. Jadi aku sih bisa baca skenario kalau sampai berita itu bergulir semakin besar … ayah yang akan menjadi sasaran mereka.”


“Ayah? Kenapa ayah?”


“Karena kakak dan ayah adalah sasaran empuk untuk menutupi kasus korupsi itu. Bisa dibayangkan mungkin kalau ini semakin besar, mereka akan menargetkan ayah dan BUMI untuk menjadi sasaran, mereka hanya tinggal menyewa beberapa orang untuk pura-pura sebagai pemilik dari tanah yang dirugikan oleh BUMI, atau bahkan mereka tinggal berdemo di proyek BUMI saat ini dengan berbagai spanduk yang menyudutkan BUMI.”


Bentari terdiam mengerti arah pembicaraan Oka.


“Saat ini sangat mudah untuk mengumpulkan massa, tinggal kasih uang 50.000 plus nasi kotak saja mereka rela untuk ikut demo tanpa tahu untuk apa demo itu dilakukan. Dan kakak bisa bayangkan wartawan akan melahap umpan itu tanpa ampun, disatukan dengan berita tentang kakak, maka … boom! Berita itu akan meledak, menenggelamkan kasus korupsi yang tengah terjadi.”


Tubuh Bentari meremang, merasakan dingin yang menakutkan membayangkan ayahnya yang selama ini telah bersusah payah membangun usaha dari nol akan hancur karena sebuah berita bohong. Dan itu karena dirinya … karena dia yagn salah bergaul.


“Sudah, Kak, tidak perlu dipikirkan lagi yang penting semua sudah baik-baik saja. Untungnya ayah menyadari ini lebih awal jadi ayah bisa langsung mengatasinya sebelum semua benar-benar semakin besar.”


“Bukan ayah yang menyadari hal ini.”


Bentari dan Oka menatap ke arah suara dimana Andi Santoso berdiri dengan sosok Birendra yang berdiri di sampingnya membuat Bentari langsung berdiri. Untuk sesaat Bentari terdiam seolah tak percaya kalau Birendra ada di hadapannya.


Kekasih … itu yang pria itu ucapkan ketika konferensi pers beberapa hari lalu, dan kini ‘kekasihnya' itu berdiri dengan muka datar tanpa ekspresi seperti biasanya. Melihat hal itu membuat Bentari menyadari kalau ucapannya kemarin memang hanya sebuah skenario belaka.


“Bukan ayah yang menyadari kalau kamu akan terseret dalam kasus ini, tapi Birendra yang menyadari hal itu,” ucap Andi Santoso sambil kembali berjalan ke ruang tamu diikuti Birendra.


“Kak!” Oka menghentikan Bentari yang akan berjalan ke depan. “Jangan cepat luluh sama si beruang kutub!” Oka berkata dengan wajah serius membuat Bentari perlahan mengangguk.


“Tenang saja, kakak sudah membentengi hati kakak.”


“Ckkk! Membentengi, tapi tadi lihatnya sampai terpesona gitu!”


“Masa sih? Kelihatan ya?”


“Tuh kan!” ujar Oka kesal.


“Ingat, jangan cepat luluh!”


“Iya, cerewet!” bisik Bentari sambil memutar bola matanya menghadapi adik yang posesif.


“Pada kemana kok sepi?”


“Mamah, tante Mayang lagi pergi sama teteh,” jawab Oka dengan mata menatap Birendra tajam.


“Kamu kok tidak ikut Bi?”


Bentari menggelengkan kepala lemah. “Tidak.” Bentari masih terlalu takut untuk ke luar rumah, belum siap menerima tatapan dari orang-orang, walaupun belum tentu mereka menatap Bentari, hanya perasaannya saja, ketakutannya.


“Kamu tak perlau takut lagi, Birendra sudah melaporkan hal ini pada kepolisian. Dan Mereka sudah menangkap salah satu dari penyebar berita itu.”


“Benar kah?” Bentari kini terlihat antusias menatap ayahnya.


“Iya.” Bentari mengalihkan pandangannya dari sang ayah kepada Birendra. “Polisi telah menangkap salah satu dari mereka, saat ini polisi tengah meminta keterangan untuk menangkap yang lainnya, mereka juga akan mengembangkan penyelidikan sampai menangkap dalang dari semuanya.”


Terlihat Bentari menghela napas lega, dia ingin semua ini cepat berakhir. Walaupun sudah melakukan klarifikasi, tapi dengan ditangkapnya orang-orang itu akan semakin membuktikan kalau berita yang beredar itu salah.


“Kita berhutang banyak kepada Birendra kali ini,” ucap Andi Santoso. “Seandainya Birendra tidak meyakinkan ayah kalau kamu kemungkinan besar akan terseret kasus BS, mungkin saat ini kasus itu akan semakin besar dan seperti Oka bilang tadi kemungkinan besar ayah juga akan terseret.”


Bentari tertunduk merasa bersalah.


“Maaf,” ucapnya pelan. “Maaf karena dulu Bi salah dalam bergaul, seandainya … seandainya Bi tidak datang ke club, tidak datang ke pesta, mungkin semua ini tidak akan terjadi.”


“Sudah, semua sudah terjadi. Tidak ada yang akan bisa mengulang waktu. Masa lalu biarlah menjadi masa lalu, jadikan itu sebagai pelajaran. Semua orang menjadi dewasa dengan cara berbeda, dan mungkin kamu menjadi dewasa dengan masalah-masalah ini … jangan terlalu disesali, Bi. Allah memberi kamu masalah ini karena Allah sangat sayang sama kamu, Allah memperlihatkan kalau pergaulanmu dulu tidak baik untukmu, jadi kamu harus lebih berhati-hati lagi dalam pergaulan …”


“Juga dalam mencari pasangan!" Potong Oka membuat Andi Santoso menatapnya. “Oka tidak salah dong, Yah? Oka hanya meminta kakak untuk hati-hati dalam mencari pasangan, jangan sampai ditinggal lagi pas sayang-sayangnya!”


Andi Santosa menatap Bentari yang kini tengah mencubit pinggang Oka yang mengaduh, sedangkan Birendra tertunduk dengan wajah penuh penyesalan.


“Kamu sendiri bagaimana?” Andi Santoso menatap Oka yang kini tengah mengelus pinggangnya yang sakit akibat cubitan Bentari.


“Bagaimana apanya, Yah?”


“Kuliahmu? Sudah dapat tempat PKL nya?”


Oka terdiam sesaat sebelum nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Andi Santoso menghela napas berat sambil berdiri lalu menepuk bahu Oka sambil berkata, “Ayo! Sepertinya kita harus bicara banyak, Anak Muda!”


“Ta – tapi …” Oka menatap Bentari dan Birendra bergantian.


“Ayo!” Andi Santoso menarik lengan Oka hingga berdiri kemudian merangkul bahunya, “Bi, temanin dulu Birendra. Ayah harus bicara dulu dengan adikmu yang nakal ini.”


“Oka tidak nakal, Yah, Oka sangaaat baik.”


“Oh ya?” Sambil terus merangkul Oka Andi Santoso sedikit menyeret Oka yang tak mau meninggalkan Bentari hanya berdua dengan Birendra.


“Kak, ingat yang tadi!” seru Oka sambil terus diseret sang ayah masuk ke dalam meninggalkan Bentari dan Birendra dalam keheningan dan kecanggungan.


*****