Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
38. Dating?



Haiii ...maaf upnya terlambat, akhir-akhir ini kondisi lagi kurang fit dan sedikit agak sibuk, jadi maaf kalau jamnya tidak sesuai jadwal 🙏 tp insyaallah akan up setiap 2 hari sekali seperti yg sdh dijanjikan 😍🙏 sehat-sehat ya buat semuanya.


Love


A.K


*******


38. Dating?


“Yah, kita tidak bisa meninggalkan kakak hanya berdua dengan Beruang Kutub!”


“Beruang Kutub? Ah, maksudmu Birendra?” Andi Santoso mengamati gambar jembatan yang terpasang di meja gambar milik Oka. Saat ini Oka dan Andi Santoso tengah berada di lantai dua.


“Ayah tidak tahu kan kalau selama ini kakak terluka gara-gara dia.”


Andi Santoso mengangguk sambil berjalan kemudian duduk di kursi belajar Oka.


“Ayah tahu, tapi ayah membiarkan kakak berdua dengannya? bagaimana kalau kakak kembali terluka?”


“Mereka perlu bicara, menyelesaikan masalah mereka.”


Oka mengacak rambutnya putus asa.


“Yang Oka takutkan adalah hati kakak kembali goyah, dia kembali berharap dan akhirnya kembali terluka.”


Andi Santoso menatap Oka yang berjalan mundar mandir terlihat khawatir dengan keadaan Bentari. Satu sisi Andi Santoso merasa bangga dengan Oka yang sangat menyayangi kakak-kakaknya, melindungi mereka selayaknya saudara lelaki yang bisa diandalkan. Akan tetapi di sisi lain Andi Santoso juga merasa sedih, karena melihat sikap Oka yang terlihat seperti kekanak-kanakan itu sebenarnya Oka memiliki beban di bahunya yang seharusnya dilakukan oleh seorang ayah.


Mungkin karena dari kecil terbiasa hidup sebagai lelaki satu-satunya di dalam keluarga membuat Oka tumbuh menjadi seorang pelindung bagi ibu dan kakak perempuannya, dan terbawa sampai sekarang. Jadi sangat masuk akal kalau Oka akan lebih menghargai perempuan dan menjadi pelindung mereka, karena dia terbiasa melakukan itu seumur hidupnya.


“Mereka sudah dewasa, mereka sudah tahu mana yang baik dan tidak untuk dirinya sendiri. Kita hanya perlu mengingatkan, dan tadi bukan kah kamu sudah mengingatkan kakakmu?”


Oka mengangguk, "Iya, tapi ..."


“Terlalu banyak kesalah pahaman di antara mereka berdua selama ini, jadi biarkan mereka bicara berdua untuk menyelesaikan kesalah pahaman itu.”


“Bagaimana ayah tahu kalau itu hanya sebuah kesalah pahaman?”


“Apa menurutmu ayah akan memercayai Birendra untuk kasus kakakmu kalau dia berniat menyakitinya?”


Oka mulai menyadari kalau ayahnya tentu saja sudah mencari tahu tentang Birendra terlebih dahulu tanpa sepengetahuan siapapun.


“Ayah sudah mencari tahu tentang Beruang Kutub kan?”


“Birendra.”


“Iya itu dia.”


Andi Santoso mengeleng sambil tersenyum melihat kekeras kepalaan Oka. Persis dirinya dulu.


“Iya, ayah sudah mencari tahunya.”


“Jadi …” Oka dengan semangat menarik kursi hingga berhadapan dengan ayahnya. “Apa masalahnya? Kenapa dulu dia meninggalkan kakak?”


“Hmmm …” Andi Santoso menatap Oka yang terlihat serius menatapnya. “Nanti, kalau sudah waktunya kamu akan tahu, tapi sekarang biarkan Birendra menceritakannya sendiri kepada kakakmu. Setelah itu kita lihat apa kakakmu akan pergi meninggalkannya atau tetap bertahan di sisinya.”


Mendengar penuturan Andi Santoso, Oka menyadari kalau masalah Birendra pastilah tak semudah yang dia bayangkan selama ini.


***


Hening …


Bentari memainkan jari-jari tangannya menyalurkan kecanggungan yang dirasa. Bagaimana tidak canggung, sudah setahun ini mereka tidak duduk berdua seperti ini, selain saat kematian H. Joko yang berakhir dengan ucapan pedas level 20 dari Birendra. Namun sekarang pria yang beberapa kali menyakiti hatinya itu malah menjadi penolong utamanya.


Untuk sekarang kita lupakan ucapan pedas level 20nya, bukankah kita diajarkan untuk mengucapkan terimakasih kepada siapapun yang menolong kita? Baiklah …


“Ehm!” Bentari berdehem membuat Birendra menatap ke arahnya.“Terimakasih.”


Birendra masih terdiam sambil menatap Bentari sebelum akhirnya dia berkata, “Sama-sama.” Dan … kembali hening.


Bukankah seharusnya itu mejadi awal percakapan mereka? Kenapa kembali hening dan malah semakin canggung???


Dasar Beruang Kutub! Kenapa diam lagi sih? Seharusnya kamu kayak waktu konferensi pers kemarin, ngomongnya lancar jaya. Saat ini kita butuh kemampuan speak ala pengacaramu biar kita tidak seperti Korea Selatan dan Korea Utara yang perang dingin mulu. Ayo, dong! Kemarin katanya kita kekasih. Mana ada kekasih yang diam-diaman kayak gini setelah lama tak bertemu. Ckkk … coba kalau beneran pacaran, saat ini kita pasti sedang … astagfirullahadzim!


Sadar, Bi, sadar! Ingat kata Oka, jangan cepat luluh! Oke! Hati mari kita bentengi diri, dan otak please be nice, tolong jangan menghalu dulu kalau cowok keren yang sekarang sedang memerhatikanku itu adalah kekashku.


Wait! Dia memerhatikanku? Dari kapan?


Mata Bentari terbelalak menyadari kalau saat ini Birendra tengah memerhatikannya dengan saksama.


“Are you okey?” tanya Birendra khawatir setelah melihat Bentari yang dari tadi seperti berada di dunianya sendiri. Terkadang mengerutkan alis bingung, memberengut kesal, terbelalak terkejut, menggeleng bahkan memukul kepalanya sendiri.


“Yap! I’m Okey!”


Wajah Bentari merah karena malu, tapi Birendra mengartikannya lain.


“Apa kamu marah karena aku mengatakan kalau kita sepasang kekasih?”


Marah? Tidak marah hanya … bingung.


“Kenapa Mas Abhi mengatakan itu di depan wartawan?”


Birendra terdiam mencoba melihat reaksi Bentari. Apa gadis itu marah? Tidak, Bentari tidak terlihat marah, dan itu membuat Birendra sedikit tenang. Jujur saja dari tadi dia berpikir Bentari marah padanya karena kelancangannya mengaku sebagai kekasih Bentari di depan umum.


“Untuk membuat semua orang percaya kalau kamu tidak ada hubungan apapun dengan kasus BS.”


Seharusnya Bentari tidak merasa kecewa dengan apa yang baru saja dia dengar. Sebelumnya dia sudah menduga hal itu kalau Birendra melakukannya hanya untuk menolong Bentari terbebas dari berita bohong yang tersebar di masyarakat. Tapi kenapa hatinya merasa sakit juga kecewa?


“Kamu marah?”


Bentari tersenyum hanya untuk menyembunyikan perasaannya.


“Tidak. Anggap saja itu seperti saat saya mengenalkan Mas Abhi kepada mamah dulu. Seperti yang Mas Abhi bilang kalau itu hanya … sebuah drama, betul kan?”


Birendra tidak bodoh, dia bisa melihat sorot terluka dalam mata juga kalimat yang mengandung sarkasme itu, dan karena kebodohannya Bentari bisa terluka seperti sekarang. Namun kini Birendra adalah sosok yang berbeda dengan yang dulu, tak ada lagi ketakutan dalam dirinya untuk selalu berada di samping Bentari.


“Tidak. Itu bukan drama, karena mulai hari ini kita adalah sepasang kekasih.”


Bentari menenatap Birendra dengan pandangan tak percaya.


“Bagaimana bisa saya menjadi kekasih Mas Abhi?”


“Karena sekarang semua orang tahunya kalau kita ini adalah sepasang kekaasih. Bukan kah akan aneh kalau tiba-tiba kita mengumumkan kalau kita telah bepisah? Itu hanya akan membuat semua orang curiga kalau pengakuanku saat konferensi pers kemarin hanya untuk meredam berita yang tersebar.”


“Iya … tidak perlu diumumin juga, kita kan bukan selebritis.”


“Aku yang bukan selebritis, tetapi setelah konfersi pers kemarin semua orang kini mengenalku sebagai … kekasih Anggi Santoso.”


Bentari sadar akan hal itu, bahkan beberapa keyword seperti ‘pengacara kekasih Anggi Santoso’ sempat masuk dalam trending.


“Dan mungkin kamu tidak tahu bahkan sampai sekarang masih banyak yang ragu, dan mungkin salah satunya adalah otak di balik beredarnya berita kemarin.”


Bentari terdiam terkejut menyadari kemungkinan itu, dan kalau sampai apa yang ditakutkan Birendra benar terjadi maka kali ini bukan hanya dirinya saja yang akan menjadi korban, tetapi ayahnya juga Birendra yang telah pasang badan untuknya kemarin.


“Jadi … apa yang harus kita lakukan?”


Birendra tak tega melihat Bentari kembali bersedih, namun Bentari harus mengetahui hal itu dan bersiap dengan kemungkinan terburuk. Anggap saja Birendra licik, tapi dia tak bisa kehilangan Bentri dan dia tahu saat ini tidak akan mudah untuk mengambil hati Bentari kembali karena sikapnya dulu, satu-satunya jalan adalah dengan membuktikan kesungguhan hatinya, dan untuk membuktikan hal itu dia memerlukan Bentari tetap di sampingnya.


“Kita harus menunjukan kalau kita memang … sepasang kekasih.” Bentari mengerutkan alisnya bingung. “Dengan muncul di depan publik berdua.”


“Maksudnya, kita … pergi kencan?”


Birendra menganggukkan kepala. “Iya, pergi kencan. Karena itulah aku datang ke Jakarta untuk mengajakmu kencan.”


Bentari terdiam. Kencan dengan Birendra? Tentu saja dulu dia pernah membayangkan hal itu, namun sekarang ketika hal itu terwujud kenapa hatinya tidak bahagia? Apa karena ini bukan kencan sepasang kekasih yang sesungguhnya? Kencan ini hanya untuk meyakinkan semua orang kalau mereka memang sepasang kekasih.


Kekasih? Bukankah Birendra dulu mengatakan kalau dia akan menikah? Jadi benar apa yang dikatakan Caraka kalau Birendra sebenarnya tidak memiliki kekasih? Dan kalau itu benar, kenapa dulu Birendra mengatakan kalau dia akan menikah walaupun mungkin dia tahu kalau itu akan menyakiti Bentari?


Bukan hanya sekali itu saja, tetapi setiap mereka bertemu Birendra seolah menghindar dan ingin menjauh. Namun sekarang kenapa dia sendiri yang datang bahkan mengatakan kalau dia adalah kekasih Bentari? Dan jangan lupakan misteri menghilangnya Birendra dulu.


Baiklah, ini adalah kesempatan untuk Bentari mencari tahu semua jawaban itu.


*****