Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
60. Times



Pesta pernikahan kaum jetset biasanya identik dengan pesta glamor dengan tamu-tamu undangan dari kalangan atas, mungkin itu juga yang orang lain bayangkan atas pernikahan Sagita Bentari atau yang dikenal masyarakat umum dengan nama Anggi Santoso, putri konglomerat Surabaya yang mendapat julukan the real crazy rich. Mendengar namanya sudah bisa dibayangkan akan semewah apa pernikahannya.


Namun takdir berkata lain, tak ada ballroom hotel mewah apalagi sebuah villa mewah yang menyuguhkan pemandangan alam nan eksotik dengan baju pengantin cantik harga selangit, serta jamuan hasil racikan chef kelas dunia, ditambah tamu-tamu undangan dari kalangan yang tak kalah menawan. Yang menjadi tempat untuk ijab qobul sang putri pengusaha property itu hanyalah ruangan seluas 6x6 ruang rawat inap VVIP rumah sakit dimana Mayang dirawat. Dengan hanya mengenakan kebaya putih gading dan riasan sederhana Bentari duduk di samping Birendra yang tangannya tengah menjabat tangat Andi Santoso, dan dengan satu tarikan napas ijab qobul pun terucap yang disahkan oleh saksi serta keluarga yang hadir.


Sederhana. Namun kehidmatannya sangat terasa kental, tak ada yang bisa menahan air mata haru ketika semua orang menyalami kedua mempelai mengucapkan selamat dan mendoakan kebahagian keduanya.


Walau terlihat lemah namun senyum Mayang memancarkan kebahagian sebelum airmatanya tumpah ketika Birendra mencium tangannya meminta doa dan restu sang ibu mertua.


“Titip Bi, bahagiakan dia, titip anak Mamah,” bisik Mayang di telinga Birendra yang memeluknya, tangisnya semakin menjadi ketika giliran Bentari yang mencium tangan kemudian memeluknya.


Tak perlu Mayang ucapkan sederet doa yang dia panjatkan untuk sang putri yang dia besarkan dengan limpahan kasih sayang itu, cukuplah Allah yang mendengarkan semua doa dan mengabulkannya.


Setelah hari pernikahan Bentari dan Birendra kondisi Mayang semakin terjun bebas, bahkan sempat masuk ruang ICU dokter pun telah angkat tangan hanya bisa meminta keluarga untuk bersabar juga ikhlas seandainya Mayang diambil Sang Khaliq dalam waktu dekat.


“Aku ingin pulang,” lirih Mayang dengan napas terengah.


Andi Santoso dan Oka yang hari ini bertugas menjaga Mayang saling tatap, sebelum akhirnya Oka berjalan mendekat dan duduk di sisi bersebrangan dengan ayahnya.


“Kamu mau pulang?” ujar Andi Santoso sambil menggenggam tangan istrinya yang hanya bisa mengangguk.


“Kita pulang ya, Mah.” Oka dan Kirana telah mengganti panggilan mereka kepada perempuan sholehah itu karena tak ingin menyesal dikemudian hari. “Oka akan menghubungi kakak biar siap-siap di rumah.” Mayang tersenyum sambil kembali mengangguk.


Sesungguhnya sudah tidak ada yang bisa pihak rumah sakit lakukan untuk Mayang selain memberi obat untuk mengurangi rasa sakitnya, karena itulah dokterpun memberi izin Mayang pulang walaupun tetap mengikuti prosedur dengan penandatangan beberapa dokumen oleh pihak keluarga sebagai bukti kalau Mayang pulang atas kehendak pihak keluarga bukan paksaan dari rumah sakit.


Kondisi Mayang di rumah sedikit membaik, dia tertawa melihat tingkah menggemaskan Danish yang selama di rumah sakit tak pernah dia lihat, dia juga bahagia melihat semua anak menantunya berkumpul bersama, tertawa, bercerita, menjadikan rumahnya terasa hangat. Kondisi seperti inilah yang Mayang impikan sejak dulu, dan kini dia telah merasakannya.


Allah memang Maha Pemberi, semua yang Mayang ucapkan disetiap sujud kini terpampang jelas di depan matanya … keluarga yang bahagia dan hangat. Maka, tidak ada lagi yang akan Mayang sesali.


Keesokan harinya, rumah yang kemarin terasa ramai oleh gelak tawa kini diselimuti duka, Mayang terbaring di atas tempat tidurnya dengan dikelilingi keluarga yang dia cintai. Kondisinya semakin parah. Andi Santoso, Oka, Caraka dan Birendra duduk di samping kanan Mayang, di samping kirinya duduk Mega, Kirana, dan Bentari yang sudah tak bisa lagi menahan tangisnya.


“Astagfirullahaladzim,” bisik Andi Santoso di telinga sang istri yang mengikutinya dengan lemah.


Andi Santoso kemudian mengucap dua kalimat sahadat yang kembali diikuti Mayang dengan napas terengah.


“Laa Illaha Illallah.”


Mayang mengikuti tuntunan suaminya dengan napas yang semakin pendek, setelah tiga kali dan melihat Mayang semakin sulit berucap, Andi Santoso dengan suara bergetar kembali menuntun sang istri pulang ke Rahamtullah.


“Allah.”


Mata Mayang perlahan tertutup, dan dengan tarikan napas terakhirnya Mayang mengucap … Allah.


Tangis pun pecah seiring terangkatnya ruh seorang perempuan sholehah, meninggalkan tubuh yang terbujur kaku.


***


Kematian Mayang meninggalkan duka mendalam bukan hanya bagi keluarga, namun juga bagi semua orang yang mengenalnya. Di mata orang lain Mayang adalah sosok ramah, baik hati dan dermawan maka tak heran berbondong-bondong orang yang melayatnya, bershaf-shaf pula orang yang menshalatkannya, dan banyak pula orang yang ikut mengantar sampai liang lahat.


Duka dan rasa kehilangan terpampang jelas di wajah semua orang, terutama keluarga Andi Santoso. Bentari yang paling dekar dengan Mayang terlihat paling terpukul, untung ada Birendra yang selalu berdiri di sampingnya, menenangkan, memberi kekuatan.


Rangkaian bunga duka cita berjajar memenuhi kiri kanan jalan menuju rumah Andi Santoso yang gerbangnya terbuka lebar menyambut tamu yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Kursi dan tenda terpasang di halaman yang masih dipenuhi pelayat yang terlambat datang.


Wajah lelah bercampur sedih tergambar jelas di wajah sang pengusaha property, tapi bagaimanapun dia harus tetap menyambut tamu yang datang dengan ditemani Oka, Caraka, juga Birendra, sedangkan para perempuan sudah masuk ke dalam rumah.


Kirana dan Danish menemani Bentari yang benar-benar terpuruk, sedangkan bu Mega terlihat di bawah bersama bude Ani, istri pakde Bayu, juga saudara perempuan lainnya sibuk memersiapkan hidangan untuk para tamu bersama para pekerja di rumah itu.


“Bi, makan dulu yuk!” Rayu Kirana setelah menidurkan Danish di sebelah Bentari.


“Belum lapar, Teh. Teteh duluan saja.” Suara Bentari terdengar serak karena banyak menangis, kepalanya pun terasa pusing.


Bentari menggeleng, tangannya terulur mengelus kepala Danis yang terlihat pulas dengan mulut sedikit terbuka.


“Kalau kamu begini terus, kasian mamah Mayang, dia pasti sedih lihat kamu seperti ini.”


Air mata Bentari kembali mengalir mendengar nama ibu sambung yang sangat menyayanginya dan kini telah tiada.


“Mamah Mayang adalah orang baik, banyak yang mendoakan. Insyaallah sekarang sudah tenang, sudah tidak lagi merasakan sakit, dan insyaallah berada di tempat yang terbaik.”


Bentari dengan cepat menghapus air matanya walaupun tenggorokannya masih terasa panas.


“Sekarang yang bisa kita lakukan adalah mengikhlaskan dan mendoakannya.” Bentari menggigit bibir bagian dalamnya berusaha untuk tak menangis namun air mata lagi-lagi mengalir tanpa dikomando.


“Jadi … kita makan yuk?” Bentari masih bergeming membuat Kirana mengeluarkan jurus pamungkasnya.. “Kasian Birendra, dia juga belum makan apapun. Kamu temanin Birendra makan ya?”


Bentari mengingat kalau sekarang dirinya telah menjadi seorang istri. Dia tidak boleh egois dengan hanya terkurung dalam kesedihan, ada Birendra suaminya yang juga memerlukan perhatiannya.


Pintu kamar tiba-tiba terbuka membuat Bentari dan Kirana menatap ke arah pintu di mana Birendra berdiri dengan masih mengenakan kemeja dan celana hitam.


“Suamimu sudah datang,” ujar Kirana dengan senyum menggoda sambil terbangun kemudian menggendong Danish.


“Biarin tidur di sini saja, Teh,” ucap Birendra sambil berjalan mendekati tempat tidur.


“Tidak apa-apa biar teteh tidurin di kamar saja, sekalian teteh juga mau tidur bentar.”


Kirana ke luar dari kamar sambil menggendong Danish diikuti Birendra untuk membantu membuka dan menutup pintu sebelum kembali masuk ke dalam dan ikut bergabung di atas tempat tidur bersama Bentari yang langsung masuk ke dalam pelukan suaminya, menyurukan kepala di dada Birandra yang mengelus punggungnya, sesekali mencium pucuk kepala, membiarkan Bentari menangis sampai puas.


“Menangis sepuasnya, tapi hanya ini saja, ya? Aku sudah berjanji sama mamah Mayang untuk menjaga dan membahagiakanmu, jadi … jangan bersedih lagi, biar mamah Mayang bisa tenang meninggalknmu bersamaku.”


Bentari semakin mengeratkan pelukannya, walau pelan Birendra bisa merasakan kepala Bentari mengangguk, dan tak berapa lama tak terdengar lagi suara tangisannya, membuat Birendra sedikit tersenyum dan kembali mencium kepala Bentari yagn masih berada dalam dekapannya.


“Sayang … aku mau makan, tapi aku malu.”


Bentari merenggangkan pelukan.


“Mas belum makan?”


Birendra menggelengkan kepala sambil menghapus sisa air mata di pipi Bentari, merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan.


“Yang lain sudah makan?”


Birendra mengangguk. “Tadi bergantian makan, mamah Mega menyuruhku makan, tapi aku malu kalau harus makan sendiri.”


Tanpa aba-aba Bentari langsung duduk dan turun dari tempat tidurnya.


“Ayo, kita makan!”


Birendra tersenyum, dan sambil bergandengan tangan mereka ke luar dari kamar menuju lantai bawah untuk makan agar memiliki tenaga untuk kembali melanjutkan hidup.


Bentari mengingat janjinya kepada Mayang ketika baru saja sah menjadi seorang isteri. Dia berjanji agar hidup bahagia bersama Birendra, berjanji akan menjadi istri seperti Mayang, istri yang mengabdikan hidupnya untuk suami, selalu mendukung dan berada di samping suami walau dalam kondisi terburuk sekalipun.


Ibu sambung Bentari memang telah tiada, tapi kenangannya akan selalu hidup di benak orang-orang yang mencintainya, yang perjalanan hidupnya menjadi pelajaran bagi anak-anaknya. Terutama Bentari.


Semua orang pasti akan meninggal … entah kapan. Itu rahasia Ilahi. Namun yang harus kita yakini tak ada yang abadi di dunia itu. Ketika waktu kita tiba meninggalkan dunia ini, bagaimana orang lain akan mengenang kita, itu tergantung saat kita menjalani hidup.


Jadi … jangan sia-siakan waktu yang masih kita miliki, sebelum waktu kita di dunia ini habis.


*****