Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2
63. Polaris (TAMAT)



Jangan dulu protes! Itu emak-emak coba panci sama penggorengannya taruh dulu, sapu lidinya juga!


Oke, tenang ya tenang, biar saya jelaskan dulu … ayo duduk manis, siapin cemilan sama kopinya biar santai.


Nah jadi suddenly memang sudah tamat, seperti di blubr Suddenly memang hanya membahas tentang permasalah Oka tentang status barunya yang tiba-tiba jadi Pangeran BUMI, juga membahas tentang hubungan Oka dengan ayahnya, Mayang, H. Joko, juga hubungan bu Mega dengan mantan suami yang sekarang sudah jadi suaminya lagi, dan alhamdulillah masalah itu sudah selesai semua, termasuk masalah Bentari – Birendra dengan masalah traumanya pun yang ada di prolog juga sudah selesai, jadi … masalah di Suddenly sudah selesai semua.


Masalah Oka sama Arunika belum selesai, Thor!!!!


Iya, sabar dulu … jadi giniii ... rencananya masalah percintaan Oka kita bahas di novel lain ya, kalau dilanjut di sini takutnya nanti feelnya sudah beda, sudah mulai busan juga … karnea lonpatan waktunya cukup jauh. Rencananya akan membahas Oka yang sudah dewasa, yang sudah jadi orang kantoran, kira-kira karyawan yang lainnya sudah tahu belum ya tentang identitas Sang Pangeran? Nah di novel selanjutnya kita benar-benar akan fokus sama si abang nih, tapi teteh-kakang, Bi – mas Abhi, bu Mega dan pak Andi tetap akan jadi cameo. Jadi jangan dulu dihapus dari favorit ya, soalnya kapan novel Oka up akan diumumin di sini.


Sudah paham kaaan? Jadi jangan demo dulu ya …


Nah sekarang baca dulu deh bab terakhirnya, insyaallah nanti masih ada epilog dan beberapa ekstra part. Kasian kan mas Abhi sama Bi belum bulan madu. Ayo siapa yang mau ikut??? Asal jangan ngintip ya, hihihihi.


Ya udah deh gak akan panjang-panjang lagi takut keburu itu panci sama penggorengan melayang. Selamat baca …


****


63. Polaris (TAMAT)


Terrace garden venue, Graha Family malam ini terlihat semakin menawan dengan lampu-lampu kecil membentuk kanopi terlihat seperti langit yang bertabur bintang, lampu-lampu LED terpancar di antara rangkaian bunga warna-wani yang didominasi warna-warna putih, lilac, juga merah muda, sebuah background dinding buatan yang dipenuhi bunga berdiri elegant yagn dijadikan tempat foto-foto tamu undangan.


Meja-meja bundar terpasang dengan tutup kain satin putih dan buket bunga baby breath bercampur dengan mawar merah muda terpasnag di tengah meja, di pinggir lapangan rumput itu berderet meja-meja buffet, stand barbeque, desert, buah, juga minuman yang menggugah selera.


Bentari terlihat luar biasa dengan baju kebaya pengantin berwarna baby pink, rambutnya dikepang ala aristokrat dengan hiasan bunga membuatnya terliihat semakin cantik, begitupun Birendra yang terlihat sangat tampan dengan beskap senada. Ya, hari ini adalah hari mereka menikah secara negara.


Awalnya Bentari tetap tak ingin mengadakan acara apapun selain mengulang ijab qobul di KUA, tapi Birendra, bu Mega, Kirana juga Andi Santoso mencoba memberi masukan. Bukan tanpa sebab Birendra menginginkan sebuah pesta walau sederhana untuk pernikahan mereka, dia hanya inign memberikan kenangan bahagia untuk Bentari, bukan kenangan duka karena pernikahan mereka bertepatan dengan meninggalnya Mayang.


“Mamah Mayang pasti sedih kalau kamu seperti ini, Bi,” ucap bu Mega mencoba merayu Bentari atas permintaan Birendra. “Dia pasti ingin melihat kamu terlihat cantik dengan pakaian pengantin yang hanya akan dikenakan sekali seumur hidup. Mamah Mayang akan sedih dan mungkin merasa bersalah kalau kamu menolak acara sekali seumur hidup itu karena dirinya.”


Bentari terdiam tertunduk.


“Kita hanya akan mengadakan pesta kecil dan sederhana, hanya mengundang keluarga juga sahabat dekat saja sekedar memberitahu mereka kalau kalian telah sah menjadi suami-istri supaya tidak menjadi fitnah kalau misalnya ada orang yang melihat kalian pergi ke luar kota atau ke luar negri hanya berdua saja,” ucap Andi Santoso membuat Bentari mulai memikirkan hal itu.


“Kamu tahu nggak, Bi, Park Shin Hye?”


Bentari menganggukkan kepala berbeda dengan Andi Santoso yang mengerutkan alis.


“Pak siapa? Pak Sinye? Siap dia?” tanya Andi Santoso bingung.


“Park Shin Hye, itu yang dulu main sama Bang Limin.”


“Bang Limin siapa?”


“Mantannya Mamah,” jawab Bentari sambil mencoba menahan tawa melihat ekspresi ayahnya.


“Ih! bukan mantan, masih sampai sekarang … bang Limin mah selalu di hati.”


Bentari langsung terbahak-bahak tak bisa lagi menahan tawanya ketika melihat mulut Andi Santoso yang menganga dengan mata membulat mendengar perkataan bu Mega yang terlihat cuek.


“Tenang, Yah, nanti mamah kenalin sama bang Limin, kalian berdua harus akur ya. Mamah tidak mau kalan berdua ribut-ribut gara-gara mamah.”


“Hahahaha.” Bentari semakin terbahak mendengar ibunya yang sedang dalam mode drama queen benar-benar membuat ayah dan suaminya menganga tak percaya.


Setelah kembali rujuk selain bu Mega pindah ke Surabaya, bu Mega dan ayah Andi pun kembali mengubah panggilan mereka seperti dulu ketika awal menikah hanya untuk membiasakan kepada anak-anaknya, walau kadang ketika Oka mendengarnya dia akan bergidik sambil menggelengkan kepala, terlihat ngeri.


“Park Shin Hye kan hamil duluan sebelum nikah.”


“Tapi Bi tidak hamil duluan, Mah,” ucap Bentari di antara sisa-sisa tawanya.


“Iya, Mamah tahu … kalau kamu hamil duluan Birendra tidak akan selamat dari mamah.”


Birendra tersenyum kecut mendengar ucapan ibu mertuanya.


“Maksud mamah tuh, kalau misalnya sekarang kamu ternyata diberi kepercayaan sama Allah dengan hamil, apa orang-orang tidak akan menggunjingkan kamu? Itu kan jadinya fitnah.”


“Nggak usah dengerin orang, Mah, kan mamah, ayah, sama keluarga semua tahu kalau Bi sudah menikah.”


“Nah ini nih, kalau seperti ini kamu tidak boleh diam saja, itu artinya kamu sengaja membuat orang-orang agar menyebarkan fitnah tentang kamu … kamu bisa ikutan berdosa.”


“Intinya, Bi, acara ini kita adakan bukan untuk riya, bukan untuk pesta pora, kita hanya ingin agar pernikahan kalian tidak menjadi tuduhan zina dan fitnah keji atas kalian, selain itu agar semakin banyak orang yang mendoakan kalian berdua.”


“Nah itu intinya!” pekik bu Mega yang hanya membuat Andi Santoso menggelengkan kepala.


Bentari terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk setuju membuat semua orang menghela napas lega.


“Tapi hanya pesta sederhana saja kan?”


“Iya.”


“Hanya mengundang keluarga juga sahabat dekat saja.”


“Iya.”


“Aku tidak mau ada pelaminan, jadi kita bisa berbaur dengan yang lainnya.”


“Oke, sip!” Seru bu Mega yang langsung berdiri dan menghubungi Kirana, “Teteh, ke Surabaya, kita jadi hajatan!”


Dan pada akhirnya acara itu pun berlangsung sesuai permintaan Bentari, hanya mengundang keluarga dari kedua belah pihak, sahabat dekat, ditambah beberapa rekan kerja Birendra, juga beberapa relasi kerja And Santoso. Acaranya pun dilaksanakan masih di dalam komplek perumahan Andi Santoso dimana terdapat lapangan golf yang menyediakan venue untuk pesta, tidak ada pelaminan jadi pengantin berbaur dengan tamu yang datang, seperti saat ini terlihat Bentari tengah diperkenalkan Birendra kepada keluarga juga rekan kerja Birendra, di sisi lain bu Mega juga tengah tertawa bahagia bersama dengan sang suami dan keluarga besarnya, Kirana dan Caraka duduk bertiga dengan Danish yang hari ini terlihat menggemaskan dengan kemeja lengan panjang dengan bretel suspender (tali baju) dengan celana panjang berwarna biru dongker.


Melihat ketiga perempuan terpenting dalam hidup Oka kini telah bahagia dengan pasangan masing-masing membuat Oka merasakan kelegaan teramat sangat, tanggung jawab yang selama ini dia pikul seorang diri sebagai tanggung jawab seorang anak dan saudara lelaki kini telah berpindah ke tangan suami masing-masing. Walaupun Oka tetap akan menjadi orang pertama yang akan maju membela dan melindungi mereka, menjadi rumah bagi ketiganya jika mereka sedikit merasa lelah dan ingin beristirahat sesaat.


“Aaah, capek juga dari tadi keliling, salaman sama tamu.”


Oka tersenyum menatap ayahnya yang kini duduk di sampingnya sambil bersandar, terlihat lelah.


“Faktor u tidak bisa dibohongi, Yah.”


“Ini karena ayah kurang olah raga saja akhir-akhir ini, jadinya cepat lelah.”


“Ngapain duduk sendirian di sini?” tanya Andi Santoso sambil mengeluarkan rokoknya.


“Yah, ingat umur, Yah, jangan ngerokok terus!”


“Sebatang doang, mumpung mamahmu tidak melihat.”


Oka terkekeh sambil menggelengkan kepala.


“Ada apa dengan Ayah, kakang, juga mas Abhi yang takut sekali dengan para istri sampai merokok saja harus di belakang mereka.”


Saat ini mereka berdua memang duduk di pojokan terhalang pilar yang didekor dengan bunga-bunga cantik. Andi Santoso menghembuskan asap rokok dengan senyuman di wajah yang masih terlihat tampan di usia lebih dari setengah abadnya.


“Kamu nanti akan merasakan ketahuan merokok oleh istri itu lebih menakutkan daripada ketahuan merokok oleh guru BP.”


“Hahaha.”


“Benar itu, kakakmu lebih mengerikan dari guru BP maupun satpol pp.”


Oka menatap ke arah suara dimana Caraka berjalan sambil menyulut rokok kemudian duduk bergabung dengan mereka.


“Lihat, Birendra!” ujar Andi Santoso sambil tertawa, “Dia pasti iri melihat kita sekarang.”


Mereka tertawa melihat Birendra yang dengan setia menemani Bentari menyapa para tamu, sesekali matanya akan menatap mereka dengan wajah memelas membuat ketiga pria yang telah menjadi keluarga Birendra itu menertawakannya.


“Ngomomg-ngomong, kenapa kamu tidak ajak Arunika ke sini?” tanya Andi Santoso sebelum menghisap rokoknya santai.


Oka terdiam sebelum mengedikkan bahu membuat Andi Santoso dan Caraka saling pandang.


“Kalian putus?” tanya Caraka penasaran.


“Kami tak pernah jadian, jadi bagaimana bisa putus.”


“Kamu ditolak?” kini Andi Santoso yang bertanya penasaran.


“Nggak mungkinlah, Yah, cowok keren seperti Oka ada yang nolak.”


Andi Santoso dan Caraka kembali saling tatap, mereka menyadari sesuatu telah terjadi dengan hubungan Oka dan Arunika. Sesaat mereka terdiam, Andi Santoso dan Caraka larut dengan batang rokoknya sedangkan Oka larut dengan pikirannya sendiri walaupun matanya menatap keramaian pesta yang tersaji di depannya, namun hatinya terasa kosong.


“Kamu tahu, ketika ayah seumuran kamu ayah beberapa kali putus sambung dengan perempuan yang ayah kira akan menjadi istri ayah, tapi ternyata nikahnya sama mamah kamu,” ucap Andi Santoso memcah lamunan Oka.


“Aku juga gitu. Kamu tahu sendiri kan track record aku pacaran kalau kata kakakmu itu panjangnya mengalahkan antrian bansos.” Oka tersenyum mendengar ucapan Caraka yang juga terkekeh mengingat istilah Kirana tentang jajaran para mantan Caraka. “Dari mulai model, anak pejabat, sampai artis papan atas. Tetapi yang berhasil membuatku jatuh cinta setengah mati adalah kakakmu, perempuan sederhana yang menolakku berulang kali, dia bahkan lebih sayang si merah yang dulu belum lunas daripada aku.”


Oka dan Andi Santoso tertawa mendengar ucapan Caraka yamg kembali menghisap rokoknya.


“Putus dan patah hati untuk seumuran kamu itu hal yang wajar, jangan telalu larut menganggapi sakitnya patah hati. Kalau kamu memutuskan untuk jatuh cinta, kamu juga harus siap dengan resiko sakitnya. Tenang saja masih banyak perempuan yang akan membuatmu kembali merasakan cinta, bahkan mungkin salah satu dari mereka adalah jodoh kamu.”


Oka hanya terdiam mendengar ucapan ayahnya yang terkesan santai, namun memiliki banyak makna.


“Nikmatin saja dulu masa-masa muda kamu, Ka, fokus sama kuliah dan pekerjaan kamu bukannya kamu mau membuktikan kepada semua orang kalau kamu memang layak untuk jadi penerus BUMI, bukan hanya karena kamu adalah putra satu-satunya pemilik BUMI.”


“Nah, benar tuh apa kata Kakang … santai saja, Ka, umur kamu masih muda, perjalanan kamu masih panjang. Jangan karena patah hati sekali kamu menyia-nyiakan kesempatan yang sudah di depan mata. Kalau soal jodoh, nanti kamu akan tahu dengan sendirinya ketika bertemu dengan perempuan yang tepat, saat itu kamu menyadari kalau rumah yang ingin kamu datangi ketika pulang adalah rumah dimana dia berada yang akan menyambutmu dengan senyumannya. Saat itu itu terjadi, jangan buang-buang waktu lagi, segera kasih tahu ayah.” Andi Santos berdiri setelah mematikan rokoknya karena dipanggil oleh bu Mega hanya dengan tatapan matanya saja yang sudah dipahami dengan baik oleh Andi Santoso. “Ayah akan melamarnya untukmu,” ucapnya sambil menepuk bahu Oka sebelum berjalan mendekati istrinya begitu pun dengan Caraka yang ikut menepuk bahunya memberi semangat dna bergabung kembali dengan anak istrinya


Tempat untuk pulang … ayahnya, Caraka juga Birendra telah menemukan tempat mereka pulang dimana perempuan yang mereka cintai berada di dalam rumah itu, menunggunya dengan senyum penuh kasih sayang. Namun siapa yang akan menjadi tempat Oka pulang? Siapa perempuan yang akan menyambutnya dengan senyum?


Raut wajah seorang perempuan yang tersenyum cantik menatapnya dengan penuh kasih sayang, senyum juga tatapan dari perempuan yang sangat dia rindukan namun telah meninggalkannya.


Bagaimana dia menemukan tempat untuk pulang sedangkan perempuan itu entah berada di belahan dunia yang mana. Oka menengadah menatap langit gelap dan di antara kegelapan itu terlihat satu bintang yang berpijar … Polaris, sang bintang utara, bintang yang selalu menjadi petunjuk arah bagi mereka yang tersesat.


Oka terdiam menatap bintang itu sesaat, dia membuka ponselnya dan mengetik sesuatu di laman media sosialnya, sambil tersenyum dia memposting foto dan tulisaannya berharap seseorang membacanya.


Dengan tersenyum lebar Oka berjalan cepat ke arah keluarganya yang sedang menunggunya dengan senyum kasih sayang yang tak perlu diragukan lagi. Saat ini Oka memang belum menemukan sosok perempuan tempatnya pulang, namun dia selalu memiliki keluarga yang akan selalu menyambutnya dengan pelukan penuh kasih sayang yang akan selalu menjadi tempatnya pulang.


***


@okasoka



Pergi kemanapun kamu mau pergi


Lakukan apapun yang mau kamu lakukan


Ketika kamu sudah mulai merasa lelah dan ingin kembali


Lihatlah ke atas langit


Selama bintang utara masih bersinar


Ikuti sinarnya … Polaris akan menuntunmu untuk kembali padaku


**** TAMAT ****


Sampai jumpa di POLARIS



Semua orang mengatakan waktu kan membuatku melupakanmu & menyembuhkanku.


Namun nyatanya waktu semakin membuatku larut dalam kenangan bersamamu.


Seandainya ku bisa memutar waktu, akan ku ubah cerita tentang kita.


Namun waktu terlalu jumawa, tak ingin melangkah mundur walau hanya sesaat.


(Asoka Danubrata - Polaris)