
Bentari pernah membayangkan berkencan versinya yaitu mereka berjalan di alam yang eksotis sambil bercerita, tertawa, terkadang saling menatap romantis, setelah itu mereka akan makan malam. Tidak perlu candle light dinner di restoran bintang lima yang menyuguhkan suasana romantis, dimanapun tidak masalah selama mereka bisa menikmati makan malam berdua.
Namun ternyata kenyataan tidak seindah khayalan. Bukannya bercerita, apa lagi tertawa sambil saling menatap romantis yang ada suasana di dalam mobil lebih seperti mereka akan pergi ke pemakaman dari pada kencan!
Hening …
Birendra yang berada di belakang kemudi mobil milik Bentari terlihat serius seperti mahasiswa yang akan melakukan sidang skripsi, sedangkan Bentari tengah berperang dengan dirinya sendiri di dalam hati.
Tanya nggak? Tanya nggak? Tanya nggak? Tanya nggak? Bentari melirik Birendra yang masih serius menatap jalanan. Itu muka bisa relax sedikit tidak? Jadikan takut mau nanya juga, ganteng sih ganteng, tapi kenapa seperti pembunuh berdarah dingin gitu itu muka!
“Kenapa?”
“Hah?!”
Bentari terkejut karena tiba-tiba freezer bersuara.
“Kenapa? Ada yang mau ditanyakan? Atau ada yang mau dibicarakan? Bicara saja.” Birendra menoleh sebentar ke arah Bentari sebelum kembali serius menghadap depan.
“Hmmm …” Bentari menatap Birendra kemudian menatap depan dimana saat ini mereka telah memasuki tol dalam kota. “Kita mau kemana?”
Birendra seketika menatap Bentari seolah terkejut dengan pertanyaan gadis yang kini kebingungan kenapa masuk tol dalam kota?
“Kencan, bukannya tadi kamu setuju kalau kita mau kencan?”
“Iya, tapi kemana?”
“Nonton.”
Kini giiran Bentari yang menatap Birendra terkejut dengan jawaban pria yang terlihat bingung melihat reaksi Bentari. Kenapa Bentari seterkejut itu? Apa sekarang Bentari menyesal setuju untuk kencan dengannya?
“Nonton?”
“Iya. Kamu tidak mau?”
“Kalau cuma nonton kenapa masuk tol dalam kota?”
Sesaat Birendra terdiam bingung memikirkan jawabannya. Kalau dia bilang supaya lebih lama dengan Bentari apa dia akan marah? Jujur saja berduaan dengan Bentari di dalam mobil, mencium wangi parfumnya sudah cukup membuatnya gugup dari tadi, membuatnya harus konsentrasi dua kali lipat dari biasanya.
Tidak! Bentari saat ini masih kecewa dengan kelakukannya dulu, jadi lebih baik Birendra cari aman saja daripada Bentari minta puter balik dan tidak jadi kencan.
“Kita akan pergi ke tempat dimana kemungkinan lebih banyak orang mengenalmu, tapi juga tidak mencolok secara bersamaan. Maksudku tempat dimana keberadaan selebritis atau orang-orang kaya di tempat itu dinggap hal yang lumrah, jadi tidak terlihat kalau kita memang sedang mencari perhatian.”
“Kenapa?”
“Dengan begitu kemungkinan untuk foto kita tersebar di internet sedang berkencan akan semakin banyak, bukankah itu lebih baik? Jadi kita tidak perlu membuat klarifikasi apapun, biarkan mereka berspekulasi sendiri dengan melihat foto-foto kita, seperti yang mereka lakukan ketika melihat fotomu sama BS.”
Bentari mengangguk-anggukan kepala sebelum akhirnya dia mengingat sesuatu.
“Jadi kita akan pergi kemana? PI atau … PP?” Bentari menyebut salah satu mall tempat mereka pernah bertemu. Birendra sadar akan hal itu, tapi Birendra mengabaikannya.
“Terserah, kamu mau kemana?”
“PI saja kali ya, kalau ke PP nanti ada ada yang pura-pura tak kenal lagi.”
Birendra sangat tahu arti kalimat itu. sebetulnya tanpa sepengetahuan Bentari hari itu Birendra mengikutinya dari jauh, mengawasinya dalam diam.
“Maaf.”
“Maaf untuk?” Bentari kini menatap Birendra tengah mengambil lajur kiri untuk menuju tol Tebet/ Semanggi.
“Aku terlanjut ambil jalur ini, jadi kita akan ke PP.”
“Ckkk! Kenapa tadi nanya?!”
Birendra hanya tersenyum melihat Bentari yang cemberut dan mengalihkan pandangannya ke arah luar.
“Maaf.”
“Maaf karena dulu pura-pura tak mengenalmu,” ucap Birendra membuat Bentari seketika menatap ke arahnya.
“Kenapa? Kenapa Mas Abhi pura-pura tak mengenalku? Apa karena waktu itu ada kekasih Mas Abhi?”
“Kekasih?” Birendra menoleh ke arah Bentari sesaat sebelum kembali menatap ke depan bersiap untuk tapping e-toll ke luar tol.
“Iya, saat itu Mas Abhi sedang bersama kekasih Mas Abhi bukan?”
Birendra mengingat kejadian hari itu. Hari dimana mereka secara tidak sengaja bertemu di Pacific Place adalah hari dimana dia mengadakan pertemuan dengan salah satu klien nya.
“Tidak, saat itu aku baru selesai mengadakan pertemuan dengan klien yang kebetulan bekerja di SCBD, jadi kami janjian bertemu di PP.” ucap birendra sambil membelokan mobil ke arah kiri sebelah gedung Mandiri jalan Gatot Subroto.
“Klien?”
“Iya, klien.”
Saat ini mereka telah memasuki area Sudirman Center Business District (SCBD) sebuah kawasan bisnis terpadu yang berada di daerah Jakarta Selatan. Selain gedung perkantoran terdapat juga gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), kondominum mewah, hotel bintang lima, serta pusat perbelanjaan kelas atas, maka tak salah kalau SCBD disebut sebagai kawasan bisnis elit Indonesia.
“Aku memiliki beberapa klien yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya karena itulah terkadang aku ke sini.”
Bentari kini menatap serius Birendra yang tengah membawa mereka melewati gedung Electronic World dengan warna biru yang dominan.
“Jadi kenapa hari itu Mas Abhi menghindariku? Mas Abhi bisa saja menyapaku kalau perempuan itu memang hanya klien Mas Abhi.”
Apa ini saatnya Birendra berkata jujur kepada Bentari? Tapi … apa Bentari akan menerimanya atau bahkan mungkin lari menjauh karena takut dengan seseorang yang memiliki trauma sampai harus mendapatkan penanganan dari psikolog? Atau yang paling parah Bentari akan menganggapnya gila.
Tidak! Birendra belum siap kalau harus kembali kehilangan Bentari. Maka dari itu Birendra telah bertekad akan mengambil hatinya Bentari terlebih dahulu, setelah itu baru dia akan menceritakan yang sebenarnya, tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi kemudian menyerahkan keputusannya kepada Bentari. Menerima atau meninggalkannya.
“Maaf itu memang kesalahkanku.”
“Kesalahan apa?” Saat ini mereka berada di depan gedung Arta Graha yang berseberangan dengan Pacific Place.
“Kesalahanku karena pura-pura tak mengenalimu.”
“Iya, tapi kenapa?”
Bentari terlihat sangat penasaran sekaligus gemas karena Birendra tak juga menjawab apa yang menjadi inti pertanyaannya.
“Turun yuk? Kita sudah sampai.”
Bentari menatap ke luar, ternyata saat ini mereka sudah berada di lobi Pacific Place, terlihat petugas valet parking telah bersiap berdiri tak jauh dari kendaraan mereka. Birendra ke luar lalu berputar untuk membukakan pintu Bentari yang masih duduk tak bergerak.
“Nanti.” Birendra merunduk hingga wajahnya sejajar dengan Bentari. “Aku akan menceritakan semuanya, tapi nanti. Sekarang kita kencan dulu.” Birendra menjulurkan tangannya yang ditatap Bentari beberapa saat sebelum menerima uluran tangannya kemudian turun dari mobil.”
“Janji ya, pokoknya nanti cerita semuanya.”
“Iya, suatu hari nanti aku akan menceritakan semuanya.” Mereka berjalan memasuki area mall yang langsung disuguhkan oleh kemegahan khas mall papan atas.
Dengan menggunakan lift mereka langsung menuju lantai 6 dimana bioskop berada. Hari itu mungkin karena week end jadi lebih banyak pengunjung, liftpun cukup penuh dan keberadaan bentari juga Birendra cukup menyita perhatian pengguna lift. Beberapa dari mereka diam-diam melirik, bahkan ada yang terang-terangan menatap langsung.
Jujur saja Bentari sebetulnya belum siap untuk berada dikerumunan setelah kasus yang menimpanya kemarin, namun dia tak bisa menolak ajakan Birendra yang melakukan ini demi kebaikannya. Alhasil saat ini Bentari tertunduk berusaha menyembunyikan wajah dari perhatian banyak orang, jantungnya mulai berdebar lebih kencang, bahkan tubuhnya sedikit gemetar menerima tatapan menyelidik dari orang-orang, dan itu dirasakan oleh Birendra.
“It’s okey, I’m here with you,” bisik Birendra sambil mengeratkan genggaman tangan mereka. “Abaikan mereka, cukup fokus kepadaku.”
Bentari yang tertunduk menatap tangannya yang berada dalam genggaman Birendra, terasa aman dan nyaman. Jantungnya kini berdebar bukan karena tatapan dari orang-orang yang terasa menghakimi, tapi karena efek yang disebabkan oleh tangan hangat milik pria yang kini kembali memerlihatkan wajah dinginnya hingga orang-orang tak berani lagi menatap bahkan melirik ke arah mereka.
Bentari tahu dia seharusnya tidak semudah ini untuk kembali luluh, namun hati tak bisa berbohong. Dia kembali lagi merasakan perasaan nyaman seperti dulu ketika mereka sering melewatkan waktu bersama.
Apa kali ini dia akan kembali? Bentari harap tidak, kalaupun Birendra kembali menjauh, kali ini Bentari tidak akan menyerah begitu saja. Setidaknya dia akan berusaha terlebih dahulu, tidak langsung menyerah dan putus asa seperti dulu lagi.
*****