
“Nggak apa-apa nih, Mas, pulang cepat?”
“Tenang saja di kantor juga lagi tidak ada kerjaan.” Berindra menoleh sesaat sambil tersenyum sebelum kembali manatap jalanan.
Bentari mencoba tersenyum walau dalam hati dia merasa mengutuk siapapun yang menyebarkan berita tentang Birendra, membuat pria itu harus kehilangan beberapa klien penting yang selama ini memakai jasanya bahkan tadi Bentari melihat bagaimana seisi kantin menatapnya kemudian berbisik-bisik membicarakan pria yang saat ini tengah duduk di belakang kemudi.
Bentari sempat memerhatikan keadaan di dalam kantin selama beberapa saat, hatinya terasa sakit melihat bagaimana Birendra duduk seorang diri di bawah tatapan menyelidik dari seisi kantin, itulah mengapa tadi Bentari melakukan hal kekanak-kanakan dengan mengakui kalau dia merindukannya di depan umum hanya untuk menunjukan kepada semua orang kalau dia tidak akan terpengaruh oleh berita yang beredar, juga untuk memberi tahu Birendra kalau dia tidak sendirian menghadapi masalah ini.
“Mas Abhi sudah makan?”
“Sudah tadi.”
Bentari mencebik. “Mas tadi cuma minum es kopi saja, tidak makan.” Birendra menatap Bentari dengan mengangkat alisnya. “Aku sudah ada di sana sebelum ketiga teman Mas ABhi datang, jadi aku tahu kalau Mas Abhi hanya minum es kopi saja, juga …”
“Juga …”
“Juga melihat bagaimana seisi kantin menatap Mas Abhi … Mas Abhi sudah menjadi orang terkenal sekarang.”
Birendra terkekeh mendengar ucapan Bentari.
“Jadi seperti ini rasanya menjadi orang terkenal?” Birendra membelokkan mobilnya ke rumah makan cepat saji yang berada tak jauh dari kantornya. “Tidak apa-apakan kita makan burger? Baru terasa lapar sekarang.”
Bentari tersenyum sambil mengangguk, “Aku juga lapar.”
Birendra memasuki area drive thru, menyebutkan pesanan mereka. Dua burger, dua kentang, satu soda untuknya, dan lemon tea untuk Bentari.
“Bagaimana rasanya menjadi orang yang tiba-tiba terkenal?”
Bentari bertanya sambil membuka kertas pembungkus buger dan memberikannya kepada Birendra, kemudian dia melakukan hal yang sama untuk burgernya.
“Aku tidak menyukainya.”
Bentari mengangguk dengan mulut penuh.
“Aku pun tidak suka.”
Birendra menatap Bentari sesaat, mereka saat ini tengah berada di jalan Panglima Sudiman dimana terdapat monumen bambu runcing yang ikonis.
“Bukankah itu duniamu?”
“Bukan. Aku tidak ingin terkenal. Aku bukan actor atau artis.” Bentari menyedut lemon tea nya sebelum melanjutkan ucapannya. “Aku masuk ke dunia itu karena apa yang ku upload di sosmed, dan kebetulan banyak yang suka, tapi ketika kasus kemarin tidak sedikit yang menghujatku. Mas Abhi tahu sendiri kan apa yang terjadi denganku kemarin? Bagaimana mereka menghujatku dengan fitnah-fitnah yang membuat kepalaku pusing.”
Birendra yang sedang mengunyah suapan terakhir burgernya menganggukkan kepala.
“Mas Abhi juga saat ini pasti lagi kesal, marah, tapi tidak tahu harus melampiaskannya kepada siapa bukan?”
Birendra terdiam, matanya fokus menatap jalanan.
“Itu hal wajar, kita ini manusia ya wajar kalau marah, kesal. Siapa juga yang tidak marah membaca komentar-komentar itu. Aku saja, Mas, euh! Rasanya pengen aku ulek mulut mereka pakai cabai!”
Bentari berkata dengan sedikit emosi membuat bibir Birendra sedikit terangkat memerlihatkan senyumnya.
“Apa Mas Abhi nggak mau menuntut mereka gitu?”
“Untuk apa? Setelah mereka tertangkap, mereka hanya akan menangis-nangis meminta maaf, dan akhirnya … selesai! Seperti yang terjadi dengan kasus kamu kemarin.”
Bentari mengangguk sambil menghela napas mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Setelah konferensi pers dan mengumumkan akan menuntut mereka yang memberikan komentar jahat, para netizen yang budiman itu berbondong-bondong meminta maaf karena takut ditangkap.
“Tapi aku penasaran deh, Mas, siapa sih yang memberi informasi kepada para wartawan? Kok bisa tahu masa lalu Mas Abhi sampai sebegitu detailnya? Mas Abhi ada mencurigai seseorang tidak?”
“Tidak.”
Walaupun jujur saja dalam hati terliarnya ada satu nama yang dia curiga. Orang mengetahui semua kisahnya dan mendendam padanya. Doni. Tapi sebagai mantan teman dekatnya, Birendra berusaha menyangkal, dia tahu Doni tak seburuk itu. Doni mungkin membencinya, tapi dia tak akan sekejam itu membeberkan rahasia terkelamnya kepada dunia.
Bukan hanya Bentari, Birendra pun telah berpikir tentang itu, dan Doni semakin tercoret dari daftar orang yang Birendra curigai. Apa yang Doni dapatkan dengan memberikan informasi tentang Birendra? Tidak ada, selain rasa puas karena Birendra akan dihujat banyak orang … hati Birendra mencelos menyadari hal itu. Bukan kah selama ini itu yang diinginkan Doni? Melihat Birendra sengsara dan menderita dengan diingatkan kepada masa lalu.
***
Kehadiran Bentari di Surabaya membuat Birendra sedikit melupakan masalahnya, dia tak peduli dengan pandangan orang-orang maupun komentar negatif di media sosialnya yang semakin hari semakin parah. Ranah pribadipun mulai diungkit, banyak yang meminta Birendra menjauhi Bentari, namun hal itu ditanggapi santai oleh Bentari yang semakin menunjukan kalau dia tak akan meninggalkan Birendra, bahkan dia berani mengupload hal itu di media sosialnya.
Tentu saja hal itu menimbulkan pro dan kontra, dari yang mulai memuji kesetiaan Bentari sampai yagn menyebutnya bodoh, kena diguna-guna Birendra, yang banyak lagi yang tentu saja tak dihiraukan gadis cantik itu.
Hingga suatu hari entah dari mana datangnya seorang pria tua dengan tubuh kurus kering, rambut tipisnya yang panjang sebahu sudah mulai memutih, matanya terlihat sayu, bicaranya tak jelas. Pria tua itu terlihat kontras duduk di samping tim pengacaranya yang diketuai oleh seorang pengacara ternama yang sering wara-wiri di televisi yang berpenampilan rapi.
“Pak Yanto hanya menginginkan keadilan untuk putrinya yang sudah meninggal,” ucap sang Pengacara. Sultan Kelana. “Dia meminta kasus kematian putrinya, Salsabila, diselidiki ulang. Apa betul kematiannya karena kecelakaan, atau karena bunuh diri seperti yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan? Kalau memang karena kecelakaan, keluarga sudah mengikhlaskannya, namun kalau karana bunuh diri, keluarga meminta diusut tuntas alasannya, dan meminta penegak hukum untuk memberi keadilan.”
Pemberitaan itu semakin membuat pemberitaan tentang Birendra semakin besar. Kalau sebelumnya Birendra hanya menjadi sasaran di media sosial, tapi kini kehidupan sehari-harinya pun terusik dengan beberapa wartawan yang mengejarnya meminta keterangan darinya, bahkan mereka mendatangi kantor Birendra yang tentu saja mengganggu kegiatan di sana, hingga akhirnya atasan Birendra meminta Birendra jangan dulu datang ke kantor sampai beritanya mereda.
Beberapa hari ini Birendra tinggal di rumah paklek Wahyu karena alamat apartemennya sudah diketahui wartawan, bahkan beberapa mereka menungguinya di sana.
“Ini sudah keterlaluan!” Seru Bentari yang wajahnya terpampang di layar ponsel Bentari. “Kita tidak boleh diam saja, Mas!”
“Iya, aku akan bicara kalau polisi meminta keterangan, tapi sampai saat ini aku belum mendapatkan panggilan dari polisi.”
“Kenapa kita tidak melaporkan balik mereka? ini pencemaran nama baik.”
“Tidak bisa.”
“Kenapa tidak bisa?”
“Mereka tidak menyebutkan nama. Kalau aku melakukan itu, malah membuat semua orang curiga padaku.”
Bentari menghela napas terlihat putus asa.
“Jadi kita harus bagaimana, Mas? Semua orang sudah menuduh Mas Abhi yang membuat Salsa meninggal, padahal itu sudah jelas-jelas kecelakaan.”
Birendra mengusap wajahnya yang terlihat lelah. Seandainya Bentari tidak berada di sisinya, dan keadaan Birendra masih seperti beberapa bulan yang lalu, mungkin saat ini Birendra sudah benar-benar hancur, dan bisa saja dia melakukan kebodohan yang pernah dia lakukan dulu … bunuh diri.
Akan tetapi kini berbeda, ada Bentari yang selalu ada untuknya, keluarga paklek Wahyu yang mencemaskannya, Fahmi yang setiap hari akan menghubunginya memastikan mentalnya baik-baik saja. Selain itu keinginannya yang begitu besar untuk sembuh membuatnya lebih kuat dan tidak goyah, demi orang-orang yang menyayanginya, juga demi dirinya sendiri.
“Mas.” Birendra kembali tersadar dari lamunan, terlihat wajah cemas Bentari di layar ponsel membuatnya tersenyum.
“Tidak perlu cemas, aku sedang mencari jalan ke luarnya.”
Bentari mengangguk.
“Tapi, Mas … Mas Abhi merasa aneh tidak?”
“Aneh kenapa?” Birendra menyulut rokoknya setelah membuka jendela kamarnya yang memerlihatkan kebun belakang rumah paklek Wahyu.
“Bapaknya Salsa … bagaimana dia bisa mengenal pengacara sehebat Sultan Kelana?”
Birendra menghembuskan asap rokok ke pinggir. Yang dikatakan Bentari memang benar, itupun sudah menjadi pikiran Birendra.
“Maksudku …”
“Aku paham, tidak mungkin bapaknya Salsa bisa membayar Sultan Kelana dan timnya.”
“Itu dia maksudku! Apa mungkin ada seseorang yang sengaja membuat berita ini berkembang sedemikian besar, untuk membuat Mas Abhi jatuh?”
Birendra bukan tidak pernah berpikir seperti ini. Hanya saja dia berpikir ulang … siapa orang yang ingin membuatnya hancur? Dan kenapa?
Beberapa hari ini dia berpikir tentang itu, tapi sampai sekarang Birendra masih belum menemukan jawabannya.
*****