Sprezzatura

Sprezzatura
Gift from God



Matteo Alromano Baird.


Kaivan yang memberikan nama itu. Matteo berarti hadiah dari Tuhan. Alromano adalah nama tengah Kaivan, nama yang diberikan oleh mendiang ibunya, dan Baird menandakan darah siapa yang mengalir di tubuhnya.


"Dia sangat mirip denganmu" suaraku terdengar agak serak karena menangis berjam-jam lamanya. Setelah rombongan dari rumah sakit pamit pulang, aku tidak beranjak sedikitpun dari tepi ranjang Teo.


"Teo memiliki sinar matamu, Stella" ungkap laki-laki yang menemaniku disamping Teo.


Sudut bibirku sedikit terangkat. Ada satu hal yang sangat Kaivan sukai dariku, yaitu bagaimana mataku berbinar setiap kali tersenyum. Dia bilang sinar mataku seperti bintang, karena itu dia memanggilku Stella, sebuah bintang.


Tapi senyuman itu memudar melihat kembali pemandangan di depanku. Teo tertidur dengan selang dimana-mana. Sebuah elektrokardiograf bertengger di sisinya, memperlihatkan statistik detak jantung makhluk kecil ini. Di mulutnya terpasang inhalator, mempermudah tarikan nafas pendek-pendeknya. Pemandangan ini adalah pemandangan paling memilukan yang pernah ku lihat. Sungguh, aku sanggup menukar apapun jika saja aku bisa berganti posisi dengannya.


"Kenapa kau tidak mengatakan hal ini sejak awal Kai"


"Dan melihatmu terpuruk seperti saat ini?"


"Apa bedanya kau memberitahuku dulu ataupun sekarang? Sama-sama terpuruknya kan?"


"Teo.. aku harus memastikan kondisinya membaik untuk kau temui."


"Apa itu berarti kondisi Teo sebelumnya lebih buruk dari sekarang?"


Kaivan terdiam. Seburuk apa kondisi Teo sebelum ini. Melihat kondisi Teo sekarang saja sudah terasa seperti ditusuk-tusuk seribu pisau, sakit sekali. Lalu bagaimana keadaannya sebelum ini. Rasanya air mataku sudah habis untuk menangis hari ini.


"Yang sudah biarlah berlalu. Sekarang yang terpenting adalah kesembuhan Teo."


"Ah, tadi orang-orang itu bilang jika Teo bisa sembuh dengan pencangkokan sumsum tulang. Apa karena itu kau memintaku memberikan adik untuk Teo?"


Kaivan memandangiku beberapa detik sebelum mengangguk pelan.


"Kau harusnya mengatakan saja yang sejujurnya. Tidak perlu mengambil keuntungan waktu aku tertidur atau dengan mengancamku" sindirku mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.


Kaivan menunduk, "Pertama, kau tampak bahagia dengan kehidupan barumu. Kedua, aku perlu mengulur waktu untuk mempertemukan kau dan Teo. Waktu itu Teo... koma."


"Koma?"


"Kondisinya berada di antar hidup dan mati. Saat itu aku membuat keputusan, jika saja Teo bisa bertahan hidup, aku akan mempertemukan kalian. Tapi.."


"Tapi kalau Teo tidak bisa bertahan?"


Kaivan menelan ludahnya, "Aku akan diam. Jangan sampai kau mengetahuinya"


"Dan kau tidak akan membiarkan Teo bertemu ibunya hingga akhir hayatnya?"


Kaivan mendesah, "Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kau terluka"


Aku ikut mendesah. Beban di kepalaku terasa sangat berat. Kaivan benar, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Sekarang yang terpenting adalah kesembuhan Teo. Untuk itu aku harus bisa melahirkan adik untuk Teo. Hal ini berarti ada satu hati yang harus aku sakiti, Sadeva. Oh, how come the world becomes so cruel to me..