
Setiap kali melihat raut wajah kesakitan Stella, selalu datang rasa bersalah di dalam benakku. Bagaimana aku tidak bersamanya saat dia melahirkan Teo. Hari-hari penuh perjuangan yang harus dia lalui seorang diri. Menahan rasa sakit yang begitu luar biasa.
"Kai...Kaivan.." Stella mengoyang-goyangkan badanku pelan. Aku terbangun. Melihat jam di dinding menunjukkan pukul tiga lewat enam belas menit dini hari.
"Kenapa?" perasaanku tidak enak, aku melihatnya meringis sambil memegang perutnya.
"Sa..kit..sakit sekali. Sepertinya sudah saatnya"
Aku segera bangkit, meletakkan tanganku di pungungnya dan mengelus-elus lembut, berharap bisa sedikit memberikan ketenangan. "Kita ke rumah sakit sekarang ya?"
Stella mengangguk kecil.
Untung saja tas dan segala perlengkapannya sudah disiapkan jauh-jauh hari. Jadi tidak perlu ribut lagi mempersiapkan segala kebutuhan untuk di bawa ke rumah sakit. Aku segera menelepon bawahanku, memintanya menyiapkan mobil dan menghubungi pihak rumah sakit. Aku memapah tubuh Stella, sesampainya di ruang tengah kita bertemu Deva.
"Apa sudah saatnya?" Deva dengan rambut berantakan dan segelas air putih di tangannya bertanya padaku.
Aku mengangguk, "Tolong segera siapkan Teo, jika tidak ada halangan mungkin dia bisa secepatnya melakukan operasi setelah anak ini lahir."
"Baik. Aku akan mengurus Teo. Setelah semuanya selesai, aku akan segera menyusul ke rumah sakit" ucap Deva sebelum berlari ke arah kamar Teo.
Aku sungguh tidak tega melihat rintih kesakitan di wajah Stella. Selama perjalanan hingga sampai di rumah sakit dia terus meremat-remat tanganku, seolah ingin menyalurkan setiap rasa sakit yang dia rasakan. Aku tahu, rasa panas di tanganku tidak ada apa-apanya dibanding kesakitan yang sedang dia rasakan. Karenanya, aku membiarkan seluruh tubuhku menjadi pelampiasan rasa sakitnya. Sesampainya di rumah sakit, dokter memberikan suntikan epidural untuk sedikit menenangkan Stella. Tiga jam berlalu, masih belum ada tanda-tanda si kecil akan keluar. Stella dengan santainya berjalan-jalan mengelilingi kamar sementara aku tak henti-hentinya merasa khawatir.
"Belum ada tanda-tanda akan keluar?" tanyaku tidak sabar.
"Tenanglah sedikit. Melahirkan itu bukan proses yang terjadi satu atau dua jam saja, memang lama begini"
"Kau tidak lihat aku sedang melakukannya?"
"Sudah hampir satu jam kau mondar-mandir Stella"
"Kau pikir dengan mengeluh terus seperti itu bisa membantuku mempercepat pembukaan? Simpan energimu untuk di dalam kamar persalinan nanti"
"Memang ada apa di dalam kamar persalinan?"
"Kau sudah tidak menemaniku sewaktu melahirkan Teo, hari ini aku akan memberikanmu dua kali lipat yang seharusnya kau dapatkan" Stella menyeringai. Seringainya membuatku sedikit begidik nyeri.
***
Deva datang dengan tergopoh-gopoh tepat saat Stella dibawa masuk ke ruang bersalin.
"Bagaimana Teo?"
"Dia sudah di ruangannya. Aku meminta Evellyn untuk menjaganya"
"Bagus." ucapku sebelum seorang perawat memanggil kami, "Maaf, untuk suami pasien bisa memasuki ruangan"
Kami menjawab secara bersama-sama, "Ya" sebelum melenggang masuk meninggalkan wanita berseragam putih itu mematung di ambang pintu.