
"Makan apelnya" Deva menyuapkan satu potong apel yang telah dia kupas bersih sebelumnya. Rasa manis buah berkulit merah itu menyapa indera pengecapku, menghilangkan rasa hambar dari bubur yang baru saja selesai aku makan.
"Aku sudah siapkan Jet pribadi. Kyla akan ikut pulang denganku" ujar Kaivan sambil membereskan alat makan rumah sakit di depanku. Kenapa? Heran kenapa dua laki-laki ini bisa ada di sini?
Aku juga masih tidak percaya mereka berada di satu ruang yang sama, bergantian menyuapiku yang kini bersandar di ranjang rumah sakit. Semua ini gara-gara apel itu. Apel merah khas Vesuvia yang Deva suapkan.
Semua dimulai saat aku membuka mata pagi ini. Hal yang pertama kali aku lihat adalah dua orang laki-laki, satu duduk di samping kanan dan yang satunya duduk di samping kiriku. Jika pandangan bisa membunuh, mungkin tak ada yang terselematkan di ruangan ini. Deva di sebelah kananku, rahangnya mengeras dan ada api di bola matanya. Sementara Kaivan ada di sisi kiri, bersedekap santai dengan kedua tangannya di silangkan di depan dada. Sudut bibirnya sedikit membiru, mungkin dia mendapat satu pukulan selamat datang dari Sadeva.
"Kyla... kau bermain dibelakangku?" itu kalimat pertama yang aku dengar dari Sadeva pagi ini. Sudah tentu ada nada amarah dalam suaranya.
Seluruh tubuhku mendadak kaku. Bahkan mulut pun terkunci rapat. Tak ada penyangkalan dan tak ada pengakuan yang sanggup aku utarakan.
"Dev... a..ku"
"Sejak kapan?" masih dengan wajah datarnya Deva memojokkanku.
Aku menelan ludah. Belum pernah kulihat Deva semenyeramkan saat ini. Deva yang penuh kasih sayang, Deva yang penuh perhatian, seketika hilang digantikan Deva yang penuh amarah dan kebencian.
Pandanganku beralih menatap Kaivan yang masih terlihat sangat santai duduk di kursinya, meminta penjelasan atas apa yang terjadi sebelum aku bangun pagi ini.
"Kenapa? Aku hanya membawakanmu apel." Tanpa rasa bersalah Kaivan membela diri. Dagunya menunjuk satu keranjang apel yang kini tergeletak di atas meja. "Bukannya saat kau sakit kau suka sekali makan apel? Kau bilang rasanya bisa menawar rasa pahit di lidahmu"
Aku menyipitkan mata. Bisa-bisanya laki-laki itu masih bersikap biasa aja dalam situasi seperti ini.
"Ah, tapi memang aku mencuri sedikit ciuman darimu tadi. Jika saja dia datang lebih lama, aku mungkin akan mendapatkan lebih banyak ciuman darimu."
"Tuan Baird" suara Deva mengeras, "Anda mungkin boss di kantor, tapi di sini Anda hanya tamu tak di undang. Jadi jaga kata-kata Anda. Saya sedang berbicara dengan tunangan saya. Atau kalau Anda mau, Anda bisa angkat kaki dari ruangan ini"
"Tunangan? Ck, yang kau maksud tunangan itu istriku?"
Deva mengerutkan dahinya, masih bingung dengan apa yang baru saja Kaivan utarakan.
"Kaivan! Jangan bahas itu sekarang" ucapku sedikit menggertak.
"Kenapa? Tidak ada yang salah kan dengan ucapanku? Kau masih istriku Stella"
"Kau masih mengatakan aku istrimu setelah apa yang kau ucapkan malam itu?"
"Kau tau sendiri Stella, aku hanya terlalu emosi malam itu. Apapun yang aku katakan, aku tak sungguh-sungguh memaknainya"
"Kau pergi Kaivan, tepat setelah mengatakan kita selesai."
Aku meraup wajahku kasar. Kepalaku terasa penuh dan sedikit pening. Mungkin karena harus menanggapi dua lelaki di depan ini atau mungkin juga karena kondisi tubuh yang masih lemah.
"Beri aku waktu untuk bicara empat mata dengan Deva" pinta gue lirih ke Kaivan.
"Kalau kau mau bicara dengan dia, bicara saja. Tapi aku tetap di sini!" tegasnya.
"Kaivan... tolong"
"Kalau kau tidak bisa, biar aku saja yang mengatakannya."
Kini pandangan Deva beralih ke lelaki di seberang ranjang. "Baik Tuan Sadeva yang terhormat, yang baru saja anda sebut tunangan Anda adalah istri saya, ibu dari anak saya, Teo. Memang karena suatu hal kita terpisah tanpa mengetahui kabar satu sama lain dan baru bertemu lagi beberapa waktu yang lalu. Itulah yang membuat Kyla harus melupakan masa lalunya dan menjalani kehidupan baru. Tapi di sini saya sekarang. Jadi apapun yang terjadi antara Anda dan istri saya, semuanya berhenti sampai di sini."
"Kaivan!" aku berusaha menghentikannya, tapi percuma.
"Anda lelaki yang pintar dan bermartabat Tuan Sadeva. Jadi tanpa harus saya jelaskan lebih lanjut, Anda pasti mengerti."
Terlihat jelas di wajah Deva bagaimana kata-kata Kaivan menamparnya. Dia hanya terdiam, dengan rahang yang sedikit mengeras dan mata melebar sempurna.
"Kenapa...kenapa tak kau katakan sejak awal Kyla!" suara Deva yang meninggi mengagetkanku. "Puas kau membodohiku seperti ini? Kau pikir aku ini lelucon? Bisa kau bohongi semaumu!"
"Jangan bentak Kyla!" Kaivan tidak kalah tegas, "Jika bukan karena memperdulikan perasaanmu, Kyla sudah mengatakannya sejak awal. Dia hanya butuh waktu yang tepat untuk mengatakannya"
Sadeva terdiam sejenak. Ada setitik kebingungan dan rasa kecewa di matanya. "Lalu.. anak itu.. anak yang ada di perutmu, itu anak siapa Kyla?"
Pertanyaan itu akhirnya keluar. Pertanyaan yang sangat tidak ingin aku dengar.
"Anak..? Kyla hamil?" kini wajah Kaivan yang terkejut. "Bukannya kau sedang menstruasi?" lanjutnya meminta kepastian.
Tanpa bisa dicegah air mataku turun. Sudah berapa kali aku menangis sejak mengetahui bayi ini ada di dalam perut. Mataku sudah bengkak, tapi air mata ini seolah tidak ada habisnya.
"Jawab Kyla. Itu anak siapa?" Deva juga sama memojokkanku.
Aku menunduk. Ku pakai kedua tanganku untuk menutup wajah. Isak tangis pun tak juga berhenti.
"Kyla?" kali ini nada bertanya dari suara Kaivan.
Aku hanya bisa menggeleng. Suaraku masih tenggelam di dalam tangis tapi sebisa mungkin aku mengutarakannya, "Aku tidak tahu. Hiks..hiks.. Aku tidak tau siapa ayah bayi ini"