Sprezzatura

Sprezzatura
Sprezzatura



Lebih dari sekedar konsep, kata ini pertama kali diciptakan pada abad ke enam belas oleh Baldassare Castiglione dalam karyanya The Book of the Courtier. Sprezzatura, keanggunan tanpa usaha, seni yang melampaui seni. Meskipun pada awalnya dipakai dalam pendeskripsian keanggunan etika dan seni berbusana, namun lambat laun masyarakat Renaisans kuno menggunakannya untuk menggambarkan kehebatan ahli seni dalam membuat patung-patung dan lukisan-lukisan yang hampir menyerupai bentuk nyatanya. Sprezzatura... ungkapan pujian paling tinggi yang di dapat dalam abstraknya keindahan seni.


 


Saat aku bekerja sebagai interior designer, aku selalu dituntut untuk menampilkan seni bernilai tinggi. Semua hal bisa menjadi seni, dari batu-batuan di tanah, air mengalir, bunga-bunga bermekaran, hingga daun-daun yang kering pun semua punya nilai keindahannya sendiri-sendiri. Tak heran jika coretan-coretan di kanvas maupun pahatan-pahatan di batu dapat menembus dimensi waktu dan mengambil alih ketertarikan manusia.


 


Picasso Les Femmes d'Alger, Munch The Scream, dan Renoir Dance at Moulin de la Galette, aku pikir sebuah karya seni harus memiliki setidaknya kualitas seperti itu untuk disebut luar biasa. Tapi aku salah, tangan manusia tak pernah bisa menandingi maha karya Tuhan. Bintang-bintang yang gemerlapan di malam hari, awan yang berarakan di atas sana, dan kupu-kupu yang berterbangan di antara bunga-bunga, itulah seni yang sesungguhnya. Seni yang hidup dan bernyawa.


 


Setiap dari kita mendapatkan satu seni. Seni yang Tuhan berikan khusus untuk kita. Milikku sedang berada di sana. Berdandan rapi dengan setelan tuxedo hitam dan dasi kupu-kupu yang ditarik-tarik kecil oleh seorang bayi dalam gendongannya. Sementara tangannya yang lain sibuk berusaha menghentikan anak lelaki kecil yang mengambil gelas kedua ice cream kesukaannya.


 


"Kaivan" aku melangkah mendekatinya.


 


"Oh syukurlah kau cepat datang. Teo tidak mau berhenti makan es krim" gerutunya padaku.


 


"Benarkah?" aku berbalik menatap anak kecil yang kini dengan takut-takut mengembalikan gelas itu ke tempatnya.


 


Meskipun operasi Teo berhasil, namun dia masih harus di bawah pengawasan. Bagaimanapun tubuhnya masih dalam masa perkembangan. Segala hal bisa terjadi jika asupannya tidak diperhatikan.


 


Aku dan Evellyn selalu tegas tentang apa yang boleh dan tidak boleh Teo lakukan. Berbeda dengan Kaivan dan Deva, terkadang mereka terlalu memanjakan anak-anak, tak heran jika dua anak lelakiku lebih suka menempel pada mereka.


 


Aku berjongkok menyejajarkan wajahku dengan Teo. Tak aku sangka, sekarang dia sudah lebih tinggi beberapa centimeter. "Matteo ingin makan es krim?" tanyaku pelan-pelan.


 


Bocah itu mengangguk.


 


 


"A..tu.." jawabnya lirih.


 


"Kalau sudah satu berarti makan es krimnya besok lagi ya?"


 


Dia mengangguk meski bibirnya mengerucut ke depan.


 


"Bagaimana kalau makan puding? Ada puding susu di sebelah sana. Teo mau?"


 


Mata bocah kecil itu berbinar. Dia mengangguk-angguk semangat sebelum menarik lenganku ke arah tempat dimana aku baru saja menunjuk.


 


Ditengah lahapnya Teo menyantap puding susu kesukaannya, suara musik dimainkan. Semua hadirin berdiri menyambut sosok seorang wanita berbalut serba putih dengan rangkaian bunga di tangannya. Dia berjalan dengan anggun di atas karpet merah yang terbentang menuju altar. Seorang lelaki dengan setelan tuxedo warna putih berjalan di sisinya. Senyum mereka merekah, secerah suasana di taman terbuka ini.


 


"Mommy.. yayah.." cicit Teo sambil menunjuk-nunjuk dua insan yang sedang mengucap janji sucinya di hadapan Tuhan. Gaun pengantin karya Alfred Angelo berhasil menyembunyikan perut buncit sang mempelai wanita. Deva yang memaksa pernikahan mereka segera dilaksanakan. Dia ingin ketika anaknya lahir ke dunia, Evellyn sudah sah menjadi istrinya.


 


Suara riuh tepuk tangan menggema ketika pendeta mengumunkan bahwa mereka sudah sah menjadi suami istri. Di barisan terdepan, tampak Clara dengan suami beserta ibunya hadir memberikan ucapan selamat kepada sang mempelai. Aku dengar, Deva sempat mengajak Evellyn bertemu ibu dan saudara perempuannya itu beberapa hari sebelum pernikahan. Tidak ada perwakilan dari keluarga Morelli. Mereka semua menyatakan perang setelah apa yang dilakukan Evellyn pada kakak tertuanya. Persidangan Giovino Morelli sudah selesai dan dia dijatuhi hukuman lima belas tahun penjara atas perbuatannya. Belum lagi perusahaan mereka yang harus jatuh dalam waktu semalam. Nilai sahan meroket turun, investor-investor menarik investasi mereka, beberapa kerjasama dengan perusahaan lain dibatalkan, hutang semakin menumpuk dan akhirnya kekayaan keluarga Morelli hanyalah tinggal nama. Aset-aset mereka disita bank. Bahkan beberapa di lelang untuk menutup hutang. Tak terkecuali Vittorio Group yang ikut tumbang bersamaan dengan Morelli Group. Yang aku dengar, Nyonya Margareth sempat histeris, tidak mau menerima kenyataan yang terjadi. Dia sudah mencoba menghubungi semua relasinya untuk meminta bantuan, tapi percuma, siapa yang mau ikut jatuh terjerat hukum. Wanita tua itu sempat meledakkan amarahnya padaku dan Kaivan, mengobrak-abrik kediaman kami, memecahkan segala barang yang dia temui. Akan tetapi, kekuasaanya telah runtuh. Tak ada yang bisa dia lakukan untuk mengusik kehidupan kami. Terlalu depresi, aku mendapat kabar bahwa dia harus dirawat di pusat penanganan kejiwaan.


 


Semua kekayaan Kaivan hilang dalam sekejap bersama runtuhnya Vittorio Group. Tapi lelaki visioner itu selalu penuh recana dan perhitungan. Dia sudah menanam beberapa aset yang akan menjadi batu loncatan untuk bisnis barunya. Bisnis yang akan dia rintis sendiri dari nol. Dari sekian banyak aset Vittorio Group, ada satu yang berhasil dia selamatkan, yaitu Biomed, tempat dimana Sadeva bekerja. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia sengaja mengamankan Biomed untuk diberikan pada Deva. Ya, Deva sekarang menjadi direktur utama Biomed. Kenapa dua lelaki itu semakin lama semakin lengket saja?