Sprezzatura

Sprezzatura
Anagnorisis



"Kenapa kau memegangi bibirmu terus?" Kaivan meledekku.


"Karena siapa bibirku jadi begini?" aku menggeram.


Laki-laki itu terkekeh, merasa bangga dengan hasil karyanya. Dia mengoyak rambutku gemas dan merangkul pinggangku berjalan memasuki rumahnya.


Aku tidak pernah menyangka bisa bertemu dengan lelaki ini lagi setelah terpisah darinya tiga tahun lalu. Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Tiga tahun adalah waktu yang cukup lama. Cukup lama untuk merubah berbagai hal. Bukan hanya hal, tapi juga orang.


Sejak berabad-abad yang lalu manusia selalu menyukai drama. Entah itu cerita kehidupan nyata atau hanya sekedar imajinasi dan khayalan. Tapi ada satu titik yang membuat drama begitu menarik. Titik itu disebut anagnorisis, yaitu terungkapnya sebuah fakta yang menjadi titik tolak dalam cerita.


Aku pikir drama kehidupanku sudah ada pada titik terburuk, tapi ternyata aku salah. Hidup itu memang selalu penuh dengan kejutan.


"Apa yang kau lakukan di rumahku?" Kaivan menatap tajam wanita di depannya. Langkah kita terhenti begitu mendapati wanita itu duduk di sofa ruang tengah. Usianya mungkin sudah menginjak kepala lima, tapi masih tampak guratan-guratan keangkuhan di lekuk wajahnya.


"Apa begitu caramu menyapa ibumu, Kaivan?"


Ibu? Tapi ibu Kaivan sudah meninggal.


Ah! Jangan-jangan...


"Kau hanya istri ayahku, bukan berarti kau ibuku"


Istri? Sepertinya dugaanku benar. Dia ibu tiri Kaivan. Istri sah Tuan Baird yang tidak bisa memberikan penerus untuk keluarga ini.


"Apa yang kau inginkan" dengan lantang Kaivan memotong ucapan wanita tua itu.


"Kau tau benar apa yang aku inginkan Kaivan, kenapa harus mempertanyakannya lagi?"


Si tua itu sungguh mengintimidasi. Hanya dengan sorot tajam matanya, semua orang menunduk takut. Tinggal Kaivan yang berani menatap lurus ke arahnya.


"Bawa Kyla ke atas" suara lirih Kaivan memerintah Tuan Martinelli untuk menyelamatkanku dari situasi ini.


Tanpa protes, aku mengekor Tuan Martinelli. Tapi dari sudut mata, aku masih bisa menangkap bayangan wanita tua itu. Berjuta pertanyaan timbul di benakku. Apakah benar wanita itu ibu tiri Kaivan? Jika benar, apa yang dia lakukan di sini?


Langkahku terhenti ketika melewati depan kamar Teo. Ada yang tidak biasa di sana. Ketika aku menoleh untuk memeriksa, pandangan kita bertemu. Bola mata ku menatap lurus ke arahnya, ke arah mata kecil yang bersinar seperti bintang. Manik hazelnya yang sangat mirip dengan milikku. Mata yang sangat ingin aku tatap. Sepasang mata itu kini sudah terbuka.


Teo sudah sadar. Dia sudah membuka matanya. Tanpa pikir panjang aku langsung menghambur masuk mengejutkan seseorang yang sedang menimang Teo dalam gendongannya. Aku terkejut. Wanita itu juga terkejut. Dia terlihat sangat muda dan cantik. Kulitnya putih mulus, rambutnya cokelat kemerahan, dan senyumnya bak musim semi yang baru datang. Tubuhnya ramping tanpa cela, bibirnya merah merekah. Percayalah, laki-laki manapun pasti akan tergoda. Tapi rasanya, wajahnya tidak begitu asing. Sepertinya aku pernah melihatnya, entah dimana.


"Kau siapa?" bibir merah itu bergerak menyapaku.


"Kau siapa?" aku membalas tak mau kalah.


"Aku Evellyn, calon istri Kaivan"


Tirai babak ke dua baru saja di buka. Ternyata, drama hidupku masih panjang.