Sprezzatura

Sprezzatura
Seribu Jalan ke Roma



Dan yang berikutnya terjadi membuat rahangku jatuh. Berkali-kali aku mencubit pipi, memastikan ini semua bukanlah imajinasi semata. Tiba-tiba saja aku merasa menjadi tokoh utama sebuah novel percintaan.


"Helikopter pribadi?" Pandanganku masih terpaku pada burung baja yang mendarat di karpet rumput halaman belakang rumah Kaivan.


Ah, aku lupa. Yang sekarang aku kencani adalah satu-satunya pewaris tahta keluarga Baird.


"May I have your hand Madam?" tuturnya sebelum menuntunku naik ke dalam.


"Kita mau kemana?" aku setengah berteriak karena bisingnya suara mesin yang menerbangkan suaraku.


"You will see" hanya itu jawabnya.


Hamparan ladang dengan hijau tanahnya terbentang luas di bawah sana. Barisan gunung berjajar kokoh di sisi utara sementara laut lepas memancarkan kilau cahaya mentari di bagian selatan. Beberapa pulau-pulau kecil di lepas pantainya nampak bagai sebongkah batu berlumut yang mengapung dipermainkan ombak. Rumah-rumah penduduknya masih sangat klasik, dikelilingi kawanan hewan mencari makan di padang rumput sekitar. Lautan pohon Cypress di sebelah barat menjulang tinggi, seperti jarum-jarum raksasa yang menancap di perut bumi. Di sebelahnya terdapat ladang berpetak-petak dengan berbagai macam jenis tumbuhan.


"Benvenuto in Toscana (Welcome to Tuscany) " Kaivan berteriak penuh semangat.


Aku yang masih menempel di dekat kaca tidak berhenti menggumamkan kata 'wow' dari mulutku.


"Apa itu di bawah sana?" aku menunjuk satu tempat yang terpetak-petak dengan banyak orang tersebar di dalamnya.


"Kau pernah minum Chianti kan? Di situ tempat membuatnya"


Mataku membulat, "Itu perkebunan anggur?"


Kaivan mengangguk menanggapi pertanyaanku.


"Aku mau satu"


"Hah?"


"Kau bisa kan membelikanku perkebunan itu?"


Kaivan menatapku tanpa berkedip.


"Kenapa? Tidak bisa? Ya sudah"


Laki-laki itu dengan cepat menggeleng, "Besok namamu yang akan tertulis sebagai pemilik perkebunan itu"


Aku terkekeh. Ini asyik sekali. Aku hanya sekedar bercanda tapi dia benar-benar menanggapinya. Satu perkebunan dia berikan untuk ku layaknya membeli permen, hanya tinggal sebut dan aku akan memilikinya. Jadi begini rasanya menjadi kekasih seorang billionair.


"Kalau begitu aku juga mau pulau yang di sana itu." rancauku sesuka hati bermaksud menggodanya.


Aku mendekat ke arahnya dan menarik lehernya mendekat, "Aku mau Kaivan Alromano Baird. Bisakah dia menjadi milikku?"


Kaivan tersenyum, "I'm always yours baby" dan kalimat itu ditutup dengan bibir kami yang saling beradu ribuan kaki di atas tanah.


Tuscany, kota yang keindahannya abadi. Kota yang elok rupanya hanya bisa aku nikmati dari lukisan-lukisan pelukis kelas dunia ternama seperti Da Vinci dan Michelangelo, kini tersaji nyata di depan mataku. Salah satu tempat paling memesona di dataran Italy yang melahirkan kebudayaan Renaissance. Dikenal mewariskan berbagai peninggalan berharga seperti bangunan-bangunan dengan arsitektur menakjubkan dan karya seni yang bermutu tinggi. Jejak-jejak maestro dan tokoh sejarah lainnya seperti Galileo Galilei, Botticelli, dan Dante Alighieri dapat ditelusuri di sepanjang kota. Sementara desa-desanya masih mengusung budaya abad pertengahan seperti San Gimignano, Pienza, dan Volterra.


"Kau ingin makan apa?" suara Kaivan dari balik buku menu menginterupsi kegiatan ku mengagumi kota ini.


Satu cengiran terukir di sudut bibirku, entah mengapa rasanya hari ini aku ingin sekali mengerjai laki-laki ini.


"Tempe goreng"


Mata Kaivan membulat, "Stella, kita sedang di Italia."


Aku pura-pura merajuk, "Aku tidak mau makan kalau tidak dengan tempe goreng. Ah, tiba-tiba saja aku juga ingin makan sayur padang dan rendang. Sudah lama sekali tidak makan itu" Aku ingin melihat sejauh mana dia mau berusaha untukku.


Tapi aku lupa. Sekali lagi, yang aku kencani saat ini adalah pewaris tahta keluarga Baird.


Kaivan mendekatkan Apple X keluaran terbaru ke telinganya. Dia nampak meminta salah satu anak buahnya untuk mencarikan apa yang baru saja aku minta. "Tidak peduli bagaimana caranya, kalian bisa terbang langsung ke Indonesia atau mencari di dekat sini. Semuanya harus segera terhidang di meja saya. Mengerti!" dengan satu gertakan bos besar itu menutup teleponnya.


Aku tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah Kaivan. Setelah merubah ekspresi tegasnya menjadi senyum manis dia berkata, "Lalu kau mau minum apa?"


"Jus angur"


Kaivan baru saja ingin memanggil waitress di restaurant ini sebelum aku menghentikannya. "Eits, aku tidak mau anggur yang di sini. Aku mau anggur dari perkebunan yang besok akan menjadi milikku."


Kaivan memijat kepalanya yang pening sementara aku meringis bahagia melihat ekspresi wajah pria di hadapan aku ini. Sekali lagi Kaivan melakukan panggilan dan menyuruh anak buahnya membawakan anggur dari tempat yang aku sebutkan tadi.


"Ada lagi?" tanyanya menantang.


"Aku ingin... kau"


Alis Kaivan terangkat, "Yang benar saja". Dia memutar dua bola matanya.


"Ayolah Kai.. Ada seribu jalan ke Roma" satu kedipan menggoda keluar dari mata kananku membuat Kaivan menelan ludahnya.


Dia menyeringai, "Tunggu apalagi?"


Untung saja restauran ini sudah dia pesan secara private, dan yang lebih untung lagi, tidak ada CCTV.