Sprezzatura

Sprezzatura
Yang Disembunyikan



-SADEVA POV-


 


Hanya satu yang aku suka dari rumah besar ini. Koleksi minumannya.


 


Aku menuang satu lagi brewery asal Jerman berlabel Sink The Bismarck ke dalam gelas dan menegaknya. Rasa panas seketika membakar tenggorokanku. Aneh, kenapa orang-orang selalu mencari minuman sepahit ini hanya sekedar untuk lari sesaat dari masalah hidup. Tak terkecuali juga aku.


 


Menyedihkan. Mungkin itu satu kata yang tepat untuk mendefinisikan hidupku. Meskipun jauh di lubuk hati aku menyadari bahwa tidak ada lagi tempat di hati Kyla untukku, namun aku masih bersikeras mengejarnya. Hanya satu harapanku, anak itu. Sungguh aku berharap itu bayiku. Tapi jika itu benar bayiku, Kyla pasti merasa sedih. Pertama, bayi itu kemungkinan tidak bisa menjadi donor untuk Teo. Kedua, bayi itu akan menjadi jurang pemisah antara dia dan Kaivan. Jika dipikir-pikir, sepertinya aku yang tidak diinginkan dalam hubungan ini. Jika tidak ada aku, Kyla mungkin akan bahagia berada di sisi lelaki itu sekali lagi.


 


Meskipun tidak ingin mengakuinya, aku mengerti perasaan Kyla. Bagaimana nama Kaivan tidak bisa digoyahkan dari hatinya. Sama seperti aku yang masih belum bisa sepenuhnya melupakan Clara. Jika saja disuruh memilih antara Clara dan Kyla, hatiku pasti akan memilih Clara. Walaupun dalam kenyataanya aku akan merasa tidak enak hati pada Kyla. Mungkin itu juga yang dirasakan Kyla, dia hanya tidak enak hati padaku. Karena itu dia mengijinkanku tetap di sisinya.


 


Tapi, walaupun dia ada di dalam jarak pandangku, rasanya dia sangat jauh. Aku bisa mengenggam tangannya, tapi tidak hatinya. Dan itu membuat dadaku terasa sesak sekali. Di matanya hanya ada Kaivan. Di pikirannya hanya ada Kaivan. Di hatinya hanya ada Kaivan. Meskipun jelas-jelas aku yang berdiri di hadapannya tapi hanya Kaivan yang mengisi setiap sel di otaknya.


 


Huh, apakah begini sakitnya cinta yang bertepuk sebelah tangan?


 


Sekali lagi aku menuangkan minuman memabukkan itu ke dalam gelasku dan menegaknya. Aku sudah memilih minuman paling berat, tapi kenapa aku tidak juga mabuk. Mungkin aku harus mengambil satu botol lagi.


 


Kamarku ada di ujung lorong menuju taman. Sekembalinya dari mengambil botol yang kali ini bertuliskan Crown Ambassador Reserve 2014, samar-samar aku melihat sesosok wanita duduk di bangku dekat kolam. Clara? Ah bukan, berharap sekali kau Sadeva. Itu bukan Clara, tapi Evellyn.


 


"Kau mau minum?" mungkin karena efek alkohol, berani sekali aku mengajak wanita galak ini minum.


 


Dia menoleh ke arahku, kemudian menengok ke kiri dan ke kanan memastikan yang sedang aku ajak bicara adalah dia, bukan orang lain. "Aku berbicara padamu"


 


Dia menunjuk dirinya sendiri, "Aku?"


 


Aku memutar bola mata, "Iya". Kemudian aku menyodorkan gelas kaca yang aku pegang di tangan kananku dengan tiba-tiba, membuatnya tidak punya pilihan lain selain menerima gelas itu.


 


"Crown Ambassador Reserve 2014. Limited edition." Aku menjelaskan merek minuman yang dikeluarkan hanya dalam jumlah terbatas ini sambil menuangkannya di dalam gelas di tangan Evellyn.


 


"Kau mencurinya dari tempat penyimpanan tuan rumah?"


 


"Anggap saja guest service" Jawabku sebelum menegak langsung dari mulut botolnya.


 


"Euh, rasanya sungguh pahit" dia membuat ekpresi getir tapi tetap menghabiskannya.


 


Aku menuangkan sekali lagi ke gelas kosongnya, "Jadi kau tidak kuat minum?"


 


"Siapa bilang? Ayo curi semua koleksi Kaivan. Kita habiskan malam ini"


 


Kita berdua terkekeh, "Aku pikir seorang dokter tidak akan minum minuman seperti ini" ujarku.


 


"Hanya karena aku bekerja di bidang kesehatan? Dokter tetaplah manusia, kadang mereka butuh pelarian"


 


"Pelarian? Kau ingin berlari dari apa?"


 


"Banyak. Tapi yang paling aku inginkan, berlari dari diriku sendiri."


 


"Kenapa?"


 


"Kau pernah merasa membuat keputusan yang salah dalam hidupmu?" Evellyn menyodorkan gelasnya, meminta aku menuangkan minuman getir ini sekali lagi.


 


Seraya mengisi gelasnya aku berpikir "Keputusan yang salah? Hmm, sekarang. Ya, sepertinya sekarang aku merasa membuat keputusan yang salah."


 


"Apa?" Dia meneguk minuman itu dalam sekali teguk.


 


 


"Maksudmu? Kaivan dan Kyla?"


 


Aku menyesap botolku dan mengangguk.


 


"Aku sangat cemburu pada Kyla?"


 


"Pada Kyla?"


 


"Ya. Dia wanita yang sangat beruntung"


 


"Beruntung? Biar aku jelaskan lagi. Dia terpisah dari anak dan kekasihnya nya selama tiga tahun. Terlebih lagi, sekarang anaknya sakit-sakitan. Kau bilang itu beruntung?"


 


Gadis itu menyodorkan gelas kosongnya dan aku kembali mengisinya, "Tapi dia mendapatkan banyak sekali cinta. Cinta dari Kaivan dan cinta darimu. Sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan"


 


Aku memincingkan mata. Menilai wajah dan tatapan sendunya. Tapi kemudian indera pengelihatanku menangkap sedikit luka lebam di pipinya, "Sebentar, ada apa dengan pipimu?' Tanganku mencoba meraih pipinya tapi dia mengelak.


 


"Bukan apa-apa" jawabnya.


 


"Kau.. dipukul?" aku menebak.


 


Wanita itu terdiam beberapa detik sebelum tangisnya pecah.


 


"Hei kenapa?" Aku menangkupkan tanganku ke pipinya.


 


"Aku bodoh.. benar-benar bodoh. Clara benar. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan"


 


"Maksudmu?"


 


Evellyn menggulung baju di lengannya. Menampakkan ruam-ruam merah yang telah berubah menjadi kebiru-biruan bekas tindak kekerasan. Dia juga menurunkan tutle neck-nya, menampakkan bekas luka yang sama. Mulutku ternganga. "Apa yang terjadi?" tanyaku.


 


"Mereka yang melakukannya. Kakak-kakak tiriku." Evellyn mengambil botol dari tanganku dan minuman itu kembali membasahi kerongkongannya, "Mereka bilang aku anak jalang. Tidak berguna. Mereka ingin aku menikah dengan Kaivan hanya untuk memperkuat jalinan bisnis mereka." Satu kali lagi minuman pahit itu masuk ke dalam kerongkonannya, "Mereka memukulku, menamparku, mencambukku karena aku masih tetap tidak bisa merebut hati Kaivan. Ini yang aku dapatkan terakhir kali ketika mereka tau Kaivan sengaja mengundur-undur pernikahan kita"


 


Aku merebut botol di tangannya, "Hentikan. Kau sudah mabuk"


 


Namun dia menolak, "Clara benar. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Dulu aku kira dengan ikut ayah, hidupku pasti terjamin. Segala kebutuhanku akan tercukupi dan aku akan bahagia. Tapi aku salah, di rumah itu aku diperlakukan seperti sampah. Kakak-kakak tiriku menganggapku parasit. Mereka selalu saja bertindak seenaknya padaku."


 


"Evellyn. Sudah, jangan minum lagi." cegahku.


 


Tapi dia tidak mendengarkan, "Andai saja waktu itu aku tidak masuk mobil ayah. Andai waktu itu aku bertahan bersama Clara dan ibuku, mungkin saat ini hidupku tidak semenyedihkan ini. Clara, dia pasti bahagia bersama orang-orang yang memberikannya banyak cinta. Tidak seperti aku. Sejak meninggalkan ibu dan adikku, aku tidak pernah mendapatkanya.. cinta"


 


Entah karena pengaruh alkohol di dalam darahku atau memang otakku yang sudah tidak waras, melihat wanita itu aku seperti melihat Clara. Wajah mereka memang mirip, tapi aku cukup sadar jika mereka adalah pribadi yang berbeda. Namun kesadaranku tidak berlaku malam ini. Di depanku, aku seperti melihat Clara yang terluka, Clara yang menangis, dan Clara yang tersakiti. Tanpa sadar kalimat itu keluar dari mulutmu, "Malam ini aku bisa memberikanya.."


 


Bola mata gadis di hadapanku memandang lurus ke arahku, "Apa?"


 


"Cinta"


 


Dan yang selanjutnya terjadi adalah bibirku mencecap manis bibir merahnya, sisa-sisa bir masih terasa di sana, membuat setiap sel di otakku lumpuh tidak berdaya. Gadis itu tidak melawan. Kita sama-sama menginginkan satu sama lain. Akhirnya, malam itu kita saling berbalut mesra, melupakan semua masalah yang ada.