
Dua jam berlalu. Nafas Stella memberat seiring usahanya mendorong si kecil keluar. Baik Deva maupun aku tak ada yang selamat dari cengkeraman Stella. Rambut kita dijambak, kepala dan tubuh kita dipukuli, bahkan sisa-sisa cakaran kukunya masih terasa panas di kulit. Mungkin ini yang dimaksud Stella dengan 'memberikan dua kali lipat yang seharusnya aku dapatkan' tadi. Tapi rasa sakit yang diterima tubuhku tidak sebanding dengan rasa sakit ketika mendengar rintihan wanita ini. Dia sedang berjuang di antara hidup dan mati, mengantarkan malaikat kecil yang bersemayan di dalam perutnya, dan tak ada yang bisa aku perbuat selain tetap memberikannya semangat.
Air mata terus keluar, ditambah lagi mulutnya yang tidak berhenti merintihkan kesakitan. Pada titik ini aku mulai menyadari, melahirkan adalah hal yang sangat sulit dan sangat sakit untuk dilalui. Bahkan orang sekuat binaragawan yang terbiasa mengolah kebugaran tubuhnya pun belum tentu bisa menghadapi masa-masa seperti ini. Tapi wanita kecilku yang rapuh, dia harus menahan setiap rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya. Berjuang sampai ambang batas.
"Sakit.. sakit sekali.. aku sudah tidak tahan" kalimat terakhir Stella menelusup dalam ke jantung hatiku. Air mataku tak sanggup lagi aku bendung. Sungguh, ini adalah pemandangan paling memilukan yang pernah aku lihat. Wanita yang aku cintai terlihat begitu pucat dan lelah, menahan sakit yang tiada tara, sementara aku hanya berdiri di sini, tidak bisa berbuat apa-apa. Jika saja rasa sakit itu bisa dibagi denganku, maka aku akan dengan senang hati menerimanya. Tapi kenyataannya tidak, dia harus berjuang sendiri, tanpa ada yang bisa mewakili.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Stella saat melahirkan Teo dulu. Tanpa ada seorangpun di sisinya untuk sekedar memberi semangat. Pasti sangat berat. Aku sungguh tidak tahu ada rasa sakit yang luar biasa seperti ini. Meskipun aku tidak merasakannya, namun hanya sekedar melihat raut wajah Stella, jantungku serasa ditikam-tikam mata belati tajam.
"Stella.. bertahanlah, sebentar lagi, ya sayang" hanya itu yang keluar dari mulutku.
Deva juga tidak ketinggalan ikut menyemangati, "Kyla, Kau pasti bisa. Sedikit lagi. Ayo dicoba, dorong sekali lagi. Demi Teo"
Mendengar nama anak kami disebut, sebuah lecutan semangat seperti membara dalam diri Stella. Dengan sekuat tenaga dia mendorong sekali lagi... dua kali.. tiga kali... tetapi nihil. Tidak ada tanda-tanda si kecil akan segera keluar. Tiga puluh menit berlalu, Stella sudah sangat lelah namun lekukan U belum juga nampak. Di saat-saat seperti ini, beberapa tenaga medis sudah menyebut-nyebut tentang prosedur operasi caesar. Mau caesar atau normal sungguh aku tidak peduli, yang penting Stella dan si kecil selamat.
Baru saja aku ingin menanggalkan sarung tangan dan maskerku untuk menandatangani persetujuan operasi, tiba-tiba salah satu dokter mengatakan, "Sepertinya kita bisa menggunakan tindakan forceps terlebih dahulu untuk mengeluarkan bayinya"
Aku pun menurut. Sekali lagi para tim medis mencoba dengan menopang kaki Stella tinggi-tinggi. Wanita itu mendorong dengan sekuat tenaga sementara di antara kakinya, dokter bedah terbaik di Italia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menarik kepala bayi dengan bantuan forceps. Saking kuatnya, sampai-sampai otot lengannya terlihat nyata.
Dan keajaiban pun terjadi, kepala bayi itu akhirnya muncul diikuti suara tangis yang menggelegar. Perasaanku membuncah, rasa lega dan terharu bercampur aduk menjadi satu. Aku terus berbisik di telinga Stella, "Kau berhasil sayang, kau berhasil." Dapat aku lihat senyum terukir di sudut bibirnya dan air mata yang terus keluar tanpa henti.
Setelah tenaga medis memotong tali pusar si kecil dan mengamankannya, pandanganku jatuh pada organ bawah Stella. Darah terus mengalir di sana, sangat deras dan sangat banyak. Seperti air bak yang meluap-luap, seolah tak bisa berhenti. Senyumku memudar, segala suka cita lenyap seketika. Aku dan Deva di bawa ke belakang, menjauh dari tubuh wanitaku. Petugas medis yang berada dalam ruangan kini jumlahnya dua kali lipat dari pada yang tadi. Mereka bekerja tanpa suara dan terlihat sangat profesional. Tapi wajah Stella semakin memucat, ada kesakitan yang coba dia tahan dalam tatapan matanya.
Seorang dokter memeriksa jalan lahir wanitaku, dan seorang lagi tampak sedang memijat perutnya. Mereka tidak bisa menghentikan pendarahan. Raut tegang tercetak jelas di sana, belum lagi beberapa perawat yang mulai gementaran. Mereka tentu tau apa konsekuensinya jika membuat marah pewaris tunggal keluarga Baird.
Yang aku takutkan benar terjadi. Salah satu tim medis berlutut dihadapanku. Dia mengatakan usaha maksimal sedang dilakukan untuk menghentikan pendarahan. Dalam waktu sepuluh menit, Stella kehilangan hampir tiga liter darahnya. Artinya, dia kehilangan setengah dari seluruh suplai darah di tubuhnya. Aku menangis. Tubuhku gemetaran. Lututku lemas. Aku jatuh bersimpuh di lantai.
Aku lihat ke arah Stella. Matanya metutup perlahan, setitik krystal bening mengalir menuruni pipinya yang tidak lagi merah merona.
Dan seketika itu, aku dibanting oleh sebuah realita.
Stella, aku mohon, jangan tinggalkan aku. Bertahanlah...