
Kaivan masih duduk di meja terdakwa. Raut wajahnya nampak tenang. Tidak ada ketakutan sedikitpun terpancar dari sorot matanya. Hanya saja tubuhnya terlihat sedikit agak kurus. Mungkin asupan makannya kurang terjaga selama berada dalam tahanan.
Tiga puluh menit berlalu. Hakim dan para penegak hukum lainnya sudah kembali ke ruangan. Mereka duduk di tempatnya masing-masing. Setelah membenarkan letak kacamata, lelaki berambut putih itu pun membacakan keputusannya.
"Setelah melihat, mendengar, menilai, dan mempertimbangkan barang bukti beserta keterangan saksi-saksi, maka Tuan Kaivan Alromano Baird dinyatakan terbebas dari segala tuntutan hukum. Sementara itu, jaksa penuntut umum telah mengeluarkan surat penangkapan terhadap Tuan Giovino Morelli yang diduga bertanggungjawab atas segala tuduhan terhadap kasus yang sedang berlangsung. Oleh karena itu, penyelidikan dan persidangan akan tetap berlanjut dengan Tuan Giovani Morelli sebagai terdakwa."
Tok tok tok.
Palu telah diketuk, mengakhiri sesi persidangan siang ini.
***
Aku berlari menyambut Kaivan yang baru saja melangkah keluar dari gedung megah beraksen klasik kuno itu. Tanganku menarik tubuhnya dan mendekap erat menumpahkan segala emosi yang satu minggu ini bergemuruh di dadaku. Air mata tak kuasa aku tahan. Perasaan lega dan bahagia bercampur menjadi satu.
"Stella, kenapa menangis sayang? Bukankah aku sudah dinyatakan tidak bersalah?"
Melepas pelukan, aku menghadiahkan pukulan bertubi-tubi ke dada bidangnya.
"Kau jahat. Jahat sekali. Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku. Kau sudah merencanakan hal ini jauh-jauh hari bukan? Kenapa tidak memberi tahuku? Apa kau tahu bagaimana perasaanku ketika melihat para polisi itu memborgol tanganmu? Aku kira kau benar-benar akan mendekam di penjara. Hiks..hiks.."
"Kenapa memangnya kalau aku mendekam di penjara?" canda Kaivan merasa gemas dengan ekspresi di wajahku.
"Kau mau pergi dari sisiku lagi? Setelah aku memberimu dua anak? Kau tega menjadikan aku single mother? Benar-benar menyebalkan" cubitan demi cubitan keras mendarat di perut dan lengan Kaivan menyebabkan laki-laki itu merintih kesakitan.
"Aww..aw.. iya ampun Stella.. Aww, jangan."
"Kau pantas mendapatkannya"
Kaivan menyeringai sambil mengelus bekas kemerah-merahan di kulitnya. "Galak sekali istriku." komentarnya.
"Jangan panggil aku istrimu. Bukannya istrimu yang sah di hadapan hukum beberapa waktu lalu bersaksi untukmu di muka pengadilan. Bahkan dia memanggilmu 'suamiku'. Cih"
"Kau cemburu"
"Tidak"
"Tidak salah kan?"
Kaivan tertawa, "Semuanya hampir selesai Stella. Aku akan menceraikannya setelah ini"
"Jadi ini kesepakatan kalian sejak awal?"
"Iya. Aku membutuhkannya untuk menghancurkan Morelli Group... dan juga Victorrio Group"
"Victorrio Group? Kau menghancurkan perusahaanmu sendiri?"
"Belum. Tapi sebentar lagi. Setelah pengadilan memutuskan Giovano Morelli bersalah, maka perusahaannya akan hancur, Victorrio Group juga akan terkena imbasnya."
"Apa yang kau dapat dari itu?"
"Margareth, dia akan kehilangan harta dan juga kekuasaan yang selama ini dia inginkan. Dengan begitu, aku akan terbebas darinya Stella. Aku, kau, Teo, dan Xavier, kita akan hidup bersama-sama tanpa ada yang mengganggu."
"Stella.." Kaivan menangkup kedua pipiku, "Terimakasih.. terimakasih sudah percaya padaku dan mau menungguku. Terimakasih sudah bertahan di sisiku selama ini. Terimakasih sudah memberikan dua malaikat kecil dalam hidupku. Terimakasih sudah menjadi alasan untukku bahagia. Terimakasih sayang, aku mencintaimu."
Sudut bibirku tertarik ke atas, "Aku juga mencintaimu... sangat mencintaimu"
Derap kaki Deva yang nampak terburu-buru melangkah ke tempat dimana kami berdiri.
"Kaivan, Kyla, kita harus segera kembali ke rumah sakit!" ucapannya sedikit terengah-engah mengatur nafas.
"Ada apa?" Kaivan bertanya.
Seluruh atensi kami tertuju padanya.
"Teo. Dia.. dia.."
Aku mengernyit, bersiap menerima kabar apapun yang keluar dari mulut Deva.
"Dia... sudah membuka matanya"