
"Kyla" Sadeva menginterupsi, membuat aku dan Kaivan menarik diri "Aku sudah memasak untukmu. Ayo, mumpung masih hangat"
Dia berjalan mendekat, "Sebentar, kau menangis?"
Aku segera mengusap pipiku, menyembunyikan barang bukti. "Tidak" ucapku berbohong.
Deva langsung menatap Kaivan dengan jari telunjuk menunjuk ke wajahnya, "Kau.. apa yang kau lakukan hingga membuat Kyla menangis?"
"Jangan asal bicara" tangan Kaivan menepis jari telunjuk Deva.
"Awas saja jika aku sampai tahu kau membuat wanitaku menangis lagi"
Kai mendesis, "Cih, wanitamu?"
"Dia ibu dari anakku!"
"Itu anakku"
"Siapa bilang. Jelas-jelas itu anakku"
"Stop" aku memijat keningku, tidak bisa mendengar lebih lanjut lagi perdebatan mereka, "Jadi kapan aku bisa makan?"
"Ah, ayo. Ikut denganku." Deva memegang tanganku dan membawaku ke meja makan. Sementara Kaivan mengekor dibelakang sambil mengomel, tidak suka melihat tanganku ada dalam genggaman Deva.
"Bagaimana? Enak kan?" tanya Deva setelah aku menghabiskan satu suap.
Aku mengangguk.
"Tentu saja. Selain enak makanan ini juga sehat dan bergizi. Akan sangat baik untuk pertumbuhan bayiku"
"Bayiku" Kaivan menyahut tidak terima. Sedari tadi dia hanya duduk bersedekap di sebelah kiriku, sementara Deva duduk si sebelah kananku.
"Bayiku"
"Enak saja, bayiku"
Oh, God. Jangan lagi.
"Jika kalian tidak bisa diam. Aku berhenti makan" ancamanku berhasil menghentikan pertikaian dua lelaki ini.
Bukan aku, tapi Kaivan yang beraksi membungkan mulut Deva dengan memasukkan satu tiga butir anggur sekaligus dan membuatnya tersedak.
"Jangan mengangguku. Aku sedang mengalami food craving. Bayi di dalam perut Kyla yang ingin ayahnya disuapi. Ah, kau tidak mengalaminya ya? Food craving. Bisanya hanya ibu atau ayah sang bayi yang mengalaminya. Hmm, berarti benar, bayi ini anakku"
"Siapa bilang. Aku juga mengalaminya. Stella, tiba-tiba aku ingin makan pasta di Osteria Bottega. Ayo temani aku ke sana"
"Cih, seleramu benar-benar tidak sesuai dengan lidah Kyla. Kyla, bagaiman kalau sate ayam? Kau suka sekali kan? Aku bisa memasakkannya untukmu. Anak kita pasti juga menyukainya"
Tidak mau kalah, Kaivan menimpali, "Aku akan kirim langsung orang untuk membawakan rendang dari Indonesia. Terakhir kali, bukankah kau ingin sekali makan rendang?"
"Huh, memasak sendiri tentu lebih istimewa daripada menyuruh orang. Iya kan, Ky"
"Kau pikir aku tidak bisa memasak?"
"Coba buktikan"
"Baik. Ayo kita bertanding. Masakan siapa yang Kyla pilih."
"Siapa takut"
Dan sepanjang hari itu hanya dipenuhi dengan pertikaian mereka berdua.
***
Kaivan dan Sadeva masih saja berargumentasi hingga larut malam. Mereka sama-sama berebut memanjakanku, sambil membual kelebihan masing-masing. Yang satu sedang memijit bahuku, dan satunya menyuapiku salad buah.
"Otot-otot di bahumu tegang sekali. Apa di rumah sebesar ini kau masih saja tidak dilayani dengan baik" sindir Deva.
"Dengan lima puluh pembantu saja Kyla masih lelah, apalagi kalau tidak mampu mencarikan satupun" balas Kaivan.
Gerakan tangan Deva berhenti. Kata-kata Kaivan memang sedikit keterlaluan.
"Jika kalian masih beradu mulut, aku akan-" suaraku terinterupsi oleh decit pintu yang terbuka. Evellyn melenggang masuk namun langkahnya terhenti ketika melihat wajah baru di rumah ini. "Ah, kalian punya tamu. Maaf mengganggu" hanya itu yang terucap dari bibirnya sebelum membalikkan badan.
"Clara.." suara itu keluar dari mulut Deva.
Mendengar satu nama disebut, tubuh Evellyn nampak membeku. Dengan ragu-ragu dia menghadapkan tubuhnya ke arah datangnya suara, "Kau kenal adikku?"