
Tidak menyangka kan hal-hal besar di dunia ini dimulai dari sebutir apel?
Aku menyelesaikan suapan terakhir dari mangkok bubur yang dibawakan petugas rumah sakit lima belas menit yang lalu. Ekor mata ku tak berhenti mengamati ekspresi wajah dua pemuda ini. Setelah menceritakan semua, mereka hanya terdiam. Ya, kini mereka tau, masing-masing dari mereka memiliki peluang lima puluh persen untuk menjadi ayah biologis dari bayi di dalam kandunganku.
"Kenapa kau harus ke sini?" bisikku ke Kaivan yang sedang menyuapiku semangkok bubur.
"Bagimana bisa aku hanya diam saja setelah mendengarmu masuk rumah sakit" jawabnya lirih.
"Siapa yang memberi tahumu?"
"Hei.. aku Kaivan Alromano Baird? Apa yang tidak aku tahu."
"Kau memata-mataiku?"
Kaivan hanya mengendikkan bahunya sambil terus menyuapiku hingga bubur di mangkok itu habis.
Drrrrtttt... ponsel di sakunya bergetar. "Sebentar, aku angkat telepon dulu.
Kaivan beranjak keluar ruangan, kini hanya ada aku dan Deva di ruangan ini. Deva baru saja kembali dari mencuci bersih satu buah apel yang dia kupaskan sebagai pencuci mulut.
"Makan apelnya" ucap Deva setelah duduk di samping ranjangku. Dia mengiris buah itu sepotong demi sepotong dan menyuapkannya ke dalam mulutku.
"Kau ingat saat aku memintamu menjadi kekasih ku?" ujar Deva tiba-tiba.
"Waktu kau melempar apel tanpa aba-aba di festival itu?"
Sudut bibir Deva sedikit terangkat. "Ternyata kau mengingatnya"
Ada sebuah tradisi kuno di dalam kepercayaan Yunani. Apel adalah buah dari langit, simbol keabadian, pengetahuan, dan cinta. Laki-laki manapun yang melempar apel dalam festival Aphrodite, mereka menyatakan cinta untuk gadis yang menangkapnya.
"Aku heran kenapa Steve Jobs menamai produknya Apple?" celutuk Deva tiba-tiba sambil menyodorkan satu iris apel ke mulutku.
"Hei, kau tidak tau saja apa yang bisa dilakukan sebutir apel?" jawabku sebelum menerima suapan Deva.
Laki-laki itu mengernyitkan dahinya, "Memangnya apa? Sebutir apel bisa mengambil alih dunia?" candanya seolah tak percaya.
Aku memutar mata, "Kau tahu dari mana Newton menemukan hukum gravitasi? Setelah dia melempar sebutir apel. Lalu kau tau kenapa Adam dan Hawa diturunkan ke bumi?"
"Emm.. setelah mereka memakan buah terlarang?"
"Pantas saja kau pernah membual kalau apel itu buah langit"
"Aku tidak membual. Itu dari buku-buku yang aku baca" aku membela diri. Deva saja yang suka malas membaca. Menurut prosa Snorra Edda yang ditulis pada abad ke tiga belas, buah apel, buah yang dijaga oleh dewi Iduna, adalah buah yang memberikan kemudaan abadi bagi para dewa dan dewi di langit dalam mitologi Nordik.
"Ah, kau juga pernah menyebutkannya, apa itu? Hmm... apel emas?"
"Kau masih mengingatnya? Ya, apel emas. Apel yang diperebutkan Hera, Athena, dan Aphrodite"
Konon kisahnya, Eris, sang dewi perselisihan pernah melemparkan sebutir apel emas dengan tulisan Kallistei, yang artinya 'untuk yang tercantik', dalam pernikahan Peleus dan Thetis. Wanita mana yang tak ingin diakui cantik? Oleh karena itu, Hera, Athena, dan Aphrodite, tiga dewi paling cantik di langit memperebutkan buah itu.
"Lalu, apa yang terjadi?"
"Keputusan Paris.. Zeus menyuruh mereka menemui Paris di Gunung Ida untuk mendapat pengakuan akan kepemilikan apel itu"
Paris, putra raja Priamos, pangeran Troya, adalah kunci dari perdebatan ketiga dewi itu. Tak hilang akal, ketiganya menyiapkan taktik mereka sendiri. Hera membujuk Paris dengan menawarkan tahta, Athena menawarkan kebijaksanaan dan kehebatan perang, sementara Aprodhite menawarkan wanita tercantik di dunia, yaitu Helen, istri raja Menelaos. Tiga hal yang menjadi titik lemah seorang laki-laki, yaitu harta, tahta, dan wanita.
"Lalu, apa yang meluluhkan Paris?" Deva bertanya penasaran. Apel di tangannya masih tersisa separuh.
"Wanita" jawabku singkat.
Ya, Paris memilih wanita. Wanita paling cantik di dunia, namun juga wanita yang akan menghancurkan hidup, negara, dan kekuasaanya. Karena penyerahan Helen ke Paris membuat raja Menelaos marah dan menyerang habis kota Troya. Peperangan yang selanjutnya disebut Perang Troya.
Suara decit pintu terbuka menampakkan Kaivan dan aura dominatifnya. "Aku sudah siapkan Jet pribadi. Kyla akan ikut pulang denganku" itu bukan kalimat. Tapi itu perintah. Laki-laki itu kemudian berjalan ke arahku, membereskan sisa-sisa alat makanku, dan menyingkirkannya ke atas nakas.
"Tidak. Biarkan Kyla di sini. Dia masih butuh istirahat"
"Ini Jet pribadi. Bukan pesawat komersial. Kyla bisa istirahat di sana. Sampai di Roma, Kyla bisa diurus oleh dokter yang lebih handal"
Deva mengeratkan rahangnya, harga dirinya sebagai laki-laki serasa dibanting karena Kaivan memperlihatkan kekuasaan dan kekayaannya.
"Anakku butuh banyak istirahat. Perjalanan di udara cukup melelahkan" bantah Deva.
Kaivan menarik nafas panjang, "Aku akan bertanggung jawab atas ISTRI dan ANAKKU". Seperti tidak mau kalah, pewaris keluarga Baird itu memberi tekanan berat pada kata istri dan anak.
Aku melihat sisa apel yang ada dalam genggaman Sadeva hancur karena kepalan tangannya. Mulutnya sedikit menggeram dan tatapan matanya bisa membunuh orang. Memang tidak ada drama lebih lanjut setelah gue mengatakan bahwa gue tidak tau siapa ayah dari bayi ini. Mereka hanya terdiam cukup lama, tapi setelah itu mereka saling berebut untuk mengaku sebagai ayah dari anak ini. Tapi satu hal yang pasti, sebentar lagi akan ada perang besar, perang memperebutkan pengakuan akan haknya terhadap makhluk kecil di perutku. Penghancuran besar-besaran hanya karena seorang wanita. Perang Troya versiku sendiri. Namun perang kali ini tidak dimulai karena apel emas, hanya apel biasa yang dibawakan Kaivan dari bumi Vesuvia.