
Aku lelah.. sangat lelah.
Setelah menghabiskan setengah hari
berkeliling kota Tuscany dengan Kaivan, sorenya aku bertolak ke Switzerland mengekor
Sadeva. Melalui Bandar Udara Internasional Leonardo Da Vinci atau dikenal juga
sebagai Bandara Internasional Fiumicino, aku dan Sadeva menghabiskan waktu
sekitar satu setengah jam perjalanan hingga mendarat di Bandar Udara
Internasional Zurich, Swiss.
Meskipun bukan ibukota Swiss, Zurrich
merupakan salah satu kota penting di dunia yang menjadi pusat perdagangan,
bersama kota Jenewa. Terletak di tepi utara danau Zurich, kota ini juga identik
dengan perbankan dan keuangan. Di tengahnya mengalir sungai Lammat, sungai
kecil yang airnya berasal dari danau Zurich dan bermuara di
sungai Aare.
Luas wilayah Zurrich memang tidak ada
apa-apanya dibandingkan dengan kota-kota besar di Eropa lainnya, seperti Berlin
atau Amsterdam. Namun, kota ini merupakan kota dengan biaya hidup termahal di
dunia dan juga salah satu yang memiliki kualitas hidup terbaik di dunia. Kota
klasik ini sama sekali tidak tersentuh dahsyatnya Perang Dunia II bahkan
menjadi pilihan kaum intelektual, seniman, dan bangsawan yang menyelamatkan
diri dari sengketa sejarah itu.
Salah satu daya tarik dari kota ini adalah
adanya Kota Tua. Kota penjelmaan zaman Barock dan Renaissance yang di jaga oleh
waktu hingga sampai pada abad modern. Bangunan-bangunan tua khas Eropa semua
ada di sini, dari gereja, balai kota, universitas, tempat perbelanjaan, museum,
pemakaman, dan taman-taman kota yang cantik. Di sepanjang Bahnhofstrasse,
yaitu tepat di depan stasiun kereta api Zurich, toko-toko berjejer rapi
memamerkan merek-merek dagang asli Swiss, seperti jam tangan Rolex, Omega,
Swatch, pisau Victorinox, dan masih banyak lainnya.
"Kamu sudah siap?" aku bertanya
pada Sadeva sambil membenarkan jas hitamnya. Kami sudah ada di depan gereja Grossmunster,
salah satu gereja tertua di Zurich yang berdiri kokoh menantang langit dengan
dua menara lancip bergaya Romanesque-nya.
Sadeva tersenyum, tangannya mengelus pipiku
sangat lembut, "More than ready, baby."
Aku meneliti ekspresi di matanya, tidak ada sisa-sisa kesedihan di sana. Sepertinya,
Deva benar-benar sudah merelakan gadis yang dulu pernah menjarah hatinya itu ke
pelukan lelaki lain. Aku balas senyum manisnya dengan ikut tersenyum, namun di
dalam hati aku menangis, karena malam nanti senyum itu akan segera aku hapus.
Maafkan aku Deva. You can hate me as you want but I
will love you with my own way.
***
Salah satu keindahan kota-kota di Eropa
adalah bagaimana sungai-sungai membelah jantung kota dipusat keramaian mereka.
Dari dermaga Schipfe-nya yang sudah berumur lima ratusan tahun
lebih, mengalirlah sungai Limmat dengan dihiasi perahu-perahu kecil dan kapal-kapalpesiar. Di atasnya terbentang kokoh jembatan Munsterbucke yang menyajikan pemandangan menara kembar gereja Grossmunster. Tempat
dimana sepasang kekasih baru saja menambatkan janji sucinya di sana.
"Kau baik-baik saja kan?" entah
sudah berapa kali aku menanyakan hal itu ke Sadeva.
"Harus aku katakan berapa kali Kylla,
aku baik-baik saja. Clara hanya masa laluku, sementara kau adalah masa
depanku."
Harus darimana aku memulai pembicaraan ini?
Pembicaraan yang akan meluluhlantakan dunianya sekali lagi.
"Kau terlihat pucat sejak tadi. Kau
sakit?" Deva nampak sangat mengkhawatirkanku.
"Aku tidak apa-apa". Aku
berbohong. Kepalaku terasa agak berat dan pusing. Pandanganku mulai
berkunang-kunang. Mungkin karena terlalu lelah melanglangbuana di dua kota
berbeda dalam satu hari.
"Kyla.." Deva mendekap dari
belakang, kepalanya bersandar pada perpotongan leherku. Dari atas jembatan ini
kita sama-sama bisa menyaksikan gemerlapnya sinar-sinar lampu yang terpancar di
Hembusan nafas Deva menggelitik kulit
leherku.
"Dev" aku berusaha menghindar
namun laki-laki itu memelukku semakin erat. "Dev, sebentar... ada yang
ingin aku katakan"
Deva membalik badanku, "Hm?"
hanya itu tanggapannya sebelum menyerang bibirku dengan
bibirnya lagi.
"Dengarkan aku dulu Deva.. Jangan ini
tempat umum" usahaku menolak sia-sia. Aku berontak, tapi tubuhku terasa sangat
lemas, pandanganku mengabur, dan kepalaku terasa semakin berat. Jari-jariku
mencengkeram ujung baju Deva sangat erat, berusaha mencari pegangan sebelum
semuanya berubah menjadi gelap.
***
"Kyla?" samar-samar ku mendengar
namaku disebut, "Kamu sudah sadar?"
Perlahan aku membuka mata, beradaptasi
dengan cahaya yang begitu terang di langit-langit kamar ini. Aku melihat
sekeliling. Ini rumah sakit.
"Dev?" mataku menyipit,memastikan lelaki yang duduk di sampingku dan menggengam
tanganku ini adalah Sadeva.
"Oh, thanks God. Akhirnya
kamu sadar juga" nada suaranya terdegar sangat lega sementara aku bingung
apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa aku bisa di sini Dev?"
"Kamu tadi pingsan, Kyla. Kamu
lupa?"
Ah, benar. Beberapa waktu lalu kepalaku
terasa sangat berat.
"Apa yang terjadi?" aku meminta
penjelasan.
"It's okey, Ky. Kamu cuma kecapekan
aja. Lain kali kamu jangan capek-capek ya. Sekarang ada kehidupan lain di dalam
perut kamu yang harus kamu jaga"
Dahiku bertaut bingung. "Maksud
kamu?"
"Makasih ya, Ky. Kamu hamil"
Hah? Apa? Hamil? Bagaimana bisa? Aku sedang
menstruasi.
***
"Apakah darah yang keluar sebanyak
biasanya?" dokter di hadapanku bertanya setelah aku mencoba klarifikasi.
Aku mengingat-ingat lagi, "Em... tidak
juga"
"Jadi bu, ada beberapa faktor yang
bisa menyebabkan pendarahan di awal kehamilan. Misalnya karena terjadinya
pendarahan implantasi, ekropion serviks, atau solusio plasenta. Hal itu sering
disalah-artikan sebagai ovulasi sehingga darah yang keluar
dianggap darah menstruasi. Padahal bukan. Jika ibu ingin mengetahui penyebabnya,ibu bisa melakukan uji laboratorium lebih lanjut."
Aku berkedip berkali-kali,mencoba mencerna penjelasan dokter. Jadi selama ini aku
hamil?
"Em.. dok, bagaimana dengan usia
kehamilan saya?" aku bertanya ragu-ragu.
"Selamat bu. Anda sudah hamil empat
minggu"
Empat minggu? Hal itu berarti anak ini ada
sekitar sebulan yang lalu. Sebulan yang lalu aku baru saja bertemu Kaivan. Dan malam sebelum itu, aku sempat bercinta dengan Sadeva. Lalu, siapakah ayah dari anak ini?
Sadeva atau Kaivan?
Jika ini anak Deva, bagaimana dengan
Teo?
Oh God... Kenapa semua jadi serumit ini?