
Kenapa para penyair dan pujangga klasik lebih suka menuliskan kisah cintanya dalam bentuk puisi dan prosa? Karena itu adalah manifestasi rasa yang dikemas dalam bentuk kata-kata untuk ditunjukkan pada dunia. Sebuah ujaran rasa dan protes atas benang-benang takdir yang mempermainkan kehidupan manusia atas nama cinta.
Aku pernah mengagumi beberapa karya sastra yang ditulis oleh sastrawan-sastrawan tersohor pada masanya, seperti Ovidius yang menulis tiga buku tentang kehidupan, yaitu Amores, Metamorphoses, dan Ars Amatoria. Dua diantaranya mengupas tentang perjalanan cinta yang mendobrak batas norma kebiasaan, menikmati cinta di luar ikatan semestinya, dan kelicikan takdir yang menggerogoti kemurnian cinta.
Takdir.. konspirasi paling misterius yang pernah tercatat dalam kehidupan manusia. Jika takdir sudah bicara, bagaimana kita akan meronta?
Jika saja aku hidup beratus-ratus tahun yang lalu, mungkin aku akan menyalahkan Lakheis, sang pemintal benang kehidupan. Bagaimana jahatnya dia mengkait-kaitkan satu benang dengan benang yang lain, mempertemukan dua orang dan menumbuhkan cinta diantara mereka, hanya untuk dibelitkan pada suatu pola yang rumit. Pola yang disebut takdir.
Alam semesta sedang menertawakanku, menghukumku atas kesalahan yang mungkin tidak aku sadari. Benar, tidak ada yang bisa disalahkan di sini. Semua permasalahan ini berawal dari diriku sendiri.
"Bagaimana kalau pernikahan kita percepat?" senyum cerah Sadeva tidak kunjung hilang. Dia berbahagia dalam persepsinya sendiri sementara aku tersiksa dengan ketidakpastian di dalam perutku.
"Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari, kau tau aku sedang mengincar salah satu rumah di kawasan Tivoli. Tempatnya cukup nyaman. Kau akan suka." Laki-laki itu masih mengoceh sambil membenarkan selimut yang menggulung tubuhku.
"Apartemen terlalu kecil untuk membesarkan seorang anak. Bagaimana kalau weekend nanti kau ikut aku ke sana? Kau bisa melihat sendiri-" kalimat Deva terpotong oleh suara isak tangis yang dari tadi sudah aku tahan sekuat tenaga. Tapi percuma, semakin banyak Deva bicara semakin sakit rasanya hati ini. Dia terlalu bersemangat menanti kelahiran si buah hati, tapi justru aku yang terombang-ambing dalam dilema.
Jika anak ini anak Kaivan, ada harapan untuk kesembuhan Teo. Namun itu berarti, aku akan menyakiti Deva dua kali lipat. Jika ini anak Deva, bagaimana dengan Teo? Bagaimana dengan Kaivan? Oh God, kenapa harus serumit ini?
Bisa-bisanya aku lupa. Terakhir kali aku dan Deva berhubungan badan, dia menumpahkan benihnya di dalam rahimku. Andai saja waktu itu aku bisa lebih berhati-hati, atau andai saja Kaivan datang lebih awal, semua pasti tidak akan berakhir serumit ini.
"Ky.. Kylla..." Deva kebingungan dengan aku yang tiba-tiba menangis dan meringkuk di dalam selimut. "Ky.. kamu nggak pa pa? Ada yang sakit?" namun semakin Deva bertanya semakin deras air mataku mengalir. "Perlu aku panggilin dokter?" kali ini aku menggeleng tanpa berhenti menangis. Ku tarik selimut di badan hingga seluruh wajahku tertutupi. Yang selanjutnya aku rasakan adalah tangan Deva yang menepuk-nepuk bahuku perlahan mencoba memberi ketenangan. Dan tak berapa lama kemudian mata aku memberat, aku jatuh dan terlelap di alam ketidaksadaran.