Sprezzatura

Sprezzatura
3 Tragedi 1 Satyr (1)



Kyla


 


Theater. Panggung drama pertama yang disuguhkan manusia.


 


Banyak orang mengetahui apa itu theater, namun hanya sedikit yang mengetahui makna apa yang terbungkus dibaliknya. Apakah hanya sekedar karya sastra? Apakah hanya sekedar tempat mencari hiburan? Bukan, tapi lebih karena pemenuhan psiokologis manusia.


 


Sadar atau tidak, manusia tertarik dengan tragedi. Pembicaraan apapun akan terasa lebih menarik jika ada bumbu-bumbu yang dilebih-lebihkan. Menceritakan hal tragis yang dialami orang lain tentu lebih menggugah pendengar daripada menceritakan kebahagiaan yang didapat seseorang. Oleh karena itu, seni theater pada jaman dulu hampir selalu menceritakan hal-hal tragis, seperti kisah Oedipus karya Sophokles.


 


Namun dalam pementasaanya, pertunjukkan threatikal kuno itu mengikuti sebuah aturan. Aturan yang dinamakan 'tiga tragedy satu satyr'. Dalam perjalanan ceritanya, penonton akan disuguhkan tiga macam tragedi berturut-turut, dimana perasaan emosi mereka dicampur aduk. Rasa marah, benci, simpatik, sedih, khawatir, bingung, semua berbaur menjadi satu. Setelah puncak tragedi pecah, perasaan negatif dari dalam diri manusia akan berada pada titik tertinggi. Dan saat itulah disajikan 'satyr'. Satyr berisi adegan-adegan lucu dan komedis, tempat para penonton menumpahkan gelak tawa. Melepas semua emosi yang sebelumnya bercampur aduk di dalam dada. Proses yang dinamakan chatarsis ini adalah upaya pembersihan jiwa, pengusiran energi-energi negatif yang dibawa oleh rasa sedih dan kecewa. Dilepaskan bersama lakon-lakon komedis yang mengundang gelak dan tawa. Sehingga mereka bisa pulang dengan perasaan ringan tanpa beban.


 


Entah sudah berapa tragedi yang aku lalui dalam hidup. Sampai-sampai aku lupa ada satu satyr yang belum juga aku lakukan. Sesuatu yang bisa membersihkan sisa-sisa emosi dalam hubunganku dengan Deva.


 


Hari ini aku ingin memperjelas semua, agar tidak ada lagi rasa yang menggantung di antara kita.


 


Aku mengajak Deva menemaniku berjalan-jalan sore di tepi sungai Tiber. Kita berjalan beriringan dengan Teo yang duduk nyaman di stroller hangatnya. Cuaca cukup mendukung, semilir angin tidak begitu menusuk.


 


"Bagaimana kandunganmu?" Deva memecah keheningan.


 


Tanganku refleks mengelus perutku yang sudah terlihat besar, "Dia tumbuh dengan baik. Sering sekali menendangku"


 


Deva terkekeh, "Ternyata anak ini sangat aktif"


 


"Sangat. Dia tidak membiarkanku mendapatkan tidur yang cukup setiap malam" kita sama-sama tersenyum.


 


"Punggungmu masih sering pegal?"


 


"Tidak terlalu. Berkat resep yang kau berikan"


 


 


"Eem.. Dev, soal itu" kalimatku ragu-ragu.


 


Deva hanya tersenyum tanpa beban, "Aku tahu Kyla. Tanpa kau harus mengatakannya pun aku tahu"


 


Langkah kami terhenti.


 


"Aku tahu kau sangat berharap anak ini adalah darah dagingmu dengan Kaivan. Iya kan?"


 


"Dev-"


 


"Aku juga turut bahagia jika hal itu terjadi"


 


Mata Deva melirik Teo yang terkikik geli melihat kupu-kupu berterbangan di antara bunga-bunga, "Berbulan-bulan mengurus Teo, dia sudah mendapat satu tempat di hatiku, Kyla. Aku sungguh sangat ingin Teo bisa sembuh."


 


"Aku tidak peduli lagi apakah anak itu anakku atau anak Kaivan, jika bayi dalam perutmu bisa menjadi donor untuk Teo, itu sudah lebih dari cukup." lanjutnya.


 


"Namun jika itu anakku, aku tidak akan melepas tanggungjawabku pada bayi itu. Aku akan memberikan kasih sayang dan mencukupi segala kebutuhannya. Dan kau, Kyla, aku tidak akan mengikatmu untuk selalu bersamaku."


 


"Dev.."


 


"Hei, bukankah hal seperti ini sedang trend di negara-negara maju seperti Italy. Kita masih bisa mengasuh anak ini bersama-sama tanpa harus terikat pernikahan. Kau bisa tetap menjadi ibunya, dan aku bisa tetap menjadi ayahnya."


 


"Mak..sudmu?"


 


Deva menatapku lembut, "Kyla, kau berhak bahagia. Jika kebahagiaanmu adalah Kaivan, aku tidak akan menghalangimu untuk kembali padanya. Menikahlah dengan dia, sembuhkan Teo. Dan jangan menangis lagi"