
"Siapa ayah bayi itu?"
Isak tangis Evellyn berhenti.
"Katakan padaku siapa ayah bayi itu!" nada imperatif keluar dari mulut Kaivan.
Dengan bibir bergetar, Evellyn menjawab, "De...va"
"Sadeva?"
Gadis itu mengangguk pelan.
Kaivan terdiam beberapa detik sebelum kembali ke alam sadarnya, "Apa dia tahu kau hamil?"
Evellyn menggeleng.
"Dia tidak tahu? Masalah sebesar ini kau tidak membicarakannya dulu dengan ayah bayimu tapi malah lari meminta pertanggungjawabanku?"
Evellyn semakin menunduk merasa bersalah.
Kaivan meraup mukanya kasar, "Baiklah. Aku punya jalan keluar bagi kita berdua"
Wajah Evellyn terangkat, ada seutas harapan di matanya.
"Aku bisa membuat keluargamu tidak berani lagi menyakitimu. Asalkan kau mau bekerja sama denganku"
"Bekerja sama?"
"Iya."
"Caranya?"
"Perang Gerilya"
Perang Gerilya. Sebuah taktik perang yang sudah ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Dilakukan secara sembunyi-sembuyi, penuh kecepatan, dan sabotase. Siasat perang yang juga disebut taktik 'mengepung dengan tidak terlihat' itu pernah digunakan Jendral Besar Romawi, Quintus Fabius Maximus Kunktator untuk melawan musuhnya, Hannibal. Strateginya cukup sederhana, ikuti dan ganggu namun jangan lakukan pertempuran terbuka. Strategi ini yang akan Kaivan gunakan . Mengikuti alur permainan musuh, mengacaukan tatanannya, dan diam-diam meremukkan dari dalam.
"Perang?"
Kaivan mengangguk, "Bukannya keluargamu menyuruhmu menikah denganku karena mengincar hartaku? Margareth juga selalu ikut campur dalam setiap urusanku karena tidak ingin kehilangan kekuasaanya. Victorrio Group dan Morelli Group... ayo kita hancurkan ke duanya"
Mulut Evellyn menganga, "Kau mau menghancurkan perusahaanmu sendiri?"
"Hanya itu yang bisa membuat kita bebas Evellyn. Kau bisa terbebas dari tekanan keluargamu dan aku bisa menjatuhkan wanita tua itu"
"Kau yakin?"
"Kenapa? Kau takut jatuh miskin?" Kaivan menyeringai.
"Bukan begitu. Hanya saja, yang akan kau hancurkan adalah keluargamu sendiri Kaivan"
"Keluarga? Apa kau masih menganggap mereka keluarga? Setelah apa yang mereka lakukan padamu? Evellyn, keluarga tidak selalu ditentukan karena ikatan darah. Tapi keluarga adalah ikatan perasaan."
"Lalu? Apa rencanamu?"
"Kita akan menikah, lebih tepatnya pura-pura menikah. Aku tidak akan membawamu ke altar maupun mengucap janji di depan Tuhan. Namun kita akan membuat media percaya seolah-olah kita telah menikah."
Evellyn menelan ludahnya, mendengarkan baik-baik setiap kata yang keluar dari mulut lelaki dihadapannya, "Sebagai syarat pernikahan, aku akan memberikan keluargamu saham dan beberapa aset milik Victorio Group. Aku juga akan melakukan kerjasama dan alih kuasa dengan penggabungan antara Victorio dan Morelli Group. Saat kedua keluarga kita bersatu, saat itulah kesempatan emas untuk menghancurkan keduanya"
"Bagaimana caranya?"
Sudut bibir Kaivan terangkat naik, "Kau tunggu saja instruksi dariku"
***
"Dasar bajingan, keparat, kau akan menikah? Hah?" Deva menarik kerah baju Kaivan dan melayangkan satu tinju ke pipinya.
Tubuh Kaivan terhuyung ke belakang. Ada sedikit darah keluar dari ujung bibirnya.
"Seharusnya aku tidak mempercayakan Kyla pada lelaki brengsek seperti dirimu"
Satu pukulan hampir dilayangkan, namun dapat ditangkap oleh Kaivan. "Siapa yang kau bilang brengsek? Aku jelas-jelas menyelamatkan anakmu"
"Kau pikir siapa yang menghamili Evellyn? Aku?"
"Mak..sudmu?"
"Kau tanya saja pada Evellyn siapa ayah dari bayinya"
Sadeva terlihat bingung. Tentu saja dia tahu, ada kemungkinan bayi itu adalah bayinya.
"Jika aku tidak menikahinya, atau jika keluarganya tau bahwa anak itu bukan anakku, Evellyn mungkin akan dipaksa menggugurkan kandungannya. Bahkan jika gadis itu berontak atau melarikan diri, apa kau pikir keluarga Morelli akan membiarkannya begitu saja?"
"Lalu bagaimana dengan Kyla?"
"Kau tenang saja, pernikahan ini hanya sementara"
***
(Malam setelah pernikahan, kamar 4212)
Tok tok tok.
Evellyn membuka pintu. "Deva?"
"Hai" Lelaki itu tersenyum dan berjalan masuk ke dalam kamar.
"Kenapa kemari?"
"Aku ingin melihatmu. Apa kau sudah makan?"
Gadis itu menunjuk sisa piring di atas meja yang beberapa saat lalu dia pesan lewat room service.
"Kenapa tidak dihabiskan?"
"Baunya agak membuatku mual"
"Mau aku carikan air lemon?"
"Tidak usah. Aku sudah lebih baik"
"Kemarilah" Deva menepuk tempat kosong disampingnya duduk. "Kau pasti lelah, biar aku pijat"
"Tidak perlu, aku-"
"Tidak usah protes" Deva mendudukan Evellyn di sampingnya, "Lihat otot-ototmu, tegang semua. Pasti tidak mudah berakting di depan para media. Lagipula kau membawa anakku sekarang, aku juga berkewajiban menjaganya"
Gadis itu menurut. Dia membiarkan Deva mengurut kakinya yang harus berdiri di atas heels seharian ini. Walaupun memilih yang tidak terlalu tinggi, tetap saja membuat kaki lelah.
"Jika kau membutuhkan sesuatu katakan saja. Aku akan mendapatkannya untukmu"
Evellyn tersenyum. Sudah lama dia tidak mendapat perhatian seperti ini. Orang terakhir yang memberikannya perhatian tulus adalah ibu dan adiknya, Clara. Namun entah sekarang mereka dimana.
"Aku tidak percaya aku memasuki kamar pengantin seorang wanita di saat suaminya tidak ada" kekeh Deva.
"Kau tau apa yang lebih gila lagi?"
"Apa?"
Cup.
Evellyn mencuri satu ciuman di bibir Deva.
"Pengantin wanita mencium laki-laki lain di kamar pengantinnya saat suaminya tidak ada"
"Hei.. mau melakukan hal yang lebih gila?"
Alis gadis itu terangkat. "Apa?"
Satu seringai muncul dari sudut bibir Deva, dia mengangkat Evellyn dari sofa, membawanya ala bridal-style sebelum merebahkannya ke atas ranjang. "Sayang sekali kalau kamar yang sudah di dekorasi seindah ini tidak digunakan sebagaimana mestinya"
Mereka sama-sama terkikik pelan.