
"Lihat Matteo, siapa yang datang? Papa.." Harus aku akui wanita itu pandai sekali berkomunikasi dengan anak kecil. Ekspresinya saat berbicara mampu menangkap atensi bayi mungilku.
Matteo mengikuti arah yang ditunjuk wanita di sampingnya. Senyumnya mengembang melihat Kaivan yang berjalan di sampingku. Tanggannya menggapai-gapai, seolah meminta sang ayah untuk menggendongnya.
"Jagoan kecil" sapa Kaivan begitu mengangkat Teo dari kursi bayinya. Dijunjungnya si mungil tinggi-tinggi, dia ayunkan ke kiri dan ke kanan, dilanjutkan dengan sang ayah yang mendaratkan kepalanya ke perut si bayi, membuatnya terkikik geli karena gerakan kepala Kaivan di sana.
Kini Teo bergelayut manja di lengan kekar Kaivan. Tangannya merangkul leher sang ayah. Seperti koala yang menempel pada induknya.
"Anak Papa sedang makan?"
Teo mengangguk semangat.
"Bisa aku minta mangkoknya?" kali ini Kaivan berkata pada Evellyn. Tanpa banyak bicara, wanita itu mengulurkan mangkok kecil warna biru milik Teo.
"Biar cepat sehat, Teo harus banyak makan" Kaivan membawa Teo ke meja makan. Dia meletakkan mangkok kecil itu di atas meja, sementara dirinya duduk di salah satu kursi dengan Teo dipangkuannya. Satu kursi di sampingya dia geser mundur, mempersilahkan aku duduk di sana.
"Kau mau menyuapi Teo?" tanya Kaivan kepadaku.
Kedua bola mataku melebar, "Benarkah?"
Kaivan tersenyum, "Pelan-pelan" ucapnya menyemangatiku.
Dengan tangan sedikit bergetar aku mengambil mangkok kecil di atas meja. Menyendok sedikit bubur di dalamnya dan mengarahkannya ke mulut kecil makhluk mungil ini.
"Lihat Teo, makanannya datang.. aaaaaa" Kaivan membantuku menarik perhatian Teo untuk membuka mulutnya. Tetapi anak itu malah memalingkan wajah dan semakin menempel ke dada Kaivan.
Melihat hal itu, Evellyn segera mengambil mangkok biru di tanganku, "Anak pintar tidak boleh malas makan. Kalau makannya sedikit, nanti Teo sakit lagi. Ayo mulutnya dibuka" Dengan sangat gampang wanita ular itu mampu merayu Teo untuk membuka mulutnya. Kenapa denganku susah sekali?
"Coba lihat" tanpa mecari tissue maupun kain bersih, Kaivan menggunakan ibu jarinya untuk menyeka sisa bubur di sudut bibir Teo, "Nah sekarang sudah bersih"
Teo terkikik.
"Mau membantuku memandikan Teo?"
"Baik." Pandangan Kaivan beralih ke arahku, "Kyla, ayo ikut"
"Dia tidak akan bisa" cegah Evellyn.
"Kau awalnya juga tidak bisa"
Jawaban Kaivan membuat Evellyn memutar matanya.
Aku benci mengakui ini, tapi wanita itu sangat telaten mengurus semua keperluan Teo. Dari menyiapkan air untuk mandi, memastikan tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas, menyabuni dan membersihkan tubuh Teo, hingga mengeringkannya. Selama memandikan Teo, aku hanya diam mematung. Tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku menurut saja apa yang Evellyn minta. Mengambilkan sabun, memegangkan handuk, atau mengumpulkan bebek karet yang Teo lempar keluar bak.
"Kaivan, ini minyaknya" Evellyn dan Kaivan berkolaborasi untuk mejaga tubuh Teo tetap hangat seusai mandi. Kai meratakan minyak bayi ke seluruh tubuh Teo, sementara Evellyn memberinya bedak dan collogne. Setelah itu dia membungkus tubuh Teo dengan baju abu-abu bergambar kura-kura keluaran Jumping Beans.
"Selesai..! Gantengnya jagoan kecil. Cium Mommy sini" Evellyn memajukan bibirnya yang dibalas dengan satu kecupan kecil mulut mungil Teo.
"Papa juga" rajuk wanita itu agar Teo melakukan hal yang sama ke ayahnya. Dengan sedikit merangkak, bayi kecil itu menghampiri ayahnya. Merambat ke tubuh kekar lelaki di depannya itu dan menjatuhkan satu kecupan di bibir Kaivan. Mereka tertawa, terlihat sangat bahagia. Itu adalah pemandangan kecil yang indah. Tapi tidak untukku.
Seharusnya aku yang ada di tempat wanita itu. Menyuapi Teo setelah dia bangun pagi, dengan aku yang mengulurkan sendok dan Kaivan yang memangkunya. Memandikan Teo dan memakaikannya baju, sementara Kaivan membalurkan minyak hangat ke sekujur tubuhnya. Bercanda bersama, saling mencuri kecupan satu sama lain. Hal-hal kecil yang biasa dilakukan sebuah keluarga. Tapi kenapa...
Kenapa harus wanita itu yang mengisi tempatku?