Sprezzatura

Sprezzatura
Senyum Evellyn 1



-Sadeva-


 


Aku terbangun pagi harinya dengan kepala yang terasa berat. Kamarku berantakan, pakaianku berserakan di mana-mana. Pandangan mataku agak kabur, kepalaku rasanya berputar-putar, mungkin efek alkohol tadi malam. Aku beringsut dari ranjang, meraba-raba botol air mineral yang biasanya aku letakkan di atas nakas. Dengan satu putaran, tutup botol itu terbuka dan aku segera menegak habis isinya. Akh.. sensasi segar membasahi tenggorokanku yang kering kerontang. Membuat pikiranku bisa sedikit lebih jernih.


Sebentar, tadi malam? Aku menyibak selimutku, wanita itu sudah tidak disampingku. Namun jejaknya tertinggal, setitik noda merah bukti perbuatanku semalam. Ya, aku telah merengut keperawanannya.


 


Aish, bodoh, tolol, Sadeva kenapa bisa begini. Aku merutuki diriku sendiri, berjalan mondar-mandir di kamar. Bisa-bisanya kau mengambil kesempatan pada wanita mabuk yang hatinya sedang kalut, Deva, you are such a jerk. Bagaimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Meminta maaf? Beralasan bahwa aku mabuk? Wanita mana yang tidak akan marah jika perawannya direbut dalam keadaan mabuk? Aish, kenapa wajah Evellyn harus semirip itu dengan Clara. Dan kenapa aku tidak bisa menahan diri? Sadar Deva, Evellyn bukan Clara.


 


Tok tok tok.


 


Evellyn? Mungkinkah itu Evellyn?


 


Aku segera berlari membuka pintu, "Ev-, oh Kyla? Ada apa?"


 


Kyla membuang pandangannya ketika mendapatiku bertelanjang dada di balik pintu.


 


"Kau baik-baik saja?" tanyanya.


 


"Aku tidak kenapa-kenapa"


 


"Aku pikir kau sakit. Tidak biasanya jam segini kau belum bangun. Syukurlah kalau kau tidak apa-apa. Sarapannya sudah disiapkan, kau bisa menyusul ke meja makan setelah selesai dengan urusanmu"


 


"Ah, baiklah. Aku akan mandi dulu"


 


Hanya ada aku dan Evellyn di meja makan. Situasi sangat canggung. Kyla sudah selesai makan dan kini sedang bersama Teo. Kaivan sudah pergi dari tadi. Tinggal aku dan gadis yang tadi malam menemani tidurku. Tak ada sepatah pun keluar, kami menghabiskan makan dalam diam.


 


"Ekhm.." aku berdehem setelah kita selesai makan, "Evellyn.."


 


Dia mendongak saat namanya disebut.


 


"Tentang tadi malam-"


 


"Lupakan"


 


Aku mengangkat kedua alisku bingung.


 


"Lupakan semuanya. Tadi malam tidak terjadi apa-apa"


 


Aku menelan ludah, "Kalau itu yang kau mau, baiklah"


 


 


 


Tanpa menunggu lebih lama kami segera menuju ke sumber suara.


 


"Apa yang terjadi?" Evellyn memeriksa dahi Teo. Suhu tubuhnya agak naik.


 


"Aku juga tidak tahu. Tubuh Teo tiba-tiba hangat. Dia tidak menanggapi ketika aku ajak berbicara. Dia terus menangis seperti ini"


 


Aku segera mengambil termometer dan menempelkannya ke tubuh Teo. Tiga puluh delapan koma lima derajat. Dia deman.


 


"Apa yang kau lakukan sebelum ini Kyla? Terlalu lama memandikannya? Lupa membalurkan baby oil?"


 


"Aku tidak lupa?"


 


"Jendela.. kau menutup jendela dengan benar atau tidak?"


 


"Aku hanya membukanya hingga jam delapan pagi. Setelah itu aku tutup kembali. Sesuai instruksimu"


 


Evellyn mengambil stestokopnya sementara aku menghitung detak nadi lewat pergelangan tangannya. Perlahan melemah.


 


"Apa saja yang dia makan hari ini, Kyla?" kali ini aku yang bertanya.


 


"Tidak banyak. Pagi tadi dia minum susu. Kemudian makan bubur bayam. Setelah itu dia makan biskuit dan kudapan."


 


"Kudapan? Kudapannya terbuat dari apa?" Evellyn menyahut.


 


"Sebentar, kalau tidak salah tepung kedelai"


 


Aku dan Evellyn saling menatap, "Kedelai..." lirihnya.


 


"Dan bayam..." aku melanjutkan.


 


Oh tidak. Dua makanan itu tidak bisa dimakan bersama.


 


"Kalsium oksalat" tebak kami bersamaan.