
-Kyla-
"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" tanyaku dengan suara agak serak setelah bangun di pagi hari.
Kaivan terbaring di sampingku. Satu tangannya menopang kepalanya. Dia memandangiku lekat-lekat.
"Aku suka melihatmu tidur"
"Kau tahu, aku baru saja bermimpi"
"Bermimpi?"
"Iya, aku bermimpi bertemu dengan seorang anak laki-laki"
Kaivan mengangkat alisnya.
"Dia membawaku berlarian di sebuah taman bunga. Ada dua gerbang di sana. Yang satu dihiasi gading dan yang satu dihiasi tanduk. Kemudian anak itu melepaskan tanganku dan berlari masuk ke dalam gerbang berhias tanduk. Kau tau apa artinya?" lanjutku bercerita.
"Apa?"
"Gerbang berhias gading, itu tempat mimpi palsu keluar. Sementara gerbang berhias tanduk, itu tempat mimpi masa depan keluar"
"Ah, seperti yang tergambar dalam Demos Oneiroi ?"
"Iya. Aku punya firasat, anak yang menemuiku mungkin adalah..." aku membawa tanganku turun ke perutku dan mengelusnya lembut, "dia"
Kaivan tersenyum, tangannya dia taruh di atas tanganku dan ikut mengelus perutku yang sedikit mulai membesar.
"Pantas saja kau tidak bangun-bangun. Kau tahu, sejak hamil, kau banyak sekali tertidur. Terkadang itu membuatku takut."
"Takut?"
"Iya. Kau tidur terlalu lama. Ini sangat konyol tetapi ada sedikit rasa takut yang hinggap di dalam diriku. Terkadang saat matamu tertutup, aku merasa takut jika aku tidak bisa melihat lagi sinar di matamu, Stella"
"Janji?"
"Janji. Kalau kau takut letakkan saja bunga opium di samping tidurku"
"Bunga opium?"
"Iya, bunga opium, simbol dari Oneiroi, dewa mimpi. Dengan begitu aku hanya akan bermain-main di daratan mimpi sampai aku lelah dan kemudian terbangun."
Lelaki itu mencubit ujung hidungku gemas "Dasar kau ini. Aku sedang serius."
"Aku juga serius" jawabku dalam kikikan tawa.
***
Aku membuka mata. Dapat aku rasakan semilir angin berhembus memainkan tirai di jendela, mengantarkan aroma bunga opium yang ditata rapi dalam vas kaca di samping tempatku tertidur. Warna putih langit-langit menyambut indera pengelihatanku. Aku mengerjap. Sekali.. Dua kali... Membiasakan mataku menerima pantulan cahaya. Ah, rasanya aku baru saja terbangun dari tidur yang sangat panjang. Tubuhku terasa agak kaku. Sebentar, sepertinya tadi aku memimpikan sesuatu. Ya benar. Tapi bukan mimpi lebih tepatnya, hanya potongan-potongan memori masa lalu yang hadir kembali ke dalam alam bawah sadarku. Memori kecil saat aku masih mengandung Teo.
Teo?
Harusnya aku sudah mengurus keperluan anak itu, aku tidak bangun terlalu siang kan?
Baru saja aku ingin mengangkat tubuhku, sebuah selang yang terpasang di pergelangan tanganku mengambil alih seluruh atensiku. Kenapa ada jarum infus di tanganku? Apa yang terjadi?
Aku melihat sekeliling. Ruangan ini didominasi oleh warna putih. Sebuag elektrokardiograf terpasang di atas nakas, memperlihatkan statistik detak jantungku. Evellyn tertidur di sofa dengan tangan di atas perut yang terlihat sedikit lebih besar dari saat terakhir kali aku melihatnya. Aku baru ingat. Dia sedang hamil.
Bicara tentang hamil, bukankah aku juga hamil?
Tidak memperdulikan tangan yang terpasang jarum infus, aku menyibak selimut yang menutupi tubuhku hanya untuk mendapati perutku yang sudah datar.
Dahiku berkerut, aku mengeryit mengingat-ingat kembali apa yang sudah terjadi. Memori terakhirku adalah saat aku berada di ruang bersalin.
Bayiku? Dia sudah lahir. Dimana bayiku sekarang?