
Aku bangun dan langsung melepas selang infus di pergelangan tanganku. Tubuhku terasa agak kaku tapi aku tidak memperdulikannya. Aku bergerak turun dari tempat tidur dan berjalan keluar dengan sedikit tertatih. Baby's room, itulah tempat pertama yang aku tuju.
Untung saja begitu keluar dari lorong terpampang jelas tulisan Baby's Room dengan tanda arah panah ke kanan. Dengan bertumpu pada dinding, aku merambat mengikuti petunjuk arah tersebut. Sebuah ruang kaca yang tertutup tirai menyambutku. Aku yakin ini ruangannya. Aku berusaha mencari-cari celah untuk mengintip. Tak banyak yang bisa aku lihat. Box-box bayi tersusun rapi di dalamnya. Ada beberapa makhluk kecil yang terlihat mirip tertidur di box-box itu. Yang manakah bayiku?
Aku mengedarkan pandanganku jauh ke seberang. Di sana ada sesosok lelaki yang sedang menggendong seorang bayi. Meskipun hanya punggungnya yang terlihat, aku bisa mengenali sosok itu. Sadeva. Dia ada di sana.
Segera aku menyelinap melewati pintu yang sedikit terbuka. Beberapa petugas di sana sempat kaget dan berusaha menghentikanku.
"Maaf bu, ibu tidak bisa masuk ke sini tanpa ijin. Sebaiknya ibu menunggu di luar."
"Saya hanya ingin bertemu anak saya" sanggahku.
"Ini sudah peraturannya bu. Kami tidak bisa berbuat apa-apa"
"Kyla?" suara Deva mengambil alih perdebatan kami.
Setelah memastikan apa yang dilihatnya tidak salah, Deva segera memberikan bayi dalam gendongannya kepada seorang perawat di dekatnya sebelum menghambur ke arahku, merengkuh tubuhku ke dalam dekapannya dan berucap, "Syukurlah.. akhirnya kau bangun juga"
Setelah aku memprotes karena dia terlalu erat memeluk tubuhku, lelaki itu pun melepaskan pelukannya dan memeriksa keadaanku dari ujung ke ujung, "Kau tidak apa-apa kan? Tidak ada bagian yang sakit kan?" tanyanya khawatir.
"Aku baik-baik saja. Deva, bayiku mana?"
"Ah, bayimu." Dia kemudian berbalik dan meminta makhluk mungil yang beberapa saat lalu dia berikan ke seorang perawat. Tapi sebelum menyerahkannya kepadaku, dia tiba-tiba teringat sesuatu. "Tunggu, apa tubuhmu sudah cukup kuat untuk menggendong bayi ini?"
Ah benar. Tubuku rasanya masih sedikit lemas dan kaku.
Deva mengedarkan pandangannya mencari-cari sesuatu. "Di sana ada ranjang, kau bisa menggendong bayimu dengan bersandar di sana"
Aku menurut. Lelaki itu tampak membisikkan sesuatu ke petugas di tempat ini. Aku dengar dia menyebut-nyebut nama Kaivan. Petugas itu langsung membulatkan matanya dan bergegas mengantarku ke sebuah ranjang di sudut ruangan.
Setelah naik ke atas ranjang dan menyandarkan punggung, Deva dengan hati-hati menyerahkan bayi merah itu ke dalam dekapanku. Rasanya, aku tidak bisa menghentikan gerak bibirku yang menyungging ke atas. Makhluk kecil ini begitu tampan. Dia tidur dengan sangat nyenyak. Pipinya masih merah, dan rambutnya tumbuh belum terlalu lebat.
"Aku sudah menyuruh petugas memberitahu Kaivan bahwa kau sudah sadar. Sebentar lagi dia pasti akan tiba"
Aku mendengar apa yang dikatakan Deva, tapi fokusku sekarang tertumpah seluruhnya pada makhluk kecil di tanganku.
"Bagaimana keadaan bayiku? Dia sehat kan?"
"Sangat sehat. Dia tumbuh dengan baik, Kyla"
"Syukurlah" ucapku lega.
"Kau membuat semua orang khawatir Kyla. Hampir satu minggu kau tidak sadar diri. Dan tiba-tiba saja aku menemukanmu sudah berdiri di baby's room. Kau yakin kau tubuhmu sudah baik-baik saja?"
"Kau kehilangan separuh darah di tubuhmu Kyla. Bagaimana bisa kau mengatakan tidak apa-apa. Aku sudah menghubungi dokter. Sebentar lagi dia akan memeriksamu"
"Tapi aku masih ingin berlama-lama dengan bayiku"
"Iya. Nanti kau bisa menggendongnya lagi. Tapi biarkan dokter memeriksa keadaanmu dulu, hanya sebentar."
"Baik. Beri aku waktu sebentar untuk melihat wajah anakku"
Pandanganku kemudian turun ke bayi kecil ini. Senyum kembali menghias wajahku.
"Bocah kecil ini sangat tampan bukan?" Deva kembali membuka mulutnya.
"Ah, jadi anak ini laki-laki? Iya, dia begitu tampan."
"Aku suka hidungnya. Mirip punyaku."
Punyaku?
Sebentar.
Baru saja Deva mengatakan ada bagian dari bayiku yang mirip dengannya?
Kenapa Deva membandingkan bayi ini dengannya, apa jangan-jangan...
"Ah, dia juga memiliki sinar mata yang indah seperti milikmu Kyla, mirip seperti mata Teo juga." lanjut Deva.
Teo? Anak itu, apa yang sekarang terjadi padanya? Apakah bayi di dalam gendonganku bisa menjadi donor untuk kesembuhan kakaknya? Ataukah sebaliknya?
"Kau mau tau nama anak ini?" pertanyaan Deva mengalihkan perhatianku.
"Siapa?"
"Xavier. Bagus kan. Aku yang memberikannya nama itu"
"K..kau yang memberinya nama?" tanyaku terbata-bata.
Dia mengangguk.
Kenapa? Kenapa Deva yang memberikan nama untuk bayi kecil ini? Apa jangan-jangan...
Deva adalah ayahnya?