Sprezzatura

Sprezzatura
Senyum Evellyn 2



Bayam mengandung asam oksalat yang dapat bereaksi dengan kalsium pada kedelai sehingga di dalam usus membentuk endapan yang tidak dapat larut yaitu kalsium oksalat.


"Apa yang terjadi?"


 


Tak ada satupun dariku maupun Evellyn yang menanggapi, kami terlalu fokus dengan anak ini.


 


"Deva, suntikkan acetylsalicylic acid."


 


"Baik" Aku segera berlari ke ruang penyimpanan obat dan melakukan apa yang diperintahkan Evellyn.


 


"Kylla ambilkan kotak peralatan medis di bawah meja"


 


Kyla langsung berlari dan membawakan apa yang Evellyn minta. Dengan sigap wanita itu segera membasuh tanggannya dengan cairan sterilisasi, memakai kaos tangan plastik, dan kembali memeriksa Teo. Setelah itu dia mengambil jarum, menusukkannya ke lengan kecil Teo, dan disambungkan ke selang infus.


 


"Untuk sementara Teo akan tertidur" ucapnya sambil menyuntikkan sesuatu ke cairan infus. "Kita tunggu perkembangannya setelah dia terbangun."


 


"Teo sebenarnya kenapa?"


 


Evellyn melucuti kaos tangan plastiknya dan memandang marah ke arah Kyla, "Kau tidak tau yang kau lakukan barusan bisa berakibat buruk bagi Teo!" bentaknya.


 


"Apa yang aku lakukan?"


 


"Memberikannya makanan sembarangan."


 


"Sembarangan?"


 


"Teo tidak bisa makan bayam dan kedelai bersama-sama. Orang sehatpun bisa mengalami efek samping, apalagi Teo yang sangat riskan!"


 


"Tapi aku tidak tahu"


 


"Tidak tahu bukan alasan Kylla. Nyawa Teo baru saja terancam. Ibu macam apa kau ini"


 


Kalimat terakhir Evellyn berhasil memecah tangis Kyla. Aku berusaha melerai mereka.


 


 


Evellyn memegang kepalanya frustasi. Melihat keadaan itu, aku segera mengajak Kyla yang terus menangis untuk menenangkan diri.


 


Kaivan sedang ada di California. Setelah mendengar apa yang terjadi, dia langsung berangkat pulang ke Italy. Dia memintaku untuk menjaga Teo dan Kyla sebelum mendarat di Roma.


 


"Aku minta maaf. Aku membentakmu tadi" setelah berhasil meredakan emosi Evellyn, aku menyuruhnya berdamai dengan Kyla.


 


"Aku yang salah. Menyebabkan Teo seperti sekarang ini" jawab Kyla.


 


"Kemarilah. Kita jaga Teo bersama-sama" Evellyn menyisakan tempat di samping Teo untuk Kyla. Dengan senang hati wanita itu menerimanya.


 


"Bagaiman keadaan Teo sekarang?"


 


"Belum ada perkembangan. Kita harus menunggu"


 


"Evellyn.." panggil Kyla lirih.


 


"Ya?"


 


"Terimakasih. Beberapa saat yang lalu, kau lebih terlihat seperti seorang ibu daripada seorang dokter"


 


Evellyn tersenyum. "Aku sudah bilang kan aku tulus menyayanginya."


 


"Bisa kau ceritakan kepadaku semua tentang Teo? apa yang boleh Teo makan, apa yang tidak boleh Teo makan, apa yang harus dihindarkan darinya, apa yang harus diberikan. Beri tau aku semuanya tentang Teo"


 


Lagi-lagi Evellyn tersenyum, "Baik. Em.. dari mana aku harus memulai. Ah, jadi.."


 


Dan sepanjang hari itu, dua wanita yang mengaku sebagai ibu Teo saling bercengkerama satu sama lain, berbagi cerita tentang hal-hal seputar bayi itu, kemudian beralih membicarakan Kaivan, bergosip tentang aku, kemudian membahas masalah kewanitaan seperti alat make up, pakaian, aksesoris, dan teman-temannya.


 


Aku menatap mereka dari kejauhan. Duduk di sofa sambil membuka lembar demi lembar La Gazzetta Dello Sport, surat kabar paling diminati di Italia. Dari sudut mata aku selalu mencuri-curi pandang terhadapnya. Bagimana raut wajahnya berubah dari bahagia, kemudian sedih dan simpatik, sampai ekpresi jijik dan ngeri. Semua sangat indah. Apalagi mengingat bagaimana tangkasnya wanita itu menangani Teo, rasa khawatir yang luar biasa saat melihat anak itu tergeletak tidak berdaya. Sinar matanya tidak bisa dibohongi. Cara dia memandang Teo, seolah-olah Teo adalah darah dagingnya sendiri. Dia memiliki cinta dan kasih sayang yang sungguh luar biasa tulus terhadap anak itu. Padahal dia tidak memiliki hubungan darah apapun dengannya. Wanita yang sungguh sangat luar biasa. Tapi kenapa hidupnya begitu memilukan.


 


Dan entah kenapa tiba-tiba ada keinginan yang sangat bergemuruh di dalam dadaku. Keinginan untuk mempertahankan senyum wanita itu. Senyum yang sangat cantik. Senyum Evellyn.