Sprezzatura

Sprezzatura
Meja Hijau 1



Seluruh media sedang membicarakannya. Berbagai kasus pelanggaran hukum yang melibatkan Victoria Group telah naik ke permukaan. Dan tentu saja, sebagai bos besar  semua dakwaan dituduhkan pada satu orang, Kaivan.


 


Beberapa anak perusahaan Victorrio Group terduga memalsukan perijinan lahan dan bangunan. Masyarakat luas dan aktivis-aktivis lingkungan hidup melakukan unjuk rasa di depan gedung utama Victorio Group mengakibatkan suasana kerja terganggu. Mereka meminta pertanggungjawaban perusahaan besar tersebut karena telah menjadi penyebab kerusakan lingkungan di beberapa titik akibat pembuangan limbah yang tidak sesuai izin. Bahkan beberapa tempat telah memboikot produk-produk yang dikeluarkan oleh Victorrio Group.


 


"Jadi Anda mengakui telah melakukan pemalsuan perijinan?" suara tegas hakim utama membuat seisi ruangan terdiam. Tak terkecuali seorang karyawan Victorio Group yang duduk gemetaran di kursi saksi.


 


"Yang Mulia, saya benar-benar tidak tahu jika telah melakukan pemalsuan perijinan. Saya hanya mengikuti intruksi dari atasan" jawabnya terbata-bata.


 


"Siapa yang memberikan Anda instruksi, apakah Tuan Baird dengan langsung memberikan Anda instruksi?"


 


"Tidak Yang Mulia. Tuan Baird sangat jarang bertatap muka dengan karyawanya selain di rapat dewan."


 


"Lalu darimana kau mendapatkan instruksi?"


 


"Semua instruksi yang saya dapatkan biasanya tertulis dengan jelas di dalam surat perintah yang dikirimkan kepada saya"


 


"Yang Mulia, bukti nomor sebelas" lirih seseorang yang duduk di samping orang tua berkacamata bulat itu. Dia menyerahkan setumpuk kertas yang disebutnya 'bukti nomor sebelas' tadi. Hakim itu menerimanya, dia tampak membolak-balikkan lembar demi lembar, mempelajari dari atas ke bawah sebelum berkomentar, "Siapa yang menandatangani surat tugas ini? Di sini hanya tertulis ketua dewan direksi. Tidak ada nama terang."


 


Lelaki di kursi saksi itu nampak kebingungan, "Maaf Yang Mulia. Saya hanya melakukan apa yang diperintahkan melalui surat tugas itu. Selebihnya saya tidak tahu."


 


"Siapa yang memberikanmu surat tugas ini?"


 


"Sekretaris pribadi Tuan Baird, Tuan Martinelli."


 


Setelah tidak ada lagi yang ditanyakan, hakim memutuskan untuk memanggil saksi berikutnya, yaitu Tuan Martinelli.


 


"Tuan Martinelli, sudah berapa lama Anda bekerja untuk Tuan Baird?"


 


"Sekitar dua tahun ini Yang Mulia, sebelumnya saya melayani ayahnya"


 


"Apa benar Anda yang memberikan surat tugas ini kepada saksi yang baru saja dipanggil?"


 


"Benar Yang Mulia"


 


"Apakah Anda melakukannya berdasarkan keinginan pribadi atau karena instruksi dari atasan Anda?"


 


"Saya melakukannya berdasarkan instruksi dari atasan"


 


"Berarti Anda mengakui bahwa Tuan Kaivan Alromano Baird yang memberi instruksi tersebut?"


 


"Memang benar Yang Mulia, Tuan Baird yang memberikan instruksi tersebut, namun Tuan Baird juga hanya menjalankan instruksi Yang Mulia."


 


"Menjalankan instruksi? Bukankah Tuan Baird adalah pemegang saham terbesar di Victorio Group? Dia merupakan ketua dewan direksinya bukan?"


 


 


"Maksud Anda?"


 


"Setelah menikah dengan putri keluarga Morelli, sebagian saham dan anak perusahaan telah Tuan Baird pindah tangankan ke keluarga istrinya. Yang Mulia bisa melihat dari bukti yang tertera dalam surat-surat yang telah di-alihnama-kan menjadi nama istrinya."


 


Hakim kembali menerima bukti-bukti yang disebutkan Tuan Martinelli beberapa saat yang lalu. Setelah menyuruh anak buahnya memastikan bahwa dokumen-dokumen itu legal, dia memanggil saksi berikutnya.


 


"Saksi berikutnya, Nyonya Evellyn Baird, silahkan masuk ke ruangan"


 


Evellyn memasuki ruang persidangan. Dia dipersilahkan duduk sebelum orang tua berkaca mata dengan jubah kebesarannya itu mulai menginterogasi.


 


"Nyonya Evellyn Baird?" tanyanya memastikan.


 


"Iya, Yang Mulia"


 


"Istri Tuan Kaivan Alromano Baird?"


 


"Benar Yang Mulia"


 


"Apakah benar Anda menerima beberapa aset milik Victorrio Group setelah Anda menikah dengan Tuan Baird?"


 


"Benar Yang Mulia"


 


"Sadarkah Anda bahwa kasus yang sedang ditangani ini semua berkaitan dengan nama-nama perusahaan yang sudah di-alihnama-kan atas nama Anda?"


 


"Saya tahu Yang Mulia. Tapi saya sama sekali tidak ikut campur dalam urusan perusahaan."


 


"Maksud Anda?"


 


"Semua aset yang saya dapatkan setelah menikah sudah saya alihkan menjadi milik kakak saya, Yang Mulia."


 


"Dialihkan? Aset sebanyak itu?"


 


"Benar Yang Mulia. Saya lebih mencintai pekerjaan saya sebagai seorang dokter. Saya juga tidak paham bagaimana mengurus perusahaan. Oleh karena itu, saya memberikan aset-aset itu pada kakak saya yang merupakan pemegang saham terbesar di Morelli Group. Saya merasa kakak saya lebih berkompetensi dalam dunia bisnis, jadi saya membiarkannya mengambil alih semua aset-aset yang diberikan suami saya"


 


"Apakah suami Anda mengetahui bahwa Anda memberikan aset-aset itu untuk kakak Anda?"


 


"Suami saya mengetahuinya Yang Mulia. Dan dia tidak mempermasalahkan apa yang telah saya lakukan. Dia menganggap keluarga saya adalah bagian dari keluarganya. Oleh karena itu, dia mendukung keputusan saya. Tapi saya tidak pernah menyangka jika kakak saya akan melakukan hal-hal seperti yang dituduhkan jaksa penuntut umum. Yang Mulia, suami saya benar-benar tidak tahu tentang setiap keputusan dan aktivitas yang dilakukan oleh anak-anak perusahaan yang telah diambil alih oleh kakak saya. Lagi pula jika Yang Mulai cermati, setiap pelanggaran yang dituduhkan tertanggal setelah hari pernikahan saya. Lebih tepatnya setelah dokumen-dokumen itu beralih menjadi milik keluarga Morelli. Mohon Yang Mulia memberikan keputusan yang bijaksana."


 


Hakim itu tampak termangut-mangut sambil memeriksa bukti-bukti yang tertumpuk di hadapannya. Setelah selesai dengan interogasinya, lelaki tua itu meminta persidangan diistirahatkan tiga puluh menit sebelum keputusannya diumumkan.