Sprezzatura

Sprezzatura
Good Bye Rome



Semua tamu kini terpusat di halaman depan, menikmati jamuan makan yang disediakan oleh pemilik acara. Teo bermain-main dengan beberapa anak kecil sebaya yang ikut orang tua mereka menghadiri pesta pernikahan ini. Sementara Xavier sedang digendong pengasuhnya.


 


"Sayang" Kaivan menggandeng tanganku, "Ikut aku sebentar"


 


Lelaki itu membimbingku berjalan ke dalam. Dia membawaku ke depan altar tempat di mana dua insan baru saja mengucap janji sucinya beberapa saat yang lalu. Kami berdiri saling berhadapan dengan Tuhan sebagai saksinya. Tiba-tiba dia menggengam kedua tanganku dan berlutut dihadapanku.


 


"Stella, kita pernah mengucap janji untuk selalu bersama dalam suka maupun duka. Aku tahu aku tidak akan pernah bisa menjadi yang sempurna bagimu. Namun cintaku padamu akan selalu sempurna dari waktu ke waktu. Maafkan aku yang pernah gagal menjagamu di sampingku. Namun mulai detik ini aku berjanji akan setia menemanimu sampai akhir hayat kita. Menjadikanmu satu-satunya untukku. Mengarungi hari-hari bersamamu, bersama-sama membesarkan Teo dan Xavier. Stella, aku mencintaimu, dulu.. sekarang.. dan selamanya. Maukah kau bersanding di sisiku, bersama dalam suka maupun duka, hingga akhir hayat memisahkan kita?"


 


Mataku terasa berat, rangkaian tulus kata-kata indahnya membuai batinku, memaksa air mataku untuk jatuh dari peraduannya.


 


"Tentu saja" jawabku seraya menahan kristal bening dipelupuk mata.


 


Satu tangannya mencari sesuatu di kantong kemeja sebelum menyerahkannya padaku.


 


"Apa ini?" tanyaku


 


"Surat pernikahan kita. Sekarang kau sudah sah menjadi Nyonya Kaivan Alromano Baird."


 


Aku terkekeh. Kertas yang sudah lama aku nanti-nantikan ini akhirnya berada dalam genggamanku. Kini aku bukan hanya istri yang dia akui di hadapan Tuhan, namun juga di hadapan semua orang.


 


"Biasanya orang akan memberikan cincin saat melamar pasangannya. Dan apa yang aku dapat di sini? Sebuah kertas?" candaku.


 


Kaivan berdiri dan merebut kertas itu dari tanganku, "Jadi kau tidak mau? Ya sudah akan aku ambil lagi."


 


"Bukan begitu" aku merebut kembali secarik kertas itu lalu mengamankannya dibalik punggungku. "Siapa yang bilang tidak mau" lanjutku cemberut.


 


Lelaki di hadapanku terkekeh melihat tingkahku. Kemudian dia meletakkan kedua tanganya di bahuku dan menatapku dalam-dalam, "Dengar Stella, mungkin aku bukan lagi Kaivan yang bergelimang harta. Sekarang aku hanya lelaki biasa, seperti yang kau temui lima tahun lalu. Aku tidak bisa memberikanmu banyak intan permata, namun aku berjanji, aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia."


 


Aku menangkup ke dua pipinya, "Yang aku butuhkan hanya kau, Kaivan. Kau lebih berharga bagiku daripada semua permata di dunia. Lagi pula aku masih memiliki perkebunan anggur yang kau berikan padaku di Toscana waktu itu. Ah, kau juga membelikanku satu pulau pribadi di sana. Hmm, kalau dihitung-hitung berapa euro yang aku dapatkan dari dua aset itu?"


 


"Woaah, sepertinya aku menikahi istri yang kaya raya" candanya.


 


"Tentu saja. Sekarang aku yang akan mencari uang. Kau cukup berdiam di rumah mengurus Teo dan Xavier" ucapku menjawab candaannya.


 


"Tidak bisa. Aku kepala keluarga. Aku yang akan mencari uang. Bagaimana bisa kau meninggalkanku dengan dua bocah itu di rumah. Kau mau rumah kita jadi kapal pecah?"


 


 


Suara derap langkah kaki lagi-lagi menganggu keasyikan kami berdua. Deva muncul dari balik pintu dengan nafas tersengal-sengal, "Kaivan, Kyla, cepat bantu aku... Evellyn akan segera melahirkan"


 


***


 


 


Aku dan Kaivan berdiri membelakangi Trevi Fountain.


 


"Kau siap?"


 


"Ya" jawabku singkat.


 


"Satu.. dua.. tiga.." Kaivan memberiku aba-aba. Dan dalam hitungan ke tiga kita sama-sama melempar koin ke dalam air mancur penuh misteri itu.


 


Plung. 


 


Aku dan Kaivan membalikkan badan seraya menengok ke dalam kolam. Di sana, di dasar genangan air itu dua koin berbentuk bulat dan bersinar keemasan kini bersemayam. Dua koin yang akan selalu mengikat kita pada kota ini. Roma yang penuh cerita. Roma yang membawa kita kembali bersama. Roma yang selalu aku cinta.


 


Namun sekarang, aku harus pergi meninggalkan Roma. Kaivan dan aku telah memutuskan untuk kembali pulang ke bumi pertiwi. Meninggalkan negeri para dewa dan memulai lembaran baru di tanah bertahta zamrud kehijauan itu. Meskipun aku akan pergi tapi kota ini akan selalu bersamaku. Kota yang pernah menjadi mimpiku. Kota yang pernah menjadi tempat ku bernaung. Kota yang memberikanku satu nama, Roma.


 


Dan aku akan membawanya selalu, Roma ku yang tak kan hilang dimakan waktu.


 


Kaivan Alromano Baird. Matteo Alromano Baird. Xavier Alromano Baird.


 


Terimakasih Roma, kau menghadiahkan padaku tiga nama yang akan selalu menjadi alasan untukku bahagia.


 


Kini aku harus mengucapkan selamat tinggal pada indahnya pesonamu.


 


Sampai jumpa Roma... sampai kita bertemu kembali.


 


Dariku yang pernah kau sentuh dengan keajaiban kotamu, Stella.


 


 


-THE END-