
Pertempuran dimulai.
"Nyonya Margareth yang menyuruhku." Deva membela diri. "Beliau bilang agar aku bisa langsung mengawasi perkembangan Teo. Dia juga menyuruhku membantu dokter yang merawat Teo di sini."
Kaivan masih menatap tajam ke arah pemuda di depannya. Dia tidak mengeluarkan sepatah katapun, namun rahangnya mengeras.
"Lagipula aku juga harus menjaga bayiku. Ayah macam apa aku ini jika meninggalkan anak dan ibunya" itu bukan hanya sekedar kalimat, tapi juga sindiran.
"Itu bayiku" geram Kaivan.
"Bukan. Itu bayiku" Deva tak mau kalah.
"Sebelum aku memanggil petugas keamanan, sillahkan angkat kaki dari rumahku."
"Katakan itu pada Nyonya Margareth. Aku hanya menjalankan perintahnya."
Kaivan memijat kepalanya pening.
"Kalau kau mau, aku akan pergi" ucapan Deva membuat Kaivan menoleh, "Tapi hanya jika Kyla ikut bersamaku"
"Jangan harap kau bisa membawa Kyla keluar dari rumahku"
"Bingo. Karena aku tidak bisa membawa Kyla keluar dari rumahmu, makanya aku yang masuk."
Seringai Deva menghasilkan satu umpatan kasar dari bibir Kaivan. Tapi lelaki itu sama sekali tidak menghiraukannya. Pandangannya kini malah tertuju padaku.
"Kyla, bisa kau tunjukkan di mana kamarku?"
"Pelayanku yang akan mengantarmu!" tegas Kaivan sebelum aku bisa menanggapi.
"Baik. Aku minta kamar di dekat kamar Kyla"
Kaivan menyeringai, "Bukan ide bagus Tuan Whang. Kyla dan aku berbagi kamar yang sama."
Kini Deva yang mengepalkan tangannya, "Kalian tidur bersama?"
"Apa salahnya? Dia istriku?"
"Istri?" Deva tertawa mengejek, "Jangan gunakan alasan itu lagi untuk mengikat Kyla. Pernikahan kalian sudah lama berakhir. Bukankah kau memutuskan hubunganmu dengan Kyla di hari kau meninggalkannya?"
"Nyonya Margareth yang mengatakannya padaku. Ah, dia juga bilang kau akan segera menikah dengan gadis lain, secara resmi." Ada penekanan di dua kata terakhir yang diucapkan Deva.
Secara resmi... mengapa dua kata itu terasa begitu tajam mengoyak ulu hatiku?
***
"Kau melamun?" ucapan Kaivan membuatku terhenyak dari tatapan kosong memandang langit biru dari balik jendela.
"Ah, tidak" aku berbohong.
"Ada yang menganggu pikiranmu?"
Aku terdiam.
"Mau bercerita kepadaku?"
Aku berpikir sejenak. Menimang-nimang apakah aku harus mengutarakannya atau tidak. Setelah yakin, aku mengirup nafas dalam-dalam dan mulai bercerita, "Aku bingung"
"Apa yang kau bingungkan?"
"Hubungan kita"
Alis mata Kaivan terangkat.
"Kau dan aku.." aku berhenti sesaat "..apa kita masih terikat pernikahan?"
"Tentu saja Stella. Kau masih istriku"
"Tapi.. hari itu, kau jelas-jelas mengatakan kita selesai"
Kaivan menutup matanya dan mengambil nafas panjang, "Tidak Stella, aku sungguh-sungguh tidak memaknainya. Itu hanya emosi sesaat."
"Kita tidak pernah menikah secara resmi Kaivan. Bukankah hanya dengan satu kata darimu bisa mengakhiri pernikahan kita?"
Kaivan mendengus kasar. Kedua tangannya ia tangkupkan di kedua pipiku, menarik wajahku ke atas hingga netra kita saling beradu, "Dengar Aqilla Auristella, aku minta maaf akan kejadian hari itu. Aku tahu aku keterlaluan, tidak bisa mengontrol emosi, dan mengatakan hal yang seharusnya tidak aku katakan. Terlebih lagi di hari yang sama aku dibawa pergi secara paksa, meninggalkanmu dan bayi kita, tanpa penjelasan. Aku mengerti kamu pasti berpikir aku sungguh-sungguh meninggalkanmu dan Teo. Sehingga kau terpaksa harus menyerahkan Teo ke Panti Asuhan. Kemudian bertemu Deva, dan memulai hidupmu dari awal lagi. Aku tidak menyalahkanmu. Setidaknya laki-laki itu telah menjagamu ketika aku tidak ada. Tapi di sini aku sekarang, di sisimu, sedang berjuang menyatukan kembali keluarga kecil kita. Ini memang tidak mudah Kyla. Banyak orang yang tidak menginginkan kita bersama. Jadi aku mohon, jangan kau mempertanyakan lagi pernikahan kita. Ya, suatu saat nanti aku pasti akan menikahimu secara resmi. Mengatakan kepada dunia bahwa kau istriku. Membuat semua orang memanggilmu Nyonya Kaivan Alromano Baird. Tapi tidak sekarang, nanti Stella, nanti.. di saat semua sudah kita lalui. Di saat aku sudah bisa terlepas dari jeratan wanita itu. Kau mau menunggu waktu itu tiba kan?"
Bulir air mata sudah jatuh membasahi kedua pipiku. Bukan, aku bukan menangis karena sedih, tapi aku menangis karena lega. Lega setelah mendengar langsung dari mulut Kaivan penuturannya, tentang hubungan kita, tentang perasaanya, dan tentang masa depan kita. Ibu jarinya dengan lembut menghapus sisa-sisa air mataku. Dia menarik sedikit wajahku ke atas, mendekat ke wajahnya. Bibir kita hampir saja bertemu sebelum...