
Aku mengonta-ganti channel TV, tak ada yang menarik. Semua media ramai membahas pernikahan besar dua keluarga paling berpengaruh di Italia, keluarga Baird dan keluarga Morelli. Indeks saham naik begitu drastis, semua orang membicarakan bagaimana penggabungan Vitorrio Group dan Morelli Group akan mengakuisisi pasar Eropa Barat. 4211, itu nomor kamar dimana aku berada sekarang, sementara 4212 itu nomor kamar yang sudah dipesan sebagai kamar pengantin pasangan suami istri yang baru hangat-hangatnya diperbincangkan media.
"Matikan saja TV-nya" Kaivan memelukku dari belakang, menempatkan wajahnya di ceruk leherku, menghirup aromaku dalam-dalam.
"Apa yang dilakukan pengantin baru di sini?" aku menyindir.
Kaivan mendengus kasar, dia berjalan memutari sofa lalu merebahkan kepalanya di pangkuanku.
"Ini" Laki-laki itu menyodorkan sebuah kertas.
"Apa ini?"
"Hak asuh Teo.. sekarang kau wali sahnya"
Aku menerima selembar surat yang harus Kaivan tebus dengan menikahi putri keluarga Morelli beberapa saat yang lalu.
"Aku lelah sekali hari ini" Kaivan menghadapkan wajahnya ke perut besarku, hidungnya bersentuhan dengan kain yang menutup tubuhku.
"Usap kepalaku" rajuknya.
Aku meletakkan surat berharga itu di atas nakas dan mulai mengusap kepalanya, "Bagaimana dengan Evellyn? Kau meninggalkannya sendirian?"
"Dia bersama orang yang sangat dia butuhkan saat ini.. ayah dari bayinya"
"Huh, aku masih tidak percaya aku mengijinkanmu menikahi wanita lain"
Kaivan mengambil tanganku di atas kepalanya lalu mengenggamnya erat di dekat dadanya, "Hanya kau yang selalu menjadi wanitaku, Stella."
"Iya. Aku wanita yang kau nikahi di hadapan Tuhan. Dan dia wanita yang kau nikahi dihadapan semua orang."
"Ayolah Stella, kau tahu sendiri aku dan Evellyn tidak benar-benar menikah. Tunggulah sampai perjanjian ini berakhir"
"Apa kau yakin rencanamu akan berhasil?"
"Segala kemungkinan masih bisa terjadi"
(Beberapa hari sebelum pernikahan)
"Jadi kau hamil?" mata elang Kaivan menatap tajam ke arah Evellyn yang sekarang tengah menunduk sambil memainkan jari jemarinya. Dia terlihat sangat gugup.
"Kau tidak punya mulut?" gertak bos besar itu.
Tubuh kecil Evellyn bergetar hebat, isak tangis keluar dari mulutnya. Menyadari akibat dari gertakannya, Kaivan menurunkan suaranya. "Keluargamu tau?"
Gadis itu mengangguk.
"Lalu apa yang mereka lakukan?"
"Me..mereka bertanya ini anak siapa" jawab Evellyn terbata.
"Apa yang kau katakan?"
Bibir gadis itu terkatup rapat, tidak berani bersuara.
"Jangan buang waktuku hanya untuk menunggumu berbicara Evellyn."
"Ma..maaf. Aku bilang pada mereka.. ini.. ini.. " Evellyn menelan ludahnya, bersiap mendapat semburan amarah lelaki di depannya, "..anakmu"
"Kenapa kau mengatakan bahwa itu anakku? Aku tidak pernah menyentuhmu sama sekali"
Tangis Evellyn pecah. Dia merasa tertekan sekaligus bersalah. "Aku takut.. aku takut mereka akan memukulku lagi. Mereka selalu ingin aku menikah denganmu. Jika mereka tau aku hamil anak laki-laki lain, mereka pasti memaksaku menggugurkannya. Aku tidak mau Kaivan. Aku tidak mau"
Hati Kaivan melunak melihat pemandangan di depannya, "Jadi kau meminta aku bertanggung jawab pada sesuatu yang tidak aku lakukan?"
"Ma.. maaf. Aku tau aku keterlaluan. Tapi aku tidak akan meminta lebih selain kau menikahiku. Aku tidak akan menjauhkan kau dari Kyla. Aku juga tidak akan menuntut kau memperlakukanku sebagai istri. Aku hanya butuh pengakuanmu di depan keluargaku, Kaivan. Aku mohon.. Tolong aku"