Sprezzatura

Sprezzatura
One Morning Day



Aku terbangun karena kecupan kecil-kecil di bibirku, "Kaivan?"


 


"Buongiorno amore mio (Selamat pagi sayang)"


 


Aku menggeliatkan badan sebelum merangkul lehernya dengan tanganku, "Kau tidak pulang semalam?"


 


Dia mengecup bibirku sekali lagi, "Ada yang harus aku kerjakan"


 


Aku menelusuri garis wajahnya, ada kantong mata hitam pertanda dia begadang lagi semalam, "Jaga dirimu, aku tidak mau kau sakit"


 


Dia hanya tersenyum seraya merapikan rambutku yang berantakan dan menyelipkannya ke belakang telinga. Ah, aku pasti terlihat berantakan sekali pagi ini. Tapi masa bodoh, hatiku sedang bahagia.


 


"Kau terlihat dalam mood yang cerah pagi ini?"


 


Aku mengangguk dan mulai bercerita, "Kau tau, kemarin Teo sudah mau aku gendong. Aku juga memasak untuknya dan dia memakannya dengan lahap. Dia sangat cerewet ketika aku mengajaknya jalan-jalan ke taman, membual dengan bahasa yang entah apa artinya aku tidak mengerti. Ah, dan tadi malam aku yang menidurkannya. Sebentar, bukannya tadi malam aku tertidur di ranjang Teo, kenapa bisa jadi di sini?"


 


Kai terkekeh, "Aku yang memindahkanmu. Kau kan sedang hamil. Kau juga perlu istirahat."


 


"Hoek.." tiba-tiba perutku terasa mual, aku mendorong tubuh Kaivan kebelakang agar memberi jalan untukku yang segera berlari ke arah kamar mandi.


 


"Hoek..hoek.." aku memuntahkan segala isi perutku. Kaivan menyusulku dari belakang dan memijat leherku, membuatku merasa lebih nyaman.


 


"Kau baik-baik saja?" tanyanya cemas.


 


"Aku tidak apa-apa. Hanya morning sickness biasa" sanggahku sambil menyentor sisa muntahanku dan berjalan kembali ke ranjang.


 


"Selamat pagi Kyla." Sadeva berdiri di depan pintu membawakan nampan berisi satu gelas jahe hangat dan satu piring kecil edamame.


 


Kaivan memutar matanya, "Seharusnya aku mengunci pintu" ucapnya pada diri sendiri.


 


"Bagaimana kabar bayiku hari ini? Apa dia membuatmu mual-mual lagi?" Deva meletakkan nampan itu di depanku.


 


"Berhenti memanggilnya bayimu" Kaivan tidak terima.


 


Deva tidak memperdulikannya, "Ini jahe hangat untuk meredakan mual-mualmu" Lelaki itu menyodorkan satu cangkir penuh minuman berwarna beraroma khas rempah-rempah itu.


 


"Apa kau tidak pernah berangkat kerja? Selalu saja bergentayangan di rumahku"


 


"Kalau mau memprotes, katakan itu pada Nyonya Margareth. Dia yang memberiku dispensasi. Daripada kau, pergi keluar terus tanpa merawat Kyla di rumah"


 


"Hh, hanya karena aku jarang di rumah kau bilang aku tidak merawat Kyla?"


 


"Cukup" aku tidak bisa lagi mendengar mereka bertengkar, "Kalian membuatku sakit kepala"


 


 


"Tidak. Aku akan segera panggilkan dokter untuk memeriksamu" Kaivan tak mau kalah.


 


Jika aku diamkan, mereka bisa berdebat terus sampai jam makan siang.


 


"Terserah. Aku mau melihat Teo saja"


 


Aku segera melangkahkan kakiku menuju kamar Teo. Samar-samar aku dengar mereka masih beradu pendapat. Tapi tetap mengekorku di belakang.


 


Evellyn baru saja selesai memandikan Teo. Huh Kyla, kau bangun terlalu siang.


 


"Biar aku bantu" aku menawarkan diri.


 


"Baik. Tolong balurkan baby oil ke tubuh Teo.


 


Aku mencari botol berwarna kuning bergambar lebah dengan tulisan Burt's Bees Baby di dalam pouch perlengkapan Teo. Setelah menemukannya, aku menuangkan sedikit  ke telapak tanganku dan membalurkannya ke tubuh Teo. Sesekali aku mengajak malaikat kecil ini bercanda, menggelitiki perutnya atau telapak kakinya.


 


"Kau semakin mahir bersenda gurau dengan Teo" ujar Evellyn.


 


"Sudah naluri kurasa. Sebentar, lenganmu kenapa?" Aku melihat ada lebam biru di lengannya. Tapi wanita itu segera menarik lengan bajunya, menutupi apa yang baru saja aku lihat.


 


"Bukan apa-apa" dia mengelak. "Bisa kau jaga Teo dulu. Aku mau kebelakang sebentar"


 


"Tentu saja"


 


"Hei jagoan Papa.. Tampan sekali hari ini" Kaivan masuk dan langsung memeluk Teo. Dia mencuri satu kecupan di pipinya.


 


"Hai bayi kecil. Masih ingat paman?"


 


Melihat Sadeva di depan pintu, tangis Teo pecah, "Huaahuaahuaaa"


 


"Kenapa menangis? Aku bahkan tidak membawa jarum suntik"


 


"Menghilang kau dari hadapan anakku. Membuatnya menangis saja" usir Kaivan.


 


"Hei. Bukan salahku kalau dia trauma denganku yang selalu datang dengan jarum suntik. Kalau aku tidak memberinya suntikan, dia tidak akan cepat pulih"


 


"Tak usah banyak omong. Yang jelas, anakku tidak mau melihatmu"


 


Deva memutar matanya sebelum mengalah dan berjalan pergi.