Sprezzatura

Sprezzatura
Whisper Sweet Nothing 1



Aku terseyum geli. "Kau terlihat menggemaskan"


 


"Menggemaskan? Siapa? Aku?" Kaivan menunjuk dirinya sendiri, dahinya mengernyit tidak suka.


 


Pemandangan yang sudah lama tidak aku lihat, wajah bangun tidur dan ekspresi polosnya.


 


"Kalau dilihat-lihat lagi.." aku menangkup kedua pipinya, membaliknya ke kanan dan ke kiri sebelum berkomentar, "Kau mirip sekali dengannya"


 


Alis Kaivan terangkat, "Siapa?"


 


"Teo"


 


"Ck, bukan aku yang mirip dengannya tapi dia yang mirip aku" Kaivan mengelak.


 


Aku terkekeh, "Kalian berdua sangat mirip, sampai-sampai aku tidak bisa menemukan bagian dariku yang mirip dengannya"


 


Kaivan menarikku ke dada bidangnya. Kami masih bergumul di balik selimut dengan kepalaku bersandar di lengannya. "Bukankah waktu membuat Teo aku yang paling mendominasi? Jadi wajar saja kalau dia sangat mirip denganku. Kalau mau yang mirip denganmu, kau harus banyak berjuang" satu kedipan menggoda lolos dari mata kanannya membuatku menyarangkan satu cubitan kecil di perutnya.


 


"Aaaw... sakit sayang" Kaivan mengaduh dan mengelus-elus bekas tindakan brutal tanganku. Mataku masih melirik tajam ke arahnya, namun dengan lihainya dia menyibak selimut yang menutup tubuh kami dan menghadapkan wajahnya ke depan perutku.


 


"Aku bertaruh anak ini juga akan mirip denganku"


 


Aku menelan ludah, tidak tahu bagaimana harus menanggapi kalimatnya.


 


Dia meletakkan telapak tangannya yang besar di atas perutku dan mengelusnya lembut "Ini anakku, aku yakin itu."


 


"Kai.."


 


Lelaki itu mendongak, "Anak ini anakku. Dia adalah adik Teo, dia yang akan menjadi penyelamat Teo. Aku, kau, Teo, dan bayi ini, kita akan hidup bersama-sama, sebagai satu keluarga. Kau harus yakin itu."


 


Aku mengangguk, menampilkan senyum tulus di sudut bibirku. Kaivan membalas senyuman itu tak kalah manisnya. Wajahnya kembali menghadap perutku.


 


 


Ucapan Kaivan sukses membuat pipiku merona.


 


"Hah? Apa?" lelaki itu menempelkan telinganya ke perutku, seolah-olah mencari tanggapan si kecil. "Mama minta dicium?"


 


"Kaivan, kau ini-"


 


Cup. Pipiku memerah.


 


Kaivan kembali berbisik ke perutku. "Udah Papa cium. Mama suka nggak?" Ganti telinganya yang menempel di perutku. "Gimana? Anak Papa juga mau dicium? Baik."


 


Lelaki itu mendaratkan kecupan kecil-kecil di sekeliling perutku membuatku tertawa geli.


 


"Kaivan.. hentikan... Kaivan" aku menarik wajahnya ke atas dan mengecup bibirnya sekilas.


 


"Kau tahu, aku kira semua anak kita akan mirip denganmu. Bagaimana aku bisa menggunggulimu?"


 


Kita sama-sama tertawa.


 


"Cobalah lebih keras lagi, lalu lahirkan satu untukku, tapi yang mirip denganmu." Godanya sebelum mencubit kecil hidungku.


 


Belum sempat membalas, Kaivan menarikku dari dalam selimut, "Ayo makan. Bayi kecilku butuh asupan"


****


 


"Teo.. aaaaa"


 


Hal pertama yang aku jumpai di ruang makan adalah si wanita ular yang sedang menyuapi anak sulungku. Teo duduk di kursi bayinya, mulutnya penuh dengan bubur nasi yang dicampur lumatan daging salmon dan beberapa macam sayuran hijau.


 


"Pintar" pujinya.


 


Harusnya aku senang. Kesehatan Teo sudah semakin membaik. Tidak ada lagi selang dan jarum yang menancap di lengan  kecilnya. Tidak ada lagi inhalator untuk memasok udara di paru-parunya. Dia sudah bisa merancau, bergerak dengan lincah, dan tersenyum lepas. Andaikan saja yang disampingnya itu adalah aku, yang menyuapinya adalah aku, yang bercanda dengannya adalah aku. Tapi kenyataannya, itu bukan aku.