
Ketika terjadi perang Troya, pasukan Akhaia dari Sparta tidak pernah bisa menembus benteng pertahanan kerajaan yang terletak di Dardanelles, Turki modern, itu selama sepuluh tahun. Lalu apa yang menjadikan mereka berhasil mengobrak-abrik kekuatan militer yang sangat luar biasa itu? Siasat dan srategi.
"Teo, coba lihat apa ini" aku menggoyang-goyangkan mainan plastik berbentuk kuda di depannya.
Bayi itu ada dalam pangkuan ayahnya, menatap tertarik ke arah miniatur kota yang dirangkai dari susunan lego. Sebuah kastil kuno dikelilingi benteng kokoh yang berdiri tegak, dengan miniatur-miniatur prajurit di sekelilingnya.
Ini adalah kesempatanku mendekati bayi kecil ini. Kesempatan yang jarang ada. Evellyn sedang keluar, dan Teo berada dalam mood yang cerah. Berbicara tentang anak ini, dia masih takut kepadaku. Tak hanya kepadaku sebenarnya, tapi kepada setiap orang baru yang dia temui. Dia hanya merasa nyaman ketika bersama Evellyn atau Kaivan, selebihnya tidak ada.
"Coba lihat para prajurit di luar, mereka ingin masuk ke dalam tapi tidak bisa." Aku menggeser mainan plastik berbentuk prajurit itu ke arah benteng kemudian mementalkannya keluar, "Ups, prajuritnya terpental tidak bisa masuk". Bola mata Teo melebar merasa tertarik dengan skenario ceritaku. Apalagi saat aku mendaratkan mainan plastik itu ke kakinya, menggodanya, dan menggelitiki kulit lembut bayi itu menciptakan tawa renyah yang baru pertama kali dia berikan untukku.
"Teo tau apa yang dilakukan prajurit agar bisa masuk?" alis mata Teo terangkat, merasa penasaran dengan jawabannya. Tak hanya bayi itu yang penasaran, tetapi lelaki tampan yang sedang memangkunya juga. Aku menarik sudut bibirku ke atas, bagaimana bisa ayah dan anak ini sangat mirip, sampai-sampai ekspresi penasaran keduanya pun mirip. Semua orang yang melihatnya pasti langsung tau, Teo adalah versi kecil dari beruang besar ini.
"Mereka bersembunyi di perut kuda"
Si kecil tetap diam di tempatnya, tapi si beruang besar memprotes.
"Bagaimana bisa bersembunyi di perut kuda? Mereka dimakan? Sebesar apa perutnya?"
Namun mulut Kaivan segera terkunci rapat setelah aku menatapnya tajam dan menggerakan bibir tanpa suara, mengisyaratkan lelaki itu untuk diam dan tidak mengganggu kegiatanku bercerita.
"Prajurit yang di dalam tidak tahu jika musuh mereka bersembunyi di perut kuda. Melihat kuda yang sangat besar, prajurit-prajurit yang di dalam membuka pintu gerbang dan membawa kuda itu masuk" lanjutku sambil memeragakan adegan dengan menggeser kumpulan-kumpulan lego dan miniatur plastik yang tertata rapi di hadapan kami.
Satu potong Rosetta bread yang kuambil dari meja di kananku langsung aku masukkan ke dalam mulut Kaivan, mencegahnya bersuara lagi. "Jaga kosa kata mu di depan Teo, Tuan Baird" bisikku sarkas.
Bayi mungil itu menatapku, tidak sabar mendengar lanjutan ceritanya "Nah, saat malam hari dan semua orang tertidur, para prajurit keluar dari perut kuda dan kemudian mereka berlari ke istana." Tanganku menggerakkan benda plastik kecil itu seolah berlari ke arah bangunan tertinggi di sampingnya.
"Taaaraaa... prajurit yang tidak bisa masuk akhirnya berhasil sampai di istana" ucapku penuh semangat seraya meletakkan prajurit plastik itu di pucuk bangunan tertingi dari lego. Namun sayang, terlalu bersemangat aku malah menghancurkan miniatur istana yang sudah susah payah dibuatkan ayah si bayi.
"Ups.. istananya hancur" aku mengerucutkan bibirku, namun Teo malah terkikik nyaring. Entah karena lego yang berjatuhan, atau karena mimik wajahku. Tapi yang jelas, aku berhasil membuat anak ini tertawa lepas. Dan itu lebih penting dari apapun.
"Sepertinya ceritamu tidak asing" ujar Kaivan dengan mulut penuh roti.
"Tentu saja. Waktu aku hamil Teo kau memintaku untuk menemanimu menonton film itu semalam penuh"
"Ah, Troya? Pantas saja tidak asing."
Ya, sebuah tragedi bersejarah yang dikisahkan dalam sajak Siklus Epik, dimana prajurit Akhaia melakukan tipu muslihat dengan meninggalkan sebuah patung kuda raksasa di depan pintu gerbang kerajaan Troya. Patung kuda yang dianggap sebagai simbol kekalahan lawannya tanpa curiga mereka bawa masuk. Namun malamnya, keluarlah para prajurit yang bersembunyi di dalam patung itu, melancarkan serangannya dan memporak-porandakan seisi kota. Akhirnya, setelah sepuluh tahun, mereka berhasil menakhlukan kekuatan tak tersentuh benteng pertahanan Troya.
Setiap orang memiliki benteng pertahanan masing-masing. Termasuk bayi kecil seusia Teo. Aku tidak tau apa yang terjadi padanya hingga dia tidak terlalu suka dengan orang dewasa yang baru dikenalnya. Apapun yang pernah terjadi, aku tidak akan membiarkan Teo terus berada di dalam kondisi itu.
Tunggu sebentar nak, jika Teo tidak mau membuka saat Mama mengetuk pintu gerbang benteng pertahanan Teo, Mama akan selalu mencari cara untuk menelusup masuk ke dalam dan memenangkan hati Teo. Tidak peduli butuh waktu satu tahun, dua tahun, maupun sepuluh tahun, Mama akan seperti pejuang Akhaia, yang tidak kenal lelah memperjuangkan hati Teo.