Sprezzatura

Sprezzatura
Hormon Wanita Hamil 1



-Kaivan-


 


 


 


Hormon wanita hamil, haruskah aku menyalahkan itu?


 


"Sudah aku bilang, kita hanya-" kalimatku terpotong, tidak mampu menemukan perbendaharaan yang tepat.


 


"Hanya apa? Jelas-jelas aku melihatmu hampir memegang milik satu sama lain"


 


"Aku sama sekali tidak memegang. Kita hanya membandingkan"


 


"Apanya yang mau dibandingkan. Bahkan kalian tidak punya malu memperlihatkan barang pribadi ke satu sama lain. Katakan padaku yang sebenarnya, ini bukan yang pertama kali kan?" jari telunjuk Stella mengarah ke wajahku, nafasnya naik turun penuh amarah. Harus bagaimana aku menjelaskannya, semakin aku perjelas semakin dia marah. Sudah sebulan belakangan ini emosi Stella selalu labil. Terkadang dia tiba-tiba menangis, tiba-tiba senang bukan main, dan terkadang juga marah tanpa sebab. Hufh, dasar ibu hamil.


 


"Stella, it's not a big deal for men to show their 'things' in front of each other. Pria dan wanita itu berbeda. Kami para pria bahkan bisa mandi bersama-sama tanpa sehelai benang pun dan masih bersikap biasa saja. Jadi jangan berpikiran tidak-tidak hanya karena kau menjumpai kami dalam posisi sedikit 'aneh' seperti tadi" jelasku panjang lebar.


 


Aku kira logika berpikir Stella sudah kembali seperti semula ketika wanita itu terdiam sebentar mencerna ucapanku, tapi ternyata aku salah. Sudut bibirnya turun, raut wajahnya berubah masam, dan akhirnya dia menangis.


 


"Ini semua salahku... huhuhu.. sejak hamil aku tidak pernah mengijinkanmu menyentuhku. Pasti karena itu kau mencari pelepasan di luar. Tapi kenapa harus Deva.. kenapa kau menjadi berpindah haluan seperti ini huhuhu..."


 


Aku melambai-lambaikan tanganku mengingkari setiap ucapan Stella "Buka begitu Stella. Ya ampun bagaimana aku harus menjelaskannya"


 


"Huhuhu... pantas saja belakangan ini kau selalu menempel dengannya. Bahkan kalian sering menghilang berdua sampai tidak pulang semalaman. Huhuhu.."


 


 


"Jangan sentuh aku." teriaknya mengelak.


 


"Baik. Tapi tenangkan dirimu dulu. Bukannya wajar-wajar saja kalau lelaki sering lupa waktu ketika bermain di luar. Itu yang terjadi padaku dan Deva. Bukan karena ada apa-apa di antara kami. Toh aku lelaki normal. Masih ada banyak wanita seksi di luar sana, mengapa aku harus memilih laki-laki." Ups, sepertinya aku salah bicara.


 


"Huaaahuaa... jadi kau masih saja melirik wanita lain? Kau sudah bosan denganku? Iya, sekarang aku sudah jelek, gemuk, tidak cantik lagi. Jadi sekarang kau lebih senang menghabiskan waktumu di luar daripada di sampingku. Iya, kan?"


 


Aku mengacak rambut frustasi, "Bukan begitu Stella. Kau tetap yang paling cantik, bahkan semakin cantik dari hari ke hari"


 


"Bohong. Kau sering sekali pergi ke luar. Ponsel dimatikan. Tidak bisa dihubungi sama sekali. Dan setiap kau tidak ada di rumah Deva juga tidak ada di rumah. Tuan Martinelli bilang kalian pergi bersama. Apa yang kalian lakukan di luar sana? Mencari wanita lain? Atau malah bermain-main dengan satu sama lain?"


 


Bagaimana bisa aku menjawab Deva dan aku pergi karena melarikan diri dari dua wanita hamil di rumah ini. Kita para lelaki juga butuh ruang untuk bernafas. Satu wanita hamil saja sungguh merepotkan, apalagi dua. Setiap hari ada-ada saja permintaan aneh. Rasanya posisiku di rumah ini berubah drastis dari sang pemilik rumah yang tidak bisa disanggah menjadi pelayan paling bawah yang mengeluh pun salah.


 


"Kenapa diam? Jadi benar selama ini kalian-" Stella tak mampu melanjutkan kata-katanya, tangisnya pecah terlebih dulu. "Huhuhu.. kau tega sekali. Seluruh tubuhku sakit karena kehamilan ini. Bahkan aku tak bisa tidur nyenyak setiap malam. Tapi malah ini yang kau lakukan padaku.. huhuhu..."


 


Aku harus bagaimana kalau sudah seperti ini?


 


"Stella.." Baru saja aku membuka mulut, suasana hati Stella berubah seketika dari melankolis menjadi marah meledak-ledak.


 


"Tidak usah beralasan lagi. Mulai saat ini kau dilarang keluar rumah"


 


Fuih, kenapa wanita hamil menyusahkan sekali?