
Pantas saja wajah Evellyn serasa tidak asing. Dia kakak Clara, cinta pertama Deva.
"Cincang lebih halus lagi. Sistem perncernaan Teo masih sangat riskan" Aku menahan diri untuk tidak mengumpat. Evellyn sudah berbaik hati membiarkanku membantunya menyiapkan makan untuk Teo. Walaupun dia lebih banyak bersikap seperti mandor yang terus mencela hasil kerjaku. Tak apa, aku senang akhirnya Teo akan makan masakanku.
"Kau punya masalah mata? Itu sudah cukup halus. Lagipula jika Teo selalu makan makanan yang halus sistem pencernaannya tidak akan terlatih" Deva yang sedang mengupas wortel membelaku.
"Tau apa kau tentang kesehatan Teo?" sindir Evellyn.
"Meskipun aku bukan dokter tapi aku lulusan ilmu kesehatan. Dan terlebih lagi aku sudah menjadi peneliti kesehatan sejak bergabung dengan Biomed. Kau pikir obat yang kalian para dokter pakai itu siapa yang membuat?"
"Oh ya? Dasar tuan sok tau. Pantas saja Kyla mencampakkanmu"
"Hh, apa bedanya denganmu. Tuan Baird juga mencampakkanmu"
Evellyn mencoba menahan geramannya, sebelum menggebrak meja dan berlalu pergi.
"Dasar nona galak" cibir Deva di balik punggung Evellyn.
"Dev, jangan seperti itu." Bukanya sok baik, aku hanya merasa tidak enak jika Deva terus saja berdebat dengan Evellyn. Gadis itu, bagaimanapun sudah memperlakukan Teo dengan sangat baik. Ya, meskipun aku tidak suka statusnya sebagai calon istri Kaivan. Tapi entah mengapa, aku punya firasat dia bukanlah orang yang jahat.
"Kau bilang Evellyn dan Clara... mereka bersaudara?" aku mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya. Tidak aku sangka Clara punya kakak segalak nenek sihir itu"
"Apa yang kau dan dia bicarakan semalam?" tanyaku penasaran. Semalam mereka memang sempat berbicara empat mata.
"Dia bertanya apa aku tau dimana Clara"
"Lalu?"
"Aku jawab saja aku sudah tidak pernah menghubunginya sejak dia memutuskan kembali ke mantan pacarnya. Dan terakhir kali bertemu ya waktu pernikahannya itu"
"Kenapa dia bisa tidak tau keberadaan adiknya sendiri?"
"Entahlah, yang ku tahu memang orang tua mereka bercerai. Clara memutuskan untuk ikut ibunya sementara Evellyn bersikeras tidak akan meninggalkan ayahnya. Mungkin sejak saat itu mereka tidak pernah memberi kabar satu sama lain"
"Ah, begitu."
***
Aku menghela nafas panjang, setidaknya Evellyn tidak membuang masakanku.
"Jagoan kecil, saatnya makan.." ekspresi datarnya ketika berbicara denganku hilang seketika. Dia memasang wajah yang sangat manis untuk malaikat kecilku.
"Aaaaa..." dengan telaten dia menyuapkan satu sendok ke mulut mungil Teo. Bayi itu membuka mulutnya lebar-lebar. Aku membeku di tempat, menanti saat-saat pertama kali Teo memakan masakanku. Apa dia akan menyukainya? Ataukah dia akan melepehnya?
Teo mencecap beberapa kali dengan lidahnya. Matanya menyipit, dan dahinya berkerut, seolah sedang menilai makanan di dalam mulutnya. Aku gugup. Apa yang akan dilakukan bayi itu dengan masakanku?
Mulut Teo berhenti mengunyah. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Kemudian senyum merekah menghias wajah tampannya. Aku bernafas lega. Apalagi saat mulut mungilnya kembali terbuka lebar meminta suapan yang kedua. Aku tidak tahu apakah semua ibu mengalaminya, tapi perasaan terharu saat seorang anak memakan masakan ibunya untuk pertama kali sungguh membuncah di dadaku. Ekspresi itu, ekspresi yang Teo berikan setelah mencecap masakanku, ingin rasanya ku abadikan dalam potret memori otakku.
"Sepertinya Teo menyukai masakanmu." ucapan Evellyn menarikku dari lamunan, "Mau menyuapinya?"
Rasanya seperti disiram air dingin, mataku langsung melebar sempurna.
"Hah?" aku meragukan apa yang baru saja ditangkap indera pendengaranku.
"Kalau tidak mau ya sudah" ucap Evellyn sambil memberikan suapan ketiganya.
"Aku mau"
"Baik. Pegang mangkoknya" aku menurut.
Wanita itu mengangkat Teo dari kursi bayinya. "Teo sangat suka makan sambil jalan-jalan, tapi dia tidak boleh terlalu banyak kena angin di luar. Jika mengajaknya ke luar, kau harus memastikan tubuh Teo tetap hangat." Wanita itu memberiku pengarahan sambil memasang penutup kepala bayi.
"Sepertinya kau tau banyak tentang Teo" aku mencoba mencari lebih banyak informasi lagi tentang anakku.
"Aku sudah bersamanya sejak dia dibawa ke Italy. Ah, coba kau suapkan satu sendok padanya, jangan terlalu banyak." Kita berhenti sesaat di depan pintu menuju taman. Dengan hati-hati aku melakukan apa yang diinstruksikan wanita itu. Tanganku gemetaran saat mengulurkan sendok kecil itu ke mulutnya. Tampaknya Teo dapat membaca kegugupanku. Dia menolak membuka mulutnya.
"Bukan begitu caranya. Jika kau merasa tidak nyaman bayi juga akan merasa tidak nyaman. Rileks, jangan membuat wajah kaku begitu, tersenyum." Aku mengambil nafas dalam-dalam mencoba membuang semua kegugupan di dalam benakku.
"Teo coba lihat, ada burung terbang" Evellyn membantuku mengalihkan perhatian Teo. "Sekarang saatnya, tempelkan sendoknya di depan mulut Teo."
Aku melakukan apa yang Evellyn suruh. Dan benar saja, tanpa sadar Teo membuka mulutnya dan menerima suapanku. Matanya memang memandang ke arah yang ditunjuk Evellyn tapi mulutnya sedang mengunyah suapanku. Suapan pertamaku.
"Lihat kan? Kau harus membuatnya nyaman dulu." Setelah mengatakannya Evellyn beralih mengajak bicara Teo, "Anak pintar.. makan yang banyak biar kuat. Satu lagi, aaaa, dibuka mulutnya.." Dan suapan kedua pun sukses masuk ke mulut Teo.