Sprezzatura

Sprezzatura
Benteng Pertahanan 2



"Sudah saatnya jagoan Papa tidur siang" Kaivan mengangkat Teo ke atas pundaknya. Bayi itu tidak berhenti tertawa, berpegangan lembut di rambut sang ayah. Lantai di bawahnya mungkin terlihat jauh sekali dari tempat dia digendong sekarang.


 


Kaivan menjatuhkan Teo bersama tubuhnya ke atas ranjang besar tempat Teo biasanya tidur. Laki-laki itu menempatkan dirinya di samping Teo, lalu mengayunkan tangannya ke arahku, memintaku bergabung bersama mereka. Dengan ragu-ragu aku membaringkan tubuhku di samping Teo, memberi jarak yang cukup agar bayi kecil itu tidak merasa terganggu.


 


"Kemarikan tanganmu" Kaivan mengambil tanganku dan meletakkannya di atas kepala Teo.


 


"Apa tidak apa-apa?" aku meragu.


 


"Teo tidak melihatnya. Dia akan mengira itu tanganku" Kaivan meyakinkanku untuk mengelus kepala Teo. Sementara tangan kanan Kaivan turun dan menepuk-nepuk lembut pantat sang bayi. Ritual yang harus dilakukan untuk menidurkan Teo.


 


"Sekarang nyanyikan lagu itu" bisiknya lirih.


 


"Lagu apa?"


 


"Yang biasa kau nyanyikan saat Teo masih di dalam perutmu"


 


Ah, Chopin's Nocturne.


 


Mulutku terbuka menyanyikan bait pertama dari lagu bertempo lambat itu. Tanganku mengelus pelan rambut si kecil seirama dengan ketukan harmoni nada-nada berirama syahdu.


 


Good night little boy


It's been a very bussy day


Softly in your pillow.


 


Manik mata Teo beralih ke arahku, hazel-nya menyelami kedalaman tatapanku. Seolah-olah mencari kehangatan yang terpendam di sana. Dia mengerjap, terbuai alunan melodi yang berbaur dengan suara tirai dipermainkan angin. Menerbangkan kelopak bunga baby breath yang terikat dalam vas di dekat jendela. Ada setitik kerinduan yang terpancar dari sana. Dari dua bola mata kembar yang mulai terbuai rasa kantuk.


 


Good night, sleep tight, 


you've been as good as gold all day,


And now it's time to dream your dreams,


sweetly on your pillow.


 


Teo tertidur. Nafasnya berangsur melembut. Wajahnya terlihat begitu damai. Dan di sana, di sudut bibirnya, ada seutas senyum yang merekah.


 


"Let's just sleep like this" ujar Kaivan lirih.


 


Dan siang itu, untuk pertama kali, kita bertiga tertidur saling memeluk, dengan si kecil yang jemarinya kini menggenggam lemah jari kelingkingku.


***


 


Ada kekacauan di lantai bawah. Kaivan bersedekap di depan pintu masuk rumahnya. Memandang tajam lelaki yang menyeringai dari ambang pintu. Lelaki itu datang membawa satu buah koper besar.


 


"Hai Kyla, mulai hari ini aku akan tinggal di sini" sapa Deva dengan setitik senyum di bibirnya.


 


Masih ingat bagaimana prajurit Akhaia menerobos benteng pertahanan musuhnya? Dengan mengendap-endap masuk ke dalam istana. Ya, Deva tau. Dia tidak akan pernah bisa menerobos benteng kokoh yang dibangun Kaivan untukku. Tapi bukan berarti dia tidak bisa memporak-porandakan apa yang tersembunyi di balik benteng itu. Satu-satunya cara adalah dengan menelusup masuk. Dan di sini dia sekarang, berdiri di depan pintu masuk rumah Tuan Muda Baird, menyeringai tajam membawa seribu satu recana di otaknya.