Sprezzatura

Sprezzatura
3 Tragedi 1 Satyr (2)



"Dua tahun kita bersama Kyla. Dua tahun itu pula kau memberiku harapan. Jika kau tidak datang ke hidupku, aku mungkin tidak akan pernah bisa bangkit dari keterpurukan. Kau pernah memberikan harapan bagi hidupku, dan sekarang saatnya aku memberikannya untukmu"


 


"Kita sama-sama membutuhkan waktu itu Dev. Kau membutuhkanku, dan aku membutuhkanmu"


 


"Benar sekali. Kita sama-sama terluka. Oleh karena itu kita bersama. Tapi baik kau ataupun aku, kita sama-sama tau, kehadiran salah satu di antara kita hanya untuk menyamarkan luka itu. Kita tidak pernah benar-benar mengobati satu sama lain Kyla. Saat kita bersama, aku masih menyimpan perempuan lain di hatiku, dan kau masih menyimpan laki-laki lain di hatimu. Hanya saja kita tidak mau mengakuinya. Ketidakinginanku kehilanganmu, itu hanya kamuflase dari rasa takut luka yang akan kembali menganga jika tidak akau kau yang menutupi"


 


Aku menunduk. Tak ada kata-kata dari kalimat Deva yang salah. Ya, kita hanya saling menutup luka. Tidak benar-benar menyembuhkannya.


 


"Darah siapun yang mengalir dalam tubuh bayimu, dia kan tetap menjadi anakku, Kyla. Kau tahu, bukan darah yang menjadikan kita keluarga, tapi ketulusan. Aku melihatnya... dalam diri Evellyn. Meskipun dia tidak punya ikatan apa-apa dengan Teo, tapi dia tulus menyayangi Teo seperti seorang ibu menyayangi anaknya. Aku juga akan melakukan hal sama pada bayi di perutmu Kyla, meskipun nanti bukan darahku yang mengalir di tubuhnya, aku akan tetap menyanginya. Seperti seorang ayah menyayangi anaknya"


 


"Awh.." aku memegangi perutku.


 


Wajah Deva berubah khawatir, "Kenapa?"


 


"Si kecil menendang perutku. Aku rasa dia suka ucapanmu"


 


Deva tersenyum, kemudian dia menurunkan wajahnya menghadap wajahku, "Hei bayi kecil, cepatlah keluar. Apa kau tak ingin menendang ayah juga?"


 


 


"Kau akan menyesal mengatakannya. Tendangannya sungguh sangat kuat" candaku.


 


 


"Oh ya?" Dia kembali berdiri tegak, "Kalau begitu aku harus siap-siap membesarkan ototku"


 


 


Kita terkikik pelan.


 


"Emm, Kyla.."


 


"Ya?"


 


"Aku punya satu permintaan"


 


"Permintaan"


 


"Andai saja... andai saja... bayi ini bukan darah dagingku, aku ingin tetap menjadi ayahnya. Bisakah kau menjadikan dia anak baptisku?"


 


Senyum merekah tersemat di wajahku, "Siapa lagi kalau bukan kau?"


 


Kita sama-sama merasa lega, baik aku ataupun Deva. Tak ada lagi perasaan yang menggantung di antara kami. Sore itu, di tepi sungai Tiber, sambil menyusuri jembatan Ponte Sisto, aku dan Deva, kita sama-sama kembali di masa pertama kita bertemu.


 


 


Dia terlihat bersemangat sekali, membuat langkahku sedikit kewalahan mengimbanginya.


 


"Banyak sekali yang kau beli?" komentarku melihat lelaki itu memenuhi dua kantong plastik di tangannya.


 


"Ada pencuri strawberry di rumah"


 


"Hah? Pencuri strawberry?"


 


"Iya. Evellyn bisa menghabiskan satu plastik hanya dalam satu hari."


 


"Kau begitu perhatian padanya?"


 


"Siapa? Aku? Ah, tidak."


 


 


***


 


 


Perasaanku terasa sangat ringan, rasanya beban yang begitu besar di dalam dadaku terangkat bergitu saja. Ternyata benar, manusia perlu meluapkan emosi mereka agar bisa hidup dengan lebih nyaman. Tapi hari ini, bukan hanya aku yang meluapkan emosinya.


 


"Kyla... aku mohon" Evellyn berlutut di hadapanku, "Izinkan aku menikah dengan Kaivan"


 


Dia menatap penuh harap, kemudian satu kalimat keluar dari mulutnya, "Aku hamil."


 


"Kau.." aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.


 


"Maafkan aku. Tapi aku tidak akan meminta banyak. Aku tidak akan melarangmu berhubungan dengan Kaivan, aku tidak akan melarangmu tinggal bersama Kaivan, aku tidak akan menuntut Kaivan untuk memperlakukanku sebagi istrinya. Dan aku.. aku akan memberikan hak asuh Teo padamu. Hanya saja, biarkan aku menyandang gelar sebagai istri sahnya. Aku tau permintaanku berlebihan . Tapi hanya kau yang bisa menyelamatkanku, Kyla. Aku mohon."


 


Sebelum aku mampu menjawab, suara lain menginterupsiku, "Aku akan menikahinya."


 


Suara Kaivan dari balik pintu membungkam mulutku.