
-Sadeva-
Esok paginya, begitu bangun Kyla langsung berlari ke kamar Teo. Tangis lega pecah dari mulutnya melihat kedua mata si malaikat kecil sudah kembali terbuka. Demamnya juga sudah turun. Tinggal menunggu beberapa hari masa pemulihan sebelum infusnya bisa dilepas. Kaivan memeluk Kyla dari belakang, membisikkan kata-kata yang bisa membuat senyum manisnya terukir kembali. Seharusnya aku cemburu, tapi perhatianku kini tertuju pada sosok lain di ruangan ini.
"Kau sudah bekerja keras. Istirahatlah." ucapku pada Evellyn saat dia mengemasi peralatan kedokterannya.
"Yang kau ucapkan tadi malam.. kau benar sekali"
"Apa?" Aku mengambil alih kotak yang berisi peralatan kedokteran wanita itu dari tangannya, berniat membantunya membawakan kembali ke kamarnya.
"Tentang satu hal yang tertinggal di kotak Pandora." Kita sama-sama melangkah menuju kamarnya, "Harapan. Harapanlah satu-satunya hal yang dapat menenangkan manusia dari penderitaan yang mereka alami."
Sudut bibirku terangkat, "Ya, setiap orang punya harapan. Teo, dia masih punya harapan untuk sembuh kembali. Kyla, dia masih punya harapan untuk melahirkan adik yang akan membantu kesembuhan Teo. Dan aku, aku juga masih punya harapan untuk menjadi ayah dari bayi di perut Kyla. Karena harapan itu, aku dengan tidak tahu malu tinggal di rumah ini. Dan karena harapan itu, aku mungkin menyakiti Kyla dan Kaivan karena yang mereka inginkan adalah bayi mereka sendiri, bayi yang kemungkinan besar bisa menjadi harapan untuk kesembuhan Teo."
Langkah kita terhenti begitu sampai di depan kamarnya, "Evellyn, kau juga punya harapan. Harapan untuk kehidupanmu yang lebih baik. Kau sudah pernah melalui semuanya. Rasa sakit, kecewa, marah, sedih, terluka.. semua itu yang membantumu tumbuh menjadi pribadi sekarang ini. Namun jangan lupa, kau masih punya harapan. Harapan untuk menyongsong hidup yang lebih baik. Harapan untuk mendapatkan kebahagiaan seperti yang kamu inginkan. Apapun keadaanya, seberapa jatuhnya hidupmu, jangan lupakan satu hal, harapan itu akan selalu ada."
"Deva.. hentikan"
Aku mengernyit.
"Berhentilah bersikap seperti ini."
Aku masih terdiam, tidak paham dengan maksudnya.
"Kaivan pernah menolongku ketika aku dipukul kakakku. Dan sejak saat itu aku jatuh cinta padanya. Karena tidak pernah ada orang yang memperdulikanku, hanya dengan sedikit perhatian perasaanku bisa tumbuh. Dan jika kau terus memperlakukanku seperti ini, aku takut. Aku takut tidak bisa menghentikan perasaanku padamu, Deva"
"Evellyn, kau.."
"Jadi aku mohon, jangan berikan aku harapan palsu. Kebahagiaan bagiku saat ini hanyalah menikah dengan Kaivan. Karena hanya itu yang dapat merubah hidupku."
***
"Kau makan apa?" tanya Evellyn.
"Mangga muda"
"Kelihatannya enak"
"Kau mau?
"Boleh?"
"Makan saja"
Satu tangannya terjulur ke depan, mengambil satu potong kemudian menirukan cara Kyla mencelupkannya ke dalam sambal dan memasukkan potongan itu ke mulutnya. Dia berhenti sesaat, menilai rasa yang pecah di mulutnya.
"Hmm.. ini enak"
"Mau lagi? Masih banyak mangga muda di dapur"
"Tentu saja"
***
"Kyla, aku tau kau sedang hamil. Tapi jaga asupan makananmu. Jangan karena kau suka, satu keranjang mangga kau habiskan semua. Perutmu bisa sakit!" aku mengomeli Kyla setelah menemukan tidak ada yang tersisa di keranjang mangga kesukaanya.
"Tapi bukan aku yang menghabiskannya"
"Lalu siapa di rumah ini yang mau makan buah semasam itu?"
"Evellyn. Dia yang menghabiskannya"
***