Sprezzatura

Sprezzatura
Daddy's Day 3



"Apakah semua anak laki-laki se-energik dia" rintih ayah kandung Teo.


 


"Ini baru satu, jika nanti tambah dua lagi mungkin aku akan kurus tanpa harus pergi ke gym"


 


Kaivan terkekeh, "Ternyata merawat anak tidak semudah membuatnya"


 


"Tentu saja. Memang lebih enak membuatnya daripada merawatnya" timpal Deva ikut tertawa.


 


"Tidak aku sangka kau akan mencetak goal di perut Evellyn. Ternyata kau juga pandai merayu wanita"


 


"Jangan salah, aku sangat populer di kalangan wanita"


 


"Cuih, kau belum tau masa remajaku dulu. Setiap hari pasti ada saja wanita yang mendaftar untuk naik ke ranjangku. Padahal waktu itu aku belum sekaya sekarang ini"


 


"Oh ya? Memangnya, pertama kali bermain kau tahan berapa menit?"


 


"Eh.. itu.. emm... ayolah, mana ada lelaki yang langsung bisa hebat dalam sekali coba. Pasti butuh banyak latihan"


 


"Wow.. ternyata dulu kau banyak berlatih?"


 


"Kenapa memangnya? Kau tak punya tepat berlatih? Tak ada yang sudi menjadi tempatmu berlatih?"


 


"Enak saja. Aku sudah melakukannya sejak punya pacar pertama."


 


"Jadi kau melakukannya pertama kali dengan pacarmu itu?"


 


"Iya"


 


"Dia perawan?"


 


Deva menggeleng.


 


Kaivan menertawakan lelaki itu, "Lalu gadis perawan mana yang pertama kali kau masuki?"


 


"Evellyn"


 


"Evellyn?" mata Kaivan membulat sempurna.


 


"Tidak usah kaget. Kau sendiri siapa?" ejek Deva.


 


 


"Kyla?"


 


"Kenapa kaget begitu. Kau sendiri yang bilang tidak usah kaget"


 


"Wuah.. aku tak percaya kita berada di hubungan yang sangat rumit seperti ini. Tapi aku yakin Kyla pasti lebih puas saat bermain denganku."


 


"Jangan mengada-ada, dia bahkan tidak mampu menolak cumbuanku saat masih berstatus sebagai tunanganmu. Mungkin karena kau langsung lemas dalam dua ronde"


 


"Siapa bilang. Aku bisa melakukannya sampai pagi"


 


"Oh ya? Aku bisa melakukannya seharian penuh. Karena itu dulu Teo ada."


 


"Seharian penuh? Paling sepuluh menit kau langsung keluar"


 


"Enak saja. Aku tidak akan keluar sebelum membuat wanita *** empat kali"


 


"Terserah kau mau membual apa. Yang penting ukuranku lebih besar daripada ukuranmu."


 


"Jangan asal bicara! Coba bandingkan ukuran siapa yang lebih besar"


 


"Siapa takut?"


 


Deva sudah berhasil menurunkan restleting celananya, tapi tampaknya ada masalah dengan restleting celana Kaivan.


 


"Ini sedikit susah" bos besar itu mengeluh.


 


"Coba aku bantu" tanpa menunggu persetujuan dari si empunya, jari Deva sudah menggantikan jari Kaivan untuk menarik restleting celana itu turun. Sekali coba...  gagal. Dua kali.. masih gagal.


 


"Hmm, apa ada yang menyangkut?" Deva berkata pada dirinya sendiri. Lelaki itu agak mencondongkan wajahnya mendekat ke celana Kaivan. Akhirnya, dengan satu tarikan penuh tenaga, restleting Kaivan dapat diturunkan. Tapi naas, pintu terbuka di saat posisi mereka berdua sangat ambigu. Kyla muncul dari balik pintu itu.


 


"Apa yang se-oh ya ampun, kalian? Evellyn, cepat kemari!" reaksi kaget Kyla membuat kedua lelaki itu sontak menjauhkan diri dari satu sama lain.


 


"Tidak, Kyla. Ini tidak seperti yang kau pikirkan"


 


Membantah pun percuma, Kyla sudah memikirkan hal yang tidak-tidak.