
"Swiss?" Kaivan menatapku tidak percaya.
"Hanya dua hari satu malam" aku membela diri.
"Hanya kau bilang? Kau akan ada di negara lain, menginap satu malam dengan lelaki yang berstatus sebagai tunanganmu, dan kau bilang HANYA?"
"Ayolah Kai, aku sudah menjelaskannya padamu kan. Aku hanya menemani Deva ke acara pernikahan mantan kekasihnya. Setelah semuanya selesai, aku akan mengatakan yang sejujurnya tentang kita, dan juga.. membatalkan pernikahanku dengan dia"
Kaivan menghembuskan nafas berat, "Tapi tetap saja Stella, bagaimana aku bisa tenang melepasmu jauh dariku, bersama lelaki lain pula?"
"Kai.." aku menangkup kedua pipinya, "Semuanya akan baik-baik saja. Aku hanya pergi sebentar, menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan. Ketika aku kembali, aku akan menjadi milikmu seutuhnya. Hm?"
Kai menjatuhnya tubuhnya ke tubuhku, merangkul pinggangku dan menghirup wangi vanilla di perpotongan leherku, "Aku takut. Kehilanganmu sekali sudah cukup membunuhku, aku tidak ingin ada kali ke dua"
"Bagaimana aku bisa meninggalkanmu. Sementara anakku membutuhkan ayahnya untuk memberikannya adik."
Kaivan terkekeh, "Mulutmu semakin nakal saja. Aku jadi ingin mencicipinya."
"Eits" aku buru-buru menghentikan aksi bibirnya yang hampir menempel di bibirku, "Kau tidak akan berhenti hanya dengan sekedar mencicipi."
"Oh ayolah.. sedikit saja"
"Tidak Kaivan. Kau harus berangkat kerja"
"Memangnya kenapa? Aku bosnya, aku bisa meliburkan diri sesuka hatiku hanya untuk menghabiskan waktu denganmu"
Huh, Kaivan dan libidonya.
Bicara tentang libido Kaivan, dia adalah definisi dari dewa cinta, Eros. Tidak ada wanita yang bisa lepas dari jerat pesonanya. Dia memiliki gaya magnet yang membuat orang selalu terpaku pada tatapan pertama. Dengan postur tubuh yang tinggi dan bahu yang lebar, dia adalah manifestasi bentuk fisik lelaki paling sempurna. Kulit eksostis karena ciuman matahari menambah daya tarik kelelakian pemuda itu. Apalagi tatapan matanya, sungguh tak ada satupun yang mampu selamat dari itu. Kaivan akan menenggelamkanmu dalam bola matanya, membuat terhanyut semakin dalam dan kemudian meninggalkanmu di sana, di tempat dimana kau tidak akan berhenti memujanya.
Setelah melewati tahapan itu, Kaivan akan bermain-main dengan akal dan perasaanmu. Membuat logikamu tidak berfungsi dan membuat jantungmu berdetak kencang. Percayalah, dia sangat lihai bermain hati wanita. Di satu sisi dia akan menjadi seorang dewa yang dipuja banyak wanita, di sisi lain dia akan menjadi seorang pemuda manis yang seolah-olah hanya memilikimu di matanya.
Push and pull, dia sangat mahir memainkan dua trik percintaan ini. Tahu kapan saatnya menarik dan tahu kapan saatnya mendorong. Dan sekali kau terjebak dalam medan magnetnya, akan sangat sulit untuk keluar. Aku merasakannya sendiri. Sejak pertama kali aku bertemu lelaki ini, aku tahu dia adalah pria berbahaya. Pria yang harus aku jauhi sejauh mungkin.
Wanita.. mereka seolah datang sendiri ke pelukan Kaivan. Sebelum kami bertemu, Kaivan sudah menyandang gelar sebagai pemain wanita paling berbahaya. Setiap hari, dia selalu berganti wanita. Memperlakukan mereka bak ratu pada satu hari, lalu membuangnya pada hari lain. Itulah kenapa aku berusaha sekuat mungkin menghindar dari radarnya.
Kaivan memiliki daya tarik yang begitu kuat. Dengan dua sisi yang saling melengkapi, satu sisi dia terlihat sangat panas dan menggoda, di sisi lain dia begitu hangat dan membuatmu merasa menjadi wanita paling istimewa di dunia. Dia akan memberikan perhatian sekecil apapun itu, yang mampu membuatmu mabuk karena atensinya.
"Sayang, kau melamun?" suara Kaivan membuyarkan lamunan aku. "Aku hanya bercanda, jika kau tidak mau bukan masalah" kedua matanya mencari-cari jawaban di mataku, seolah-olah takut jika dia tidak sengaja melukaiku.
Sampai sekarang tak ada logika yang mampu menjawab kenapa aku berakhir jatuh dalam jeratan asmara laki-laki ini. Segala daya dan upaya pernah aku kerahkan untuk menjaga detakan jantungku, tapi setiap usaha yang aku lakukan hanya membawa ku semakin terperosok jauh ke dalam pesonanya.
"Tidak mengapa kalau kau sedang tidak ingin. Aku tak mau memaksamu" dia tersenyum manis, sangat manis, seolah-olah tidak ingin aku merasa tidak enak hati karena menolaknya.
"Kau tidak akan mencari pelampiasan di luar kan?" kalimat itu meluncur begitu saja tanpa aku rencanakan.
Kaivan terkekeh. Dia menjitak kecil kepalaku, "Kau pikir aku sebegitu menyedihkannya?"
Mataku menyipit, tiba-tiba saja sebuah pikiran melintas di kepalaku, "Selama kita berpisah, apa kau kembali bermain-main dengan wanita?"
Ekpresi Kaivan berubah, jakunnya bergerak naik turun dan bibirnya mencoba merangkai kata yang tak jua keluar dari mulutnya.
"Jawab Kaivan!" aku menaikkan volume suaraku.
Dia menyeringai. Tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Aku memutar mata, "Dasar lelaki"
"Bukan begitu, hanya saja-" Kaivan mencoba membela diri.
"Tutup mulutmu, semakin kau mencoba menjelaskan aku akan merasa semakin jengkel"
Mulutnya segera terkatup rapat, kepalanya agak menunduk, dan matanya menatap ku takut-takut. Aish, kenapa di saat seperti ini dia malah terlihat menggemaskan.
"Tidak usah berangkat ke kantor hari ini! Hibur aku" aku mengatakannya dengan nada penuh kekesalan.
"Menghiburmu? Caranya?"
"Pikir saja sendiri"