Sprezzatura

Sprezzatura
Filsafat Kebohongan 2



Sial, aku terlambat. Sekarang pukul enam lebih tiga puluh menit. Itu artinya aku cuma punya waktu tiga puluh menit sebelum Deva menjemputku. Posisiku sekarang masih ada di rumah Kaivan, lebih tepatnya lagi di kamarnya. Tadi malam Kaivan mengirim sopirnya untuk menjemputku di apartemen dan membawaku ke sini. Masih saja dia menggunakan Teo untuk mengancamku agar menuruti kemauannya.


Tak ingin membangunkan lelaki yang masih tertidur di sampingku, pelan-pelan aku turun dari ranjang, memungut pakaianku dan berjingkat ke kamar mandi untuk sekedar membasuh muka. Setelah itu aku melenggang pergi.


"Kyla?" Deva mengernyit menjumpaiku turun dari sebuah Taxi. Ternyata dia datang lebih awal ke apartemen.


"Kamu dari mana?" matanya kini memindai penampilanku dari ujung kaki sampai ujung kepala, "Kamu nggak pulang semalem?"


Skak mat. Aku harus jawab apa.


"Eh.. itu.. jadi... tadi... lembur di kantor... iya, ada kerjaan yang harus dihandle. Aku lembur sampai ketiduran" Bagus Kyla, sekarang kamu sudah pandai berbohong.


"Sudah hampir jam tujuh, tunggu sebentar ya, aku ganti baju dulu" ucapku sebelum melarikan diri masuk ke dalam apartemen.


Di sepanjang perjalanan Deva terus menggengam tanganku. Sesekali dikecupinya punggung tangan itu.


"Dev, udah.. bahaya nyetir cuma pakai satu tangan gitu" usahaku untuk membuat Deva melepas genggamannya.


Dia menggeleng, "Aku suka pegang tangan kamu gini. Ky, semalam aku mimpiin kamu"


"Mimpi?"


"Iya. Aku mimpi kamu ninggalan aku di altar, di hari pernikahan kita"


Tubuhku menegang. Bibirku terkatup rapat. Deva adalah pria yang baik. Aku sangat beruntung dicintai oleh laki-laki seperti dia. Tapi kebaikan hatinya akan segera aku balas dengan dengan luka. Aku memang brengsek.


"Kamu nggak akan ninggalin aku kan?" kini Deva menanyakan satu pertanyaan yang tidak ingin aku dengar.


Apa sekarang saat yang tepat? Apa aku ceritakan saja ke Deva semuanya sekarang? Dari pada terlalu berlarut-larut, dia akan semakin sakit nantinya. Iya, ini adalah momen yang tepat.


"Dev-" ucapanku terpotong oleh bunyi ponsel di kantong celana Deva.


Deva melepaskan genggaman tanganku dan menjawab panggilan itu. "Halo Ma..."


***


"Sudah sembilan puluh persen Ma" Deva yang menjawab.


"Kamu masak apa Ky?" kali ini wanita itu mengintip kegiatanku di dapur.


"Tortellini Tante" jawabku sambil memindahkan hidangan itu ke meja makan.


"Selama di sini kalian makannya kayak gini terus? Nggak pakai nasi?"


"Di sini kan emang jarang makan pakai nasi Ma" Deva memberi penjelasan.


"Tapi lidah Mama asing rasanya. Kamu ini juga lho, kalau makan di jaga. Yang sehat. Tambah kurus gini. Kalian kalau udah nikah, jangan keseringan beli makan di luar. Masak sendiri di rumah. Lebih sehat. Kyla selain masak kayak gini udah bisa masak apa aja?"


"Kyla masih belajar Tante"


"Nanti kalau masakin buat Deva, banyakin sayurnya. Kalau bisa makannya pakai nasi, roti sekarang banyak pengawetnya. Nggak sehat."


"Iya Tante"


"Apa kamu resign aja ya Ky kalau udah nikah sama Deva"


Kalimat mamanya Deva sukses membuatku bungkam. Tidak hanya aku tapi Deva juga menghentikan kegiatannya menyerutup kopi.


"Bukannya Mama nggak suka kamu kerja. Tapi biar Deva juga keurus. Kamu tau sendirikan Deva kalau udah kerja suka lupa waktu." lanjut wanita itu.


"Ma, nggak masalah kalau Kyla masih tetep mau kerja. Nanti Deva bisa cari pembantu buat urus rumah." Deva berusaha memihakku.


"Kamu dulu waktu masih sama Clara juga bilang gitu. Tapi apa, kalian sama-sama sibuk, cuma kabar-kabaran lewat telpon, sampai-sampai nggak tahu kan kamu kalau dia selingkuh? Mana main tinggal gitu aja pas hari H. Semua tamu udah dateng. Catering udah siap. Tinggal ngucap janji aja. Nggak cuma kamu yang kecewa, Mama juga lebih kecewa melihat anak Mama digituin. Mama cuma mau kamu dapet yang terbaik Dev, jadi Mama bisa lega ngelepas kamu."


Aku menunduk. Segumpal rasa bersalah bersarang di ulu hatiku. Deva berhak mendapatkan yang lebih baik daripada aku. Laki-laki ini, apa yang akan terjadi jika aku jujur mengatakan semuanya? Ah, aku tidak mau melihat dia terpuruk seperti saat pertama kita bertemu. Kita pernah saling mengobati. Dia mengobati luka di hatiku, dan aku juga mengobati luka di hatinya. Tapi ternyata, luka itu hanya akan aku perlebar. Damn it, Kyla. You are a total fuck up.