
-Sadeva-
Aku tau Kyla pasti sedang marah-marah kepada Kaivan. Tapi kali ini kita tidak bisa menolong satu sama lain. Posisiku juga sama terpojoknya seperti lelaki itu.
Entah bagaimana hubunganku dan Kaivan berangsur-angsur membaik. Dari yang dulu seperti minyak dan air sekarang menjadi seperti kuku dan jari, tidak bisa terpisahkan. Jika dipikir-pikir, semua berawal sejak kehamilan dua wanita itu semakin membesar. Memang benar ternyata wanita yang sedang hamil banyak sekali tingkahnya. Dan pria selalu menjadi sasaran empuk tempat mereka meluapkan hormon ketidakstabilannya. Aku dan Kaivan hanya bisa saling bahu-membahu mengatasi pasang surut emosi mereka. Begitulah akhirnya, meskipun masih sering beradu mulut tapi hubunganku dan Kaivan menjadi semakin dekat.
"Evellyn.. ini hanya salah paham. Aku bukan lelaki seperti itu.."
"Hiks..hiks.. hiks.. kau keterlauan, kau tega sekali kepadaku.. Aku sedang mengandung anakmu.. hiks..hiks"
Aku mendengus kasar, "Dengar sayang. Mana mungkin aku mengkhianati wanita secantik dan sebaik dirimu. Apalagi kau sedang mengandung anakku. Aku bukan lelaki brengsek seperti itu"
"Bohong. Buktinya beberapa hari ini kau selalu sibuk di luar dengan Kaivan. Bahkan hilang berhari-hari tanpa kabar. Kau sudah bosan denganku kan?"
"Tidak sayang. Dengar-"
"Sudah jangan mengelak lagi. Akui saja kau sudah bosan padaku. Kenapa? Karena aku tidak memuaskanmu di ranjang? Karena aku hanya mirip adikku sehingga kau membutuhkanku hanya sekedar sebagai alat pemuas nafsumu? Tidak usah bohong. Selama ini kau tidak benar-benar mencintaiku kan? Kau hanya menganggapku sebagai pengganti Clara kan? Jawab!" tidak aku sangka pertikaian kecil ini akan melebar ke topik pembicaraan yang lebih besar.
"Evellyn..." aku menangkup kedua pipinya.
Dia berusaha memberontak, "Lepaskan"
"Benarkah?" tangis Evellyn mulai mereda.
"Iya, benar" aku mengangguk.
"Kau berjanji akan mencintaiku selamanya?"
"Aku berjanji"
"Dan tidak akan meninggalkanku?"
"Tidak akan pernah"
"Kalau begitu cium aku"
Aku tersenyum. Kita saling menempelkan bibir satu sama lain, bergantian melumat lembut atas dan bawah hingga gerakan kita perlahan-lahan semakin memanas. Bibirnya terasa sangat manis, wangi tubuhnya memabukkan. Apa karena efek hormon kehamilan? Tubuhnya yang padat dan berisi terasa lebih menggiurkan.
"Akh.." Evellyn terkesiap ketika aku menempelkan barangku yang masih terbungkus di dalam celana ke bawah perutnya.
Aku menyeringai, "Lihat kan? Bagaimana bisa kau menuduh aku bermain dengan laki-laki, barangku hanya akan bereaksi jika bersamamu sayang"
Raut wajah Evellyn terlihat semakin cerah. Kedua lengannya menarik leherku mendekat, meneruskan aktivitas kita yang tertunda. Evellyn membawa tubuhku ke atas ranjang. Membiarkan aku menikmati setiap lekuk tubuhnya. Ah, kenapa pesona seorang wanita yang sedang hamil sangat sulit sekali ditolak. Hormon wanita hamil, haruskah aku menyalahkan itu?