
Tidak pernah aku merasa sebersalah ini ketika datang bulan.
"Kita masih bisa mencobanya lagi Stella" Kaivan mencoba menghibur sementara aku masih terisak, dengan kedua tangan menutupi wajahku.
"Aku sudah membuat janji dengan dokter. Mulai besok kau akan menjalani threatment khusus agar cepat hamil."
Aku mendongakkan kepala dan mengusap sisa-sisa air mata di pipiku.
"Aku juga mau kau berhenti bekerja, Stella."
Pandanganku kini terpaku pada sosok di hadapanku.
"Jangan khawatir, semua kebutuhanmu akan aku penuhi. Aku hanya ingin kau bisa segera hamil. Ah, dan sebaiknya kau pindah ke sini. Akan lebih mudah jika kau tinggal di sini daripada di apartemenmu"
Kaivan benar. Ini bukan masalah selama untuk kebaikan Teo.
"Terserah kau saja. Selama untuk kebaikan Teo apapun akan aku lakukan."
"Stella.." ucapan Kaivan menggantung.
"Ya?"
"Kau dan laki-laki itu... aku lihat kalian masih berhubungan"
Aku mendenguskan nafas panjang. Benar sekali, aku belum sanggup mengatakan sejujurnya pada Deva. Tidak, dengan pernikahan Clara, mantan kekasih tunanganku, yang sudah di depan mata. Setidaknya aku ingin menunggu sampai pernikahan itu selesai. Aku tahu, meskipun Deva mencintaiku, tapi masih ada tempat di hatinya untuk Clara. Aku cuma mau menemani Deva di hari itu, hari dimana wanita yang masih membengkas di sudut hatinya mengucapkan janji sehidup semati dengan pria lain. Apa jadinya jika aku memutuskan hubungan dengan Deva sekarang. Dia pasti hancur sehancur-hancurnya.
"Beri aku waktu" hanya itu yang bisa aku ucapkan ke Kaivan.
Aku berjalan ke samping ranjang Teo. Anak ini masih tertidur pulas. Aku mengecup kecil dahinya dan mengucapkan selamat pagi pada malaikat kecil ini. Jemarinya ku genggam, begitu kecil dan rapuh dalam dekapanku.
"Bisakah Teo bertahan sampai dia punya adik?"
Kaivan memeluk dari belakang dan mengecup pucuk kepalaku.
"Teo anak yang kuat. Dia pasti bisa"
"Teo belum juga bangun."
"Itu hanya efek obat sayang. Teo butuh banyak istirahat. Jika tubuhnya sudah membaik, dia akan segera bangun"
"Apa dia akan mengenaliku?"
"Dia masih kecil. Pasti butuh waktu untuk mengenal hal-hal baru di lingkungannya. Tapi bagaimanapun kau adalah ibunya. Tak ada yang bisa mengalahkan fakta itu"
"Apa yang sudah bisa dia lakukan? Apa yang dia sukai? Bagaimana kesehariannya?"
Kaivan menyandarkan kepalaku di bahunya, tangannya mengelus lembut rambutku, "Wajahnya memang mirip denganku, tapi kelakuannya sangat mirip denganmu"
"Oh ya?" mataku membulat mendapati fakta itu.
"Dia suka sekali mengerucutkan bibirnya ketika merajuk maupun marah. Persis seperti ibunya."
Aku berbalik dan memukul pelan dada bidang laki-laki ini, "Siapa bilang aku seperi itu". Tanpa sadar bibirku mengerucut seperti bebek.
Kaivan memajukan tangannya dan menjepit bibirku, "Ini apa? Hm?"
Dengan spontan aku menepis tangannya dan kembali melayangkan satu pukulan di dadanya. Dia hanya terkekeh.
"Aku tidak sabar melihat Teo bangun. Bagaimana Teo memanggilmu? Ketika pertama kali bertemu denganmu, bagaimana reaksi Teo?" aku terus memberondongi lelaki ini dengan pertanyaan.
"Dia menangis dan terus menangis. Padahal tubuhnya sangat lemah namun dia tidak berhenti menangis. Mungkin dia merasa asing dengan lingkungan barunya. Kau tau apa yang menghentikan tangisannya?"
Aku mengangkat wajah ke atas, menatap Kaivan dengan penuh tanya, "Apa?"
"Baby breath. Aku membawanya ke taman bunga baby breath di halaman depan. Anak itu masih sama seperti waktu dia di dalam perutmu. Ketika kau hamil muda dan terus mual-mual, kau hanya akan merasa lebih baik setelah aku membawakanmu bunga itu."
Ingatanku kembali pada momen-monen indah bertahun-tahun yang lalu. Hari-hari dimana kita masih sangat muda, bersama-sama melawan kejamnya dunia.
"Ah.. dan dia juga masih menyukainya"
Alisku terangkat, "Apa?"
"Lagu yang biasa kau nyanyikan untuknya."
"Chopin's Nocturne?"
Kaivan mengangguk, "Dia akan segera tertidur setelah mendengar lagu itu"
Semburat senyum terajut di sudut bibirku. Tapi ada satu titik ulu hati yang terasa begitu menyesakkan. Rasa terharu dan juga sedih. Semuanya berbaur menjadi satu. Aku ingin anak ini segera bangun. Aku ingin memeluknya dan mengatakan betapa aku mencintainya. Betapa aku merindukannya, dan betapa aku akan berjuang sekeras mungkin untuknya. Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Bagaimana bisa aku mengembalikan kasih sayang yang harusnya tercurah untuknya selama itu?
Teo sayang, cepat bangun.
Mama mencintaimu.