Sprezzatura

Sprezzatura
Daddy's Day 1



"Kau saja"


 


"Kau saja"


 


"Aku tidak bisa"


 


"Kau kan ayahnya"


 


Dengan sedikit mendengus akhirnya Kaivan turun tangan, "Bawa ke sini tempat sampahnya" perintah bos besar itu pada Sadeva.


 


Tanpa harus repot-repot mengulurkan tangan, Deva menggunakan kakinya untuk menyeret tempat sampah plastik dari dekat jendela.


 


"Ugh, kau makan apa saja jagoan kecil. Bau sekali" Kaivan menarik popok dari pantat Teo. Matanya ia pejamkan sedikit, menolak pemandangan di dalam celana si kecil. Setelah terlepas dari kaki Teo, Kaivan buru-buru membuang popok itu di tempat sampah.


 


Satu masalah selesai. Deva segera menutup tempat sampah, menendangnya lagi ke sudut ruangan, baru kemudian melepas bekapan tangan di hidungnya. "Fuih, akhirnya aku bisa bernafas lagi" cicitnya lega. Tapi ternyata masalah tidak selesai sampai di situ.


 


"Hei, bukankah bokong Teo juga harus dibersihkan?" entah kenapa Kaivan baru menyadarinya.


 


"Kau belum membersihkannya?" mata Sadeva melotot.


 


"Pikiranku terlalu fokus membuang kotoran itu, mana sempat aku membersihkannya. Oke, berarti ini bagianmu"


 


"Aku?"


 


"Iya kau" satu tangan Kaivan mengulurkan sebuah kotak berisi lembaran-lembaran tissue basah.


 


"Tapi kau kan ayahnya?"


 


"Kau bilang ingin menjadi ayah baptis dari anak-anakku?"


 


"Ralat. Hanya Teo yang anakmu. Kita masih belum tau siapa ayah dari bayi di perut Kyla"


 


"Terserah. Tapi bersihkan dulu sisa kotoran di bokong Teo"


 


"Hei, kau sudah menjadi ayah selama dua tahun, masih merasa jijik membersihkan kotoran anak sendiri?"


 


"Aku kan belum pernah melakukannya. Jadi aku tidak tau bagaimana caranya. Kau bilang, kau bekerja di bidang kesehatan. Kau pasti lebih tau bagaimana cara membersihkan yang higienis"


 


"Hanya karena aku bekerja di bidang kesehatan kau pikir aku menguasai semua ilmu tentang kesehatan? Tuan Baird yang terhormat, aku ini seorang farmasis, yang aku pelajari adalah ilmu tentang obat-obatan, bukan ilmu membersihkan pantat bayi"


 


Kaivan mendengus, "Kau pikir kita berakhir seperti ini karena ulah siapa? Sudah aku bilang dari awal kan jangan sekali-kali memprovokasi wanita hamil. Di rumah ini tidak hanya satu wanita yang hamil, tapi dua."


 


Sadeva ikut mendengus, "Ya mana aku tahu temperamen mereka bisa meledak seperti itu. Kau juga menyanggupinya waktu aku mengajakmu pergi menonton pertandingan sepak bola. Jadi tidak sepenuhnya salahku jika kita dihukum seperti ini."


 


"Hmm.. bagaimana kalau kita suruh salah satu pelayanku untu mengurus pantat Teo?"


 


Kedua pemuda itu segera mendekati jendela, mengintai apa yang terjadi di bawah sana, "Sepertinya tidak mungkin. Evellyn dan Kyla membariskan mereka di halaman depan. Tidak akan ada yang bisa kita culik ke atas untuk mengurus pantat Teo" ucap Deva berspekulasi.


 


 


"Hei, jika ada ayah kandungnya, kenapa harus ayah baptis?" protes Deva.


 


"Justru ini saatnya kau membuktikan baktimu sebagai ayah baptis"


 


"Kau-" ucapan Deva terhenti ketika tanpa sengaja dia melihat tempat kosong dimana Teo seharusnya berada, "Tunggu, dimana Teo?"


 


Kaivan ikut menoleh ke Baby Playmat warna biru muda tempat dia menaruh Teo beberapa waktu yang lalu. Karpet itu kosong. "Cepat cari!" Hanya itu yang keluar dari mulut Kaivan sebelum dua pemuda itu sibuk mengobrak-abrik isi kamar mencari keberadaan si kecil.


 


"Kolong tempat tidur?"


 


"Kosong"


 


"Di bawah meja?"


 


"Tidak ada"


 


"Di bawah selimut"


 


"Mana mungkin"


 


"Di tong sampah"


 


"Yang benar saja"


 


Tangan dan kaki mereka tak berhenti menggeledah seisi ruangan, namun tetap saja sosok mungil itu tidak ditemukan.


 


"Bagaimana kalau Teo keluar?"


 


"Tidak mungkin. Pintunya tertutup."


 


Kaivan mengacak rambutnya frustasi, "Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Teo?"


 


"Kalau saja tadi kau langsung membersihkan pantatnya, pasti Teo tidak akan hilang"


 


"Hei.. aku kan sudah melepaskan popoknya, membersihkan pantat itu bagianmu" Kaivan tak mau kalah.


 


"Kau kan ayahnya"


 


"Yang dihukum tidak hanya aku. Tapi kau juga. Jadi kau ikut andil dalam hal ini"


 


Deva memutar matanya, "Kalau Evellyn dan Kyla sampai tau, kita bisa jadi santapan buaya"


 


"Kita akan lebih dulu diremat jadi bubur sebelum dibuang ke kolam buaya" tambah Kaivan.