
Siapapun ayah Xavier, rasa sayangku pada anak ini tidak akan berkurang sedikit pun. Hanya saja, pikiranku beralih pada Matteo. Bagaimana jika adiknya ini tidak bisa menjadi donor untuk kakaknya?
"La..lalu Teo? Bagaimana dengan dia?" tanyaku ragu-ragu.
Tiba-tiba ekspresi Deva berubah datar. Senyum di wajahnya menghilang. Sebuah firasat buruk menghantuiku.
"Apa yang terjadi? Dimana Teo sekarang?"
"Kyla.. soal itu.."
"Kenapa Deva? Katakan padaku"
"Teo.." lelaki di hadapanku menelan ludahnya, nampaknya dia sedang kebingungan merangkai kata-kata. Bibirnya bergetar tapi tak ada satu suara pun keluar.
"Deva!" aku menaikkan volume suara, tidak sabar mendengar jawabannya.
"Operasinya telah dijalankan" jelasnya singkat.
Operasi? Teo menjalani operasi? Berarti dia telah mendapatkan donor. Tapi siapa yang menjadi donor untuk Teo?
Pandanganku beralih ke makhluk kecil di dalam gendonganku.
Apakah anak ini? Xavier bisa menjadi donor untuk Teo? Berarti ayah Xavier adalah...
"Xavier, anak ini yang menjadi donornya?" tanyaku pada Deva.
"Iya. Xavier Alromano Baird. Teo bisa menjalani operasi karena bayi kecil ini"
"Tapi tadi.. kau bilang.. kau yang memberi Xavier nama"
"Iya, memang kenapa?"
"Lalu, ayahnya?"
Deva tampak berpikir sebentar mencerna perkataanku, sebelum akhirnya ledakan tawa keluar dari mulutnya, "Jadi tadi kau pikir aku adalah ayahnya? Bukan Kyla. Xavier adalah anakmu dan Kaivan. Hanya saja, Kaivan mengijinkanku memberinya nama. Hei kau lupa, aku kan ayah baptisnya. Setidaknya itu yang bisa kalian hadiahkan untukku"
"Kau tadi juga bilang hidungnya mirip denganmu!" ucapku kesal.
Tawanya bertambah keras, "Memang iya kan? Coba kau bandingkan hidung Xavier dan ayahnya, beda jauh. Hidung ayahnya sedikit mancung ke dalam"
Aku menghembuskan nafas lega. Rasanya beban berat di pundakku lepas seketika. Semua berjalan seperti yang aku harapakan.
"Berarti, Teo sudah baik-baik saja kan sekarang?"
Tawa Deva berhenti, ekspresinya kembali datar. Senyum di wajahnya menghilang.
Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Sebaiknya, kau dengar saja sendiri nanti dari Kaivan" hanya itu yang keluar dari mulut Deva.
Aku baru saja selesai menjalani pemeriksaan ketika Kaivan tiba di kamar tempatku dirawat. Mengerti akan situasi, Deva dan Evellyn memberikan waktu untukku dan Kaivan berbicara empat mata.
"Terimakasih.. terimakasih sudah bertahan dan kembali untukku Stella" Kaivan masih mendekapku erat dalam pelukannya. Ada sedikit serak di nada suaranya. Mungkinkah dia menahan tangis?
Aku menepuk pelan bahunya, "Aku di sini. Aku tidak akan pergi kemana-mana. Tapi Kaivan, kau memelukku begitu erat, aku sulit bernafas"
Sadar dengan apa yang sudah dia lakukan, lengannya segera lepas dari tubuhku, "Maaf.. apa aku menyakitimu? Apa perlu aku panggil dokter lagi?"
Aku tersenyum dan menggeleng, "Tidak perlu. Kau dengar sendiri kan tadi dokter bilang kondisiku baik. Tinggal menjalani masa pemulihan"
Dia mengembuskan nafas kasar, "Kau sungguh membuatku khawatir. Aku belum pernah merasa sangat ketakutan seperti ini sebelumnya"
"Maka dari itu kau menangis berhari-hari, menolak makan, tidak mau pergi dari sebentar saja?"
"Pasti Deva yang menceritakannya." lelaki itu mendengus.
Aku menangkup wajah Kaivan, memandanginya lekat-lekat. Dia sedikit berantakan. Ada kantong hitam di bawah matanya. Rambut-rambut halus juga mulai terlihat membentuk kumis tipis di bawah hidungnya. "Kau belum bercukur?"
"Mana aku sempat. Lagi pula kalau dipikir-pikir, aku lebih tampan seperti ini kan? Sudah terlihat seperti bapak-bapak beranak dua belum?" Di saat seperti ini, dia masih saja bisa bercanda.
"Dasar kau ini" aku mencubit perutnya.
"Aaw, sakit sayang" dia mengusap-usap bekas cubitanku di perutnya. Tapi tiba-tiba, bola matanya sembab, dia berusaha sekuat mungkin menahan air mata di pelupuk matanya.
"Kau menangis?" tanyaku kemudian.
Dia menoleh ke samping, menyeka kedua mata dengan tangannya.
"Hei kau kenapa?" aku menarik wajahnya menghadapku.
Kaivan menunduk, "Tidak apa-apa. Aku hanya bahagia."
"Bahagia?"
Lelaki itu mengangguk, "Bercanda kecil seperti itu tadi, suaramu memarahiku, tanganmu yang mencubiti perutku ketika aku usil, aku sangat merindukan semua itu Stella. Aku bersyukur, aku diberi kesempatan merasakannya lagi"
Aku tersenyum, menarik wajah lelaki itu mendekat dan mencuri satu kecupan dari bibirnya, "Aku juga bersyukur, diberi waktu sekali lagi untuk bertemu denganmu, mengantarkan Xavier ke dunia dan.." tiba-tiba ingatanku kembali pada Teo. "Ah, benar, aku baru ingat. Deva bilang Teo sudah menjalani operasi"
Ekpresi di wajah Kaivan berubah.
"Anak itu baik-baik saja kan? Dimana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya"
Kaivan terdiam.
"Kaivan!" aku memanggil namanya.
Lelaki di hadapanku menarik nafas dalam sebelum berkata, "Baik. Aku akan mengantarkanmu bertemu Teo"