Sprezzatura

Sprezzatura
Janji dalam Dekapan



"Kau.. Stella?" mata Evellyn membulat sempurna.


Stella? Hanya Kaivan yang memanggilku dengan nama itu.


"Dari mana kau tahu namaku?"


Wanita itu memalingkan mukanya. Tangganya masih sibuk menimbang-nimang Teo dalam gendongannya. Pandanganku turun ke arah makhluk kecil itu. Untuk pertama kalinya aku melihat Teo setelah matanya terbuka. Dia terlihat begitu nyaman melingkarkan tangannya di leher wanita itu.


"Bagaimana aku bisa melupakan namamu. Kau yang selalu Kaivan sebut dalam tidurnya."


Rahangku mengeras. Tangganku mengepal keras begitu nama lelakiku terlepas dari mulutnya.


"Kembalikan Teo padaku" Tanganku terulur kedepan, meminta makhluk mungil yang sekarang menatapku penuh tanya. "Teo sayang, ini Mama. Ikut Mama ya.. sini" aku menyuguhkan raut muka semanis mungkin dan tutur kata selembut yang aku bisa untuk merayu bayi kecil itu, namun dia tidak bergeming sedikitpun. Mungkin dia masih merasa asing dengan kehadiranku.


Wanita itu merengkuh bayiku posesif, "Tidak, Teo anakku."


Gigiku bergemeretak. Berani-beraninya wanita itu mengaku Teo sebagai anaknya.


"Dia anakku. Berikan padaku!" tanpa sadar aku menaikkan volume suara dan membentaknya.


"Tidak!" wanita itu tetap mempertahankannya.


"Berikan" aku mengambil paksa Teo dalam dekapannya, namum wanita itu tetap bersikeras. Pertikaian kami membuat si bayi kecil merasa takut. Ekpresinya berubah sebelum akhirnya tangisnya pecah.


"Huaaaahuaaahuaaa"


"Ada apa ini?" suara yang tiba-tiba menginterupsi pertikaian kami membuatku kaget dan berbalik, sementara Evellyn langsung berpindah ke samping wanita tua itu. Evellyn mencoba menenangkan Teo, hingga suara tangisnya sedikit demi sedikit mereda.


Kaivan muncul sesaat setelah wanita tua itu membelalakkan matanya tidak suka ke arahku. "Evellyn? Apa yang kau lakukan di sini?" ada nada tidak suka dari suara berat Kaivan.


"Apa yang salah jika calon istrimu datang ke rumah ini" wanita tua itu yang menjawab.


Kaivan nampak menelan ludahnya, ekor matanya memindai was-was ke arahku.


"Aku sudah menikah. Istri sah ku berdiri di sampingku" jawabnya tenang.


Wanita tua itu menyeringai, "Selama pernikahan itu belum tercatat secara legal, dia tidak punya hak apa-apa disampingmu Kaivan."


Api amarah menggeleyar keluar dari manik mata Kaivan. Bibirnya bergetar menahan emosi di dadanya. Urat-urat lengannya terlihat mengeras bersama dengan kepalan kedua tangannya.


"Pernikahanmu dan Evellyn akan tetap dilaksanakan seperti rencana semula" ucap tegas wanita angkuh itu memberi perintah. "Sampai hari pernikahan tiba, Evellyn akan tinggal di sini"


"Tidak bisa" suara Kaivan tidak kalah tegas.


"Lakukan atau Teo akan ikut denganku" sebuah ultimatum yang sukses membungkam semua mulut di rumah ini.


"Jangan macam-macam Kaivan. Jika aku tau kau bertindak gegabah, kau tau kan apa yang bisa aku lakukan pada anakmu" tambah wanita bernama Margareth itu sebelum dia berbalik dan beranjak pergi.


***


Aku mendengus tidak suka. Apalagi melihat Teo menempel pada wanita yang beberapa saat lalu mengaku sebagai calon istri Kaivan. Evellyn tidak mengijinkanku menyentuh Teo sedikitpun. Dan yang lebih menyakitkan, Teo selalu menangis ketika aku merebut paksa dirinya dari si ular itu. Setiap kali dia sudah berada dalam gendonganku, tangannya terulur menggapai-gapai Evellyn.


"Huuuhuaaa... maaaa... huaaahua... maaaa..." aku sudah mencoba berbagai cara tapi suara tangis Teo tidak kunjung reda.


"Berikan dia padaku" Evellyn memaksa.


"Tidak"


"Kau tidak lihat bagaimana dia meraung-raung menginginkan aku"


"Tapi aku ibunya"


"Ibu? Kau bahkan tidak bisa mendiamkannya. Kau menyebut dirimu ibu?"


"Kalau kau masih mengaku ibunya, berikan padaku. Atau tenggorokannya akan sakit karena terus menerus menangis."


Aku menarik nafas panjang. Suara Teo semakin memekakkan telinga, membuat naluri keibuanku tersayat tidak tega. Akhirnya dengan berat hati, aku menyerahkan anakku ke dalam dekapan wanita itu.


"Ssssshhhhh.... baby, Mommy di sini sayang"


Mataku membelalak. Sungguh tidak ada kerelaan sedikitpun mendengar panggilan Mommy keluar dari mulutnya. Namun tidak ada yang bisa aku perbuat. Setelah beberapa saat berada dalam gendongan wanita itu, tangis Teo perlahan mereda. Bayi itu terlihat lebih tenang. Dengan lihai wanita ular itu mengembalikan lagi senyum kecil yang belum pernah aku dapatkan. Kenapa mereka bisa jadi sedekat ini?


Ada rasa sesak yang seolah merebut semua persedian oksigen di dalam dadaku. Sakit sekali. Tidak ingin melihat pemandangan ini lebih jauh, aku berbalik dan berjalan pergi.


"Stella..." pandangan Kaivan terangkat melihatku berdiri di depan meja kerjanya.


"Wanita ular itu, sampai kapan dia akan tinggal di sini?"


Kai meletakkan dokumen-dokumen di tangannya. Dia berdiri dan mendekat ke arahku.


"Soal itu.. Bersabarlah sedikit Stella. Aku sedang menyiapkan rencana"


"Ini rumahmu. Kau bisa kan menyuruhnya pergi dari sini"


Kaivan menghirup nafas dalam-dalam, kedua tangannya diletakkan di pundakku, "Stella... kau tau wanita tua yang baru saja datang itu adalah istri ayahku bukan? Meskipun aku pewaris sah keluarga Baird, namun dia juga memegang kuasa atas sebagian harta dan kekuasaan ayahku. Dia membutuhkanku sebagaimana aku membutuhkan dia. Kita sama-sama saling memanfaatkan. Dia memanfaatkanku untuk memperkuat posisinya sebagai Nyonya Baird, dan aku juga membutuhkan asosiasinya untuk eksistensiku di lingkungan ini. Aku tidak bisa bertindak sesukaku hanya karena ini rumahku. Jadi aku mohon, mengertilah sebentar."


"Tapi aku tidak su-".


"Teo.." dia menginterupsiku, "Sebelum kau menyerahkan anak itu ke Panti Asuhan, apa kau menandatangani sesuatu?"


Aku mengingat-ingat. Memoriku terbang ke masa lalu, mengobrak-abrik kenangan yang sudah aku pendam dalam-dalam.


"Sepertinya iya. Mereka bilang itu sudah prosedurnya"


"Yang kau tanda tangani itu adalah peralihan hak asuh Teo. Jadi sekarang kau dan aku sama-sama tidak mempunyai hak hukum yang cukup kuat untuk mengklaim anak itu."


Mulutku menganga. "Lalu?"


"Hak atas Teo sekarang ada pada wanita tua itu, Margareth."


"Bagaimana bisa?" mataku hampir berkaca-kaca.


"Ini semua konspirasi licik wanita tua itu sejak awal, Stella. Dia memisahkanku darimu, memisahkan kau dan Teo, membuat anak itu hidup serba kekurangan dan akhirnya jatuh sakit seperti saat ini."


Kaivan menjeda sebentar kalimatnya, "Dia memaksaku menikah dengan Evellyn supaya dia bisa lebih leluasa mengaturku. Jika aku tidak mau, dia bisa melakukan hal buruk pada Teo. Tapi kau tenang saja, pernikahan itu tidak akan terjadi. Aku sedang mempersiapkan sebuah rencana. Aku hanya minta kau bersabar sebentar, bertahanlah sedikit lagi, ya? "


Kaivan menunduk dan merutuki dirinya sendiri, "Maafkan aku. Aku membuatmu harus terlibat semua kekacauan ini"


Hal itu membuat hatiku melunak. Aku meraih kedua tangannya dan berkata, "Aku yang minta maaf. Aku tidak tahu apa-apa."


Wajah Kaivan terangkat, dia menangkup kedua pipiku dan tersenyum manis, "Terimakasih. Kau sudah mau mengerti"


Aku menabrakkan tubuhku ke dada bidangnya, merangkul pinggangnya dan menariknya ke dalam pelukanku, "Jika kau butuh tempat untuk bersandar, aku akan selalu ada untukmu. Meskipun tubuhku yang kecil ini tak akan bisa menopang tubuh beruangmu itu"


Kaivan tertawa kecil.


"Ah, tentang Evellyn.. Kenapa dia bisa sangat dekat dengan Teo?" Pertanyaanku refleks membuat sudut bibir lelaki itu bergerak turun.


"Dia termasuk dalam anggota tim dokter yang merawat Teo. Dia sudah bersama Teo sejak anak itu dibawa ke Italy. Mungkin karena Evellyn satu-satunya dokter perempuan di sekitarnya, Teo merasa lebih nyaman."


"Tapi wanita itu menyuruh Teo memanggilnya Mommy"


Kaivan menghadap ke arahku, menarik kepalaku dan meletakkannya di ceruk lehernya. "Tetap saja, kau ibu kandungnya, yang melahirkannya, darahmu mengalir di tubuhnya. Itu yang tidak bisa ditukar oleh apapun Stella. Ini semua hanyalah masalah waktu. Tetaplah berusaha, aku yakin ikatan batin kalian berdua lebih kuat dari apapun." Kalimatnya diselesaikan dengan satu ciuman di atas kepalaku.


Benarkah? Apa aku bisa?