
Sadeva POV
Aku selalu takut dengan perubahan. Karena semua hal buruk yang terjadi pada ku selalu diawali dengan perubahan. Contohnya Clara. Dia berubah, dari gadis manis yang selalu menempel di lenganku menjadi gadis yang sibuk dengan ponselnya sendiri. Dia yang selalu datang tepat waktu menjadi sering terlambat. Dia yang selalu cerewet menjadi pendiam. Begitulah awalnya, detik-detik di saat hatinya perlahan menjauh dariku. Hingga akhirnya aku tahu, ada lelaki lain di hidupnya.
Clara adalah patah hati terbesarku. Dulu aku pernah begitu mencintainya, begitu memujanya dan begitu mengaguminya. Aku kira hidupku tak akan bisa berfungsi tanpa kehadirannya. Ketika dia pergi waktu terasa berhenti, langit terasa runtuh, dan hari tak lagi seindah biasanya. Namun pada suatu hari Kyla datang, mengajarkanku bahwa perubahan itu bukanlah hal yang perlu ditakuti.
"Apa ini?" tanyaku suatu hari pada Kyla.
"Buku"
"Untuk apa? "
"Kau pikir buku itu untuk apa?"
"Kau menyuruh aku membacanya? Ayolah Kyla, kau tau kumpulan kertas ini hanya akan membuatku tertidur"
"Coba saja dulu."
Aku menerima satu bendel kertas yang dijilid rapi menjadi satu, sampulnya sudah usang. Ada beberapa lipatan dikertasnya. Kalimat-kalimat pentingnya distabilo dengan warna kuning. Tipikal Kyla sekali.
Ovidius, itu nama pengarangnya. Hidup empat puluh tiga tahun sebelum tahun masehi ditemukan. Seorang bangsawan yang memilih menjadi penyair, menciptakan karya-karya yang mengkritisi perubahan dan batas-batas kebiasaan pada masanya. Dia hidup di jaman peralihan. Ketika Romawi berubah dari Replublik menjadi Kekaisaran. Ketika Kaisar Agustus menyudahi perang saudara yang berkepanjangan dan menciptakan tatanan baru kota Roma.
Sebuah tulisan 'Methamorphoses' tertulis di sampulnya. Sesuai dengan judulnya, karya yang berupa kumpulan puisi-puisi sangat panjang ini mengisahkan banyak cerita pendek mengenai perubahan-perubahan di dunia. Mulai dari penciptaan hingga kematian Julius Caesar, kisah Daidalos dan Ikaros dalam mitologi Yunani Kuno, Gaia yang berubah melahirkan para dewa, Aktaion berubah menjadi rusa, Medusa berubah menjadi monster, Philamon dan Baukis menjadi pohon, Arakhne berubah menjadi laba-laba, dan tentu saja perubahan paling besar pada jaman itu, Octavianus Agustus dan Kekaisaran Romawi. Mungkin yang ingin disampaikan Ovidius melalui buku ini adalah perubahan itu selalu terjadi dan menimpa segala sesuatu.
Sejak saat itu pemikiranku berubah. Aku bisa menerima bahwa perubahan itu adalah hal yang pasti. Semua akan berubah, termasuk perasaan. Dan benar saja, aku yang menyangka tak ada gadis lain yang bisa menggantikan Clara di hatiku lambat laun menerima kenyataan bahwa waktu akan menyembuhkan segalanya. Kehadiran Kyla membuatku lupa pernah ada wanita yang aku tangisi dalam diam. Kyla memberikan warna baru, harapan baru, lembaran baru, tempat aku meniti harapan dan masa depan.
Namun ternyata Kyla juga berubah. Aku sadar akan hal itu beberapa minggu belakangan ini. Dia yang menghindar ketika aku cium, dia yang mengalihkan pembicaraan ketika kita membahas pernikahan, dan dia yang sering menghilang dan muncul tiba-tiba entah dari mana. Memang ada rasa curiga, namun sebisa mungkin aku mengacuhkannya. Pernikahan kita tinggal di depan mata. Jangan sampai ada hal-hal kecil yang menjadi batu sandungan. Apapun itu masalahnya, kita akan membicarakannya nanti. Setelah acara pernikahan, setelah dia resmi menjadi istriku, setelah dia terikat sepenuhnya dan tidak bisa meninggalkanku.
Mungkin aku terlalu percaya diri menganggap perubahan ini hal kecil yang akan membaik seiring berjalannya waktu. Tapi ternyata bukan. Seperti perubahan yang dibawa Kaisar Agustus terhadap Roma, yang merubah segala tatanan kehidupan dan peradaban sejarah, perubahan yang terjadi pada Kyla juga awal dari sebuah perubahan besar. Perubahan besar yang mungkin akan merengut Kyla dari sisiku.
Dan titik awal perubahan itu sekarang berdiri di hadapanku. Sedikit membungkukkan badannya sambil mencuri satu ciuman dari gadis yang kini masih meringkuk di balik selimutnya.
"Tuan Baird.."
Aku mematung di depan pintu.