Sprezzatura

Sprezzatura
Oh My Baby



"Jadi, kapan aku bisa bertemu Teo?" tanyaku sambil mengancingkan kemeja biru bermotif abstrak edisi musim semi keluaran H&M ini. Ya, kita baru saja bercinta. Di sofa hitam salah satu ruang di rumahnya.


Kaivan membenarkan celananya, menarik resletingnya ke atas. "Secepatnya"


"Ck, selalu saja itu jawabanmu. Bahkan aku tidak tahu apa Teo benar-benar ada bersamamu"


"Jadi kau tidak percaya?"


"Tidak. Sebelum aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."


Kaivan melirik jam di pergelangan tangannya dan bergumam pada dirinya sendiri, "Seharusnya mereka sudah sampai."


"Siapa?"


"Orang-orang yang mengantar Teo"


Teo? Baru saja Kaivan menyebut Teo?


"Teo? Dia ke sini?" tanyaku tidak sabar.


Belum juga Kaivan menjawab, Tuan Martinelli muncul dari balik pintu. Shit, kenapa lupa mengunci pintu. Untung kegiatanku dan Kaivan sudah selesai.


"Maaf Tuan, mereka sudah sampai" ucap Tuan Martinelli setelah membungkukkan badannya memberi hormat.


Aku mengernyit meminta kepastian dari Kaivan siapa yang dimaksud dengan 'mereka'


Kaivan yang paham dengan maksudku pun berkata, "Kau bilang ingin bertemu Teo?"


Tidak salah lagi, 'mereka' yang dimaksud Tuan Martinelli pastilah Teo dan orang-orang yang mengantarkannya. Sudut bibirku tertarik ke atas membayangkan akan bertemu lagi dengan jagoan kecil itu. Seperti apakah dia sekarang? Seberapakah tingginya? Masihkah dia memiliki senyum merekah itu? Ah, rasanya sungguh tidak sabar melihatnya lagi.


Tanpa memperdulikan dua orang lelaki di ruangan ini, aku berlari keluar. Satu demi satu anak tangga aku lewati hingga akhirnya aku tiba di lantai bawah.


Bruk.


Terlalu bersemangat, aku menubruk sesosok tubuh berjas hitam.


"Kyla?"


Aku mendongak ke atas. "Deva?"


Sadeva? Kenapa dia bisa ada di sini?


"Kamu kok bisa di sini?" Deva mengerutkan dahinya bingung mendapati keberadaanku di rumah Tuan Muda Baird.


"Ah, Tuan Baird" lelaki yang berdiri di samping Deva membungkuk memberi hormat kepada Kaivan yang sedang menuruni tangga. Hal itu membuat Deva menunda perbincangan kita dan ikut membungkuk memberi salam.


Ketika mereka membungkuk, beberapa orang berseragam rumah sakit di belakang mereka ikut membungkuk. Di tengah-tengah mereka terdapat sebuah strecther dengan seorang anak laki-laki tertidur di atasnya. Itu Teo. Meskpiun anak itu telah banyak berubah aku tetap masih bisa mengenalinya. Ya, tidak salah lagi. Itu pasti Teo. Apa yang terjadi dengan Teo? Kenapa dia tertidur di situ?


"Kamar Teo sudah di siapkan. Kalian bisa membawanya ke sana." perintah Kaivan kepada rombongan itu.


"Kyla, bisa kau antar mereka ke kamar yang aku minta kau siapkan tadi?" kini perintah itu ditujukan kepadaku.


Hanya ada satu kamar yang Kaivan minta untuk didekorasi hari ini, yaitu tempat dimana kita baru saja bercinta.


"Baik Tuan" ucapku sebelum mempersilahkan rombongan itu mengikutiku.


Sambil berjalan menuju kamar itu, Deva mengimbangi langkah kakiku dan berbisik lirih, "Jadi client yang meminta kamu menjadi interior disigner di rumah barunya itu bos besar?"


"Wuaahh.. bos besar memang punya selera yang bagus. Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?


"Kau tau sendiri kan bagaimana aturan perusahaan. Kau sendiri tidak menceritakan kalau bos besar mengundangmu ke rumahnya" makin lama aku makin pandai berkilah.


"Aku hanya mengantar Teo dari rumah sakit"


"Teo?" mendengar nama itu diucapkan, atensiku sepenuhnya terpusat pada Deva. Dia mengenal Teo? Sejak kapan? Bagaimana bisa?


Tapi sebelum aku bertanya lebih jauh, kita sudah sampai di depan pintu kamar yang sebentar lagi menjadi milik Teo. "Kita sudah sampai." ucapku membukakan pintu. Orang-orang berseragam rumah sakit itupun segera masuk, menidurkan Teo di ranjang dan memasangkan berbagai alat di tubuhnya, aku mendekat ke Sadeva.


"Siapa anak itu?" tanyaku memulai interogasi.


Sadeva menegok sekeliling. Setelah memastikan tidak ada yang mendengar, dia berbisik "Anak Tuan Muda. Sepertinya hasil hubungan gelap di luar pernikahan. Setahuku Tuan Muda belum menikah, tapi coba lihat, tiba-tiba saja dia memiliki anak."


Aku menelan ludah. Enak saja Deva mengatakan anakku hasil hubungan gelap di luar pernikahan. Ya, memang Teo hadir karena tindakan impulsif kedua orang tuanya yang terbakar api gairah. Tapi bagaimanapun aku dan Kaivan pernah menikah, meski hanya menukar janji di depan altar, bukan di atas kertas.


"Kenapa dia tertidur seperti itu? Apa yang terjadi?" tanyaku selanjutnya.


"Dia hanya sedang dalam pengaruh obat. Aku pernah menceritakan padamu kan tentang penelitian yang sedang timku lakukan. Itu untuk kesembuhan Teo.


"Kesembuhan?"


Deva mengangguk, "Anak malang ini memiliki ketahanan tubuh yang sangat rapuh. Antibodinya tidak berkembang secara sempurna. Mungkin karena malnutrisi dan paparan lingkungan yang buruk. Ada kemungkinan juga dia tidak mendapat cukup asi sejak bayi. Jadi jika terkena penyakit sedikit saja, akan berakibat buruk baginya."


Pandanganku mengabur. Tapi sebisa mungkin aku menahan agar air mata aku tidak menetes turun. Teo.. anak malang ini.. kenapa dia harus melalui penderitaan semacam ini. Ketika anak-anak seusianya tertawa ceria berkejaran kesana-kemari, anak ini harus tergeletak di atas tempat tidur dengan berbagai selang di tubuhnya. Aku benar-benar tidak pantas menjadi seorang ibu.


"Bagaimana keadaan Teo?" Kaivan memulai pembicaraan setelah mempersilahkan Deva dan seorang lelaki berumur kurang lebih lima puluh tahun duduk di sofa. Oh tidak.. sofa hitam itu.. aku dan Kaivan baru saja bercinta di atasnya. Dan sekarang tunanganku duduk di atasnya.


"Masih sulit" jawab lelaki berambut putih yang tidak lain adalah seorang dokter. "Tim dokter dan tim farmasi sudah mencoba sebaik mungkin, tapi pemberian obat untuk sementara ini hanyalah tindakan represif. Hal itu tidak benar-benar menyembuhkan Tuan Muda Teo. Selain itu, pemberian obat dalam jangka panjang juga memiliki efek buruk nantinya"


"Lalu apa solusi kalian?"


Kali ini Deva yang menjawab, "Pencangkokan sumsum tulang untuk memperbaiki produktivitas antibodinya. Itu masih menjadi solusi terbaik dari kami."


"Aku sudah menyerahkan sample sumsung tulangku, kalian bilang tidak cocok. Aku juga sudah menyerahkan sample sumsum tulang ibunya, kalian bilang juga tidak cocok."


Kapan aku melakukan tes kecocokan sumsum tulang? Bagaimana Kaivan bisa memperoleh sampel sumsum tulangku? Apa jangan-jangan waktu aku tertidur sampai pagi di ranjangnya waktu itu? Tidak salah lagi, malam itu pasti dia memberiku obat. Bagaimana bisa aku terlelap begitu saja dan tidak ingat apapun pagi harinya jika bukan karena obat.


"Maaf Tuan Baird, jika ada pendonor yang lain, misalnya..." lelaki beruban itu sungkan untuk melanjutkan kata-katanya.


"Adiknya?" Kaivan menyambung kalimatnya.


Kedua lelaki itu menunduk, tidak berani menatap bos besar di hadapan mereka.


"Maaf Tuan Baird, kami tidak bermaksud-"


"Aku sedang mengusahakannya. Adik untuk Teo. Kalian bilang donor sumsum tulang bisa diambilkan dari tali pusar bayi sedarah yang baru lahir. Sampai adik Teo lahir, usahakan semaksimal mungkin untuk kesembuhan Teo."


"Baik Tuan. Kami mengerti.


Sebentar.. Sepertinya terlalu banyak informasi yang kini teraduk-aduk di dalam pikiranku. Teo sakit? Pencangkokan sumsum tulang? Adik untuk Teo? Jadi, inikah alasan Kaivan menginginkan aku melahirkan pewaris kedua keluarga Baird?