Sprezzatura

Sprezzatura
Daddy's Day



Broot..broot...


 


Ada bau aneh menyelimuti ruangan.


 


"Hei, kau buang angin ya?" Jari Kaivan menunjuk Deva.


 


"Enak saja. Bukannya kau" Deva mengelak, satu tangannya dia gunakan untuk mengipasi hidung, membuang jauh-jauh aroma tidak sedap itu agar tidak terdeteksi indera penciumannya.


 


"Jangan-jangan...."


 


"Teo?" timpal Deva.


 


Mereka buru-buru mencari dari mana aroma itu datang. Ketika Deva memutar tubuhnya, dia menemukan pintu lemari pakaian Kyla sedikit terbuka. Ditariknya pintu itu lebar-lebar hanya untuk mendapati seorang bayi terduduk di antara lipatan koleksi baju-baju mahal ibunya.


 


"Oh tidak" Deva mengangkat Teo dari dalam lemari, "Teo buang air besar lagi"


 


"Oh tidak" teriak Kaivan menyadari sesuatu hal, "Teo buang air besar di tumpukkan baju-baju kesayangan ibunya. Bagaimana ini?"


 


"Sebelum Kyla tau, sebaiknya kita lenyapkan barang buktinya"


 


"Bagaimana kalau Kyla tanya dimana pakaiannya?"


 


"Jawab saja tidak tau"


 


"Ide bagus, cepat cari kantong plastik di laci"


 


Deva membalikkan badannya, namun sebelum dia melangkah maju, pemandangan di depannya membuatnya berteriak sekali lagi, "Teo.. jangan!"


 


 


"Bagaimana ini?" keluh Deva kehilangan akal.


 


"Tidak ada jalan lain. Kita terima saja jadi santapan buaya"


 


"Aku masih ingin hidup."


 


"Aku juga. Tapi sebelumnya, bersihkan dulu pantat Teo."


 


Deva mendengus.


 


"Tidak usah protes. Itu kan bagianmu" perintah Kaivan.


 


Dengan malas, Deva mengambil baju Kyla yang beberapa saat lalu terkena kotoran Teo.


 


"Hei, kenapa kau gunakan baju Kyla?" cegah Kaivan.


 


"Tissue terlalu kecil. Lagi pula baju ini sudah dikotori Teo, jadi sekalian saja."


 


***


 


 


Setengah hari berlalu, dua orang yang mengaku sebagai ayah itu pun tersungkur kelelahan karena mengurus Teo tanpa bantuan satu pelayanpun. Teo sangat aktif sekali, bayi kecil itu tidak berhenti membuat keduanya menguras energi. Pantas saja baik Kyla maupun Evellyn sering marah jika Kaivan ataupun Deva hanya bermalas-malasan sementara mereka sibuk merawat Teo. Belum lagi dengan kondisi mereka yang tengah hamil. Memang banyak pelayan yang bisa membantu, tapi dua wanita itu tidak ingin terlalu banyak melibatkan pelayan dalam hal mengurus anak. Mereka ingin Teo bisa lebih dekat ke orang tuanya daripada ke pelayan. Kini, dua lelaki itu baru tau bagaimana rasanya merawat anak kecil.


 


"Ah, lelah sekali" tubuh Deva ambruk di sofa. Diikuti Kaivan yang malah merebahkan kepalanya di pangkuan Deva.


 


Untung Teo sudah cukup lelah. Dia tertidur di dalam cardboard baby box bergambar beruang sambil memeluk mobil-mobilan kesayangannya. Kakinya sedikit diikat dengan tali kain yang disambungkan ke pergelangan tangan sang ayah, mengantisipasi jika si kecil itu tiba-tiba terbangun dan mulai merayap kemana-mana. Pintar sekali para bapak-bapak ini, menggunakan cara yang jitu agar si kecil tetap aman terkendali.