Sprezzatura

Sprezzatura
The Baby is Born 1



-Kaivan-


 


 


Jika ada yang bertanya siapa makhluk terkuat di muka bumi ini, maka aku akan menjawab wanita. Gunung yang tinggi, samudra yang luas, matahari yang terang, dan Gladiator yang gagah perkasa, semua tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan seorang wanita.


 


Memasuki usia kehamilan  tiga puluh delapan minggu, keadaan Stella semakin berat. Setiap malam dia mengalami gangguan tidur, hanya beberapa jam terlelap sebelum terbangun mencari posisi yang lebih nyaman. Punggungnya terasa pegal dan kakinya terkadang kebas. Namun wanita luar biasa ini jarang sekali membangunkanku di tengah malam. Bahkan dia berusaha sebisa mungkin tidak bersuara saat bergerak, tidak ingin tidur pulasku terganggu karenanya.


 


Sudah beberapa kali Stella mendapatkan konstraksi palsu. Mungkin karena ini bukan kehamilan pertamanya, dia tidak begitu gegabah dan tidak pula memiliki kecemasan berlebihan. Dia bahkan terlihat lebih tenang dibandingkan aku dan Sadeva.


 


"Kau sungguh tidak apa-apa?" tanyaku sekali lagi.


 


"Lebih baik kita cek dulu ke rumah sakit" Deva menimpali.


 


"Harus aku bilang berapa kali. Ini hanya kontraksi palsu. Aku pernah hamil jadi aku tahu bagaimana rasanya jika konstraksi yang sebenarnya sudah terjadi" jelas Stella panjang lebar.


 


Aku memang pernah menemani Stella saat hamil, tapi tidak sampai usia kandungan setua ini. Jadi segalanya masih berasa baru untukku. Perkiraan dokter sekitar satu minggu lagi bayi kecil ini akan lahir. Tapi tidak menutup kemungkinan kelahiran akan terjadi lebih cepat atau bahkan lebih lambat. Aku sudah membicarakannya baik-baik dengan Deva, kita sepakat bahwa kita akan menunggu sampai anak ini lahir sebelum menjalankan tes DNA. Bukan tidak mungkin tes DNA dilakukan saat janin masih berada dalam kandungan, namun hal itu beresiko tinggi. Selain tidak di anjurkan oleh tim medis, keguguran juga bisa terjadi akibat pengambilan sample di dalam tubuh sang ibu. Baik Deva maupun aku sama-sama tidak menginginkan itu terjadi. Yang kita inginkan adalah ibu dan bayinya selamat.


 


Meskipun aku sangat berharap itu anakku, tapi aku sudah menyiapkan diri jika ternyata bukan. Memang akan ada rasa kecewa, namun memiliki Stella di sampingku itu sudah lebih dari cukup. Deva, dia lelaki yang baik. Aku harus mengakuinya. Beberapa hari belakangan ini kita sering melakukan percakapan empat mata. Terutama untuk membahas Stella dan janin diperutnya. Aku sangat berterimakasih ketika dia bilang akan melepaskan Stella untukku. Untung saja saat ini Deva sudah memiliki Evellyn dan calon bayi di perutnya. Jadi aku tidak begitu merasa bersalah ataupun membuatnya terlihat terlalu menyedihkan.


 


"Tapi awas saja, kalau sampai membuat Kyla menangis atau menelantarkannya sekali lagi, tidak peduli kau anak perdana menteri-pun akan aku buat perhitungan yang setimpal" ancam Deva kepadaku.


 


 


"Baik. Akan aku pegang kata-katamu."


 


"Oh ya, bagaimana kabar Evellyn. Kyla bilang dia masih sering mual-mual?"


 


Deva mendengus, "Bahkan sekedar mengisi perutnya sesuap dua suap sangat sulit. Pasti dimuntahkan lagi. Tapi untuk saat ini masih bisa diakali dengan pemberian vitamin dan asupan tambahan"


 


"Sewaktu hamil Teo, Kyla dulu juga begitu. Tapi tenang saja, hal seperti itu akan hilang dengan sendirinya"


 


"Kau terdengar sangat berpengalaman sekali"


 


"Tentu saja. Tapi mengurus wanita hamil tua, ini adalah pengalaman pertamaku"


 


"Apa semakin sulit?"


 


"Bukan. Hanya saja semakin... memilukan"


 


Sakitnya seperti datang bulan, hanya saja berkali-kali lipat lebih sakit. Itu yang dijelaskan Stella saat dia merasakan kontraksi yang semakin sering terjadi. Aku sama sekali tidak memahami seberapa sakit kah 'berkali-kali lipat seperti datang bulan' itu, tapi yang pasti sangat sakit sekali. Mungkin aku sebagai laki-laki tidak akan pernah bisa membayangkannya. Deva bilang, sakitnya wanita melahirkan itu seperti sakitnya dua puluh tulang yang patah bersamaan. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya?